Tampak depan rumah keluarga Singgih Widagdo. Foto: Rumah123/Jhony Hutapea Tampak depan rumah keluarga Singgih Widagdo. Foto: Rumah123/Jhony Hutapea

Memindahkan unsur alam ke dalam rumah adalah kesan pertama yang tertangkap kalau kita mengunjungi rumah keluarga Singgih Widagdo dan Riris Widati. Rumah nyaman ini juga dihuni oleh dua putri mereka, Citta Parahita dan Cestya Parahita.

Jalan-jalan dan naik gunung yang jadi hobi pasutri ini mendukung interior dan eksterior hunian mereka yang bernuansa etnik dan berkonsep ramah lingkungan. Unsur kayu, bambu, dan batu, banyak hadir pada tatanan interior dan eksterior rumah yang berlokasi di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, ini.

Di halaman depan rumah, ada empat pohon pinus dari Tawangmangu yang ditanam sendiri. Pohon-pohon tinggi di depan rumah ini pun dimanfaatkan untuk menahan teriknya cahaya matahari yang menerobos ke dalam rumah.

Batu kali yang besar-besar yang sengaja diangkut dari sungai aslinya bertengger di atas rumput gajah yang asri terawat. Batu bata ekspos di sebagian besar dinding-dinding rumah sengaja diangkut dari kaki Gunung Salak, Salatiga, Jawa Tengah. Ratusan bambu penunjang interior rumah ini diangkut dari Kopeng di Kaki Gunung Merbabu, Salatiga.

Baca juga: Kesan Asri dan Alami pada Sebuah Hunian Kota Besar

Ada barisan patung gajah di taman antara ruang keluarga dan teras belakang. Patung gajahnya sendiri dari Ubud, Bali. Di ruang keluarga ada pahatan sehelai daun besar dari kayu jati, sebuah hasil karya seni dari Muntilan, Jawa Tengah.

Pendek kata, hobi jalan-jalan dan naik gunung sang pemilik rumah tercermin dalam tataan rumah mereka. Riris mengatakan, rumahnya adalah rumah tumbuh.

Grand design-nya sudah ada sejak awal, tapi membangunnya bertahap,” katanya pada rumah123.com saat mengunjungi rumahnya, Senin (17/10).

Awalnya, lahan rumahnya seluas satu kavling, yakni 108 m2 (6 m x 18 m). Setelah beberapa lama, lahannya bertambah sehingga total menjadi empat kavling atau seluas 432 meter persegi.

Seiring pertambahan lahan, luas bangunan rumahnya pun bertambah, 270 m2 di lantai bawah, berikut lantai atas menjadi 360 m2. Rumah yang diarsiteki oleh Rachmadi Nugroho ini terdiri atas dua lantai.

Baca juga: Ingin Rumah Bercahaya? Atur Dong... Gayanya!

Lantai bawah terdiri atas teras depan, garasi, ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur, ruang tidur, kamar mandi, teras belakang. Sedangkan Lantai atas terdiri atas ruang tidur utama, ruang tidur anak, ruang kerja, perpustakaan, ruang home theater, ruang shalat, dan teras untuk kebun tanaman hidroponik.

Pemilik rumah sudah beberapa kali panen dari berkebun hidroponik di lantai atas ini, antara lain panen bayam merah.

Tambahan bangunan yang terakhir adalah teras belakang yang dijadikannya teras beratap. Ruang rumahnya pun jadi bertambah lapang dan luas.

“Saya ingin rumah yang homey bagi semua kalangan: bawah, menengah, atas. Siapa pun kalangan yang datang ke sini kami inginnya jadi kerasan,” kata Riris yang rumahnya kerap dikunjungi sanak-saudara dan teman-temannya untuk silaturahim ini.

Baca juga: Gaya Tropis Modern yang Irit dan "Homey" di Depok

Teras belakang boleh dibilang jadi tempat yang cozy dan enak untuk berlama-lama mengobrol. Ada meja gantung dari kayu yang diikat ke atap dengan tali yang dibelinya dari Pelabuhan Sunda Kelapa. Jadi benar-benar tali kapal, kuat dan tampak alamiah.

Lilitan tali yang bertumpuk yang ujungnya adalah bola lampu sebagai penerang temaram ruangan saat malam di teras ini adalah ide yang menarik. Kepala keluarga rumah ini yang merupakan karyawan PT Berau Coral di Kabupaten Tarakan, Kalimantan, berdarah seni. Tak heran ide-ide menarik dan unik kerap menghiasi dinding-dinding rumah ini.

Karena rumahnya berkonsep ramah lingkungan, maka sedapat mungkin memanfaatkan sinar matahari saat siang untuk penerangan rumah. Sedangkan taman dan pohon yang hadir di sekeliling rumah sebagai penyejuk udara sehingga AC tak perlu dihidupkan. Hal ini pastinya meminimalkan tagihan listrik.

“Di perumahan ini, rumah ini yang tagihan listriknya paling minim lho...,” kata Riris menegaskan.

Saat siang di rumah ini tak perlu ada lampu yang menyala. Jendela-jendela dengan bukaan lebar-lebar, berikut pintu-pintu kaca lebar, membiaskan cahaya matahari ke dalam rumah.

Lansekap di luar rumah menjadi pemandangan segar nan asri jika dilihat dari dalam rumah. Apalagi di taman depan pun ada kolam ikan koi yang menambah poin hunian ini.

Bagikan: 1390 kali