Corona membuat masyarakat lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Tapi siapa sangka, hal ini membuat penggunaan daya listrik rumah tangga paling tinggi!

daya listrik rumah

Tak dipungkiri, virus corona memang mengubah banyak aspek dalam kehidupan seseorang. 

Salah satu aspek terbesar adalah kebiasaan untuk berada di rumah. 

Jika dulu orang-orang bisa dengan kasual melakukan kegiatan di luar rumah, kini masyarakat lebih berhati-hati.

Apalagi sebelum new normal diberlakukan di Indonesia, pemerintah sempat mengadakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Di mana masyarakat harus melaksanakan ibadah, belajar, dan bekerja dari rumah. 

Mengingat angka korban positif Covid-19 di Indonesia masih terus bertambah, kebiasaan selama PSBB pun terus dilanjutkan hingga era new normal berlangsung. 

Lantaran masyarakat banyak berada di rumah, penggunaan daya listrik rumah tangga mengalami lonjakan

Lokadata.id Penggunaan daya listrik rumah tangga melonjak

Kebiasaan yang berubah secara masif tersebut otomatis ikut mengubah tren yang terjadi di berbagai industri. 

Salah satunya dalam tren penggunaan daya listrik di Indonesia.

Melansir dari Lokadata.id, konsumsi listrik rumah tangga mengalami peningkatan hingga 3 persen selama pandemi virus corona.

Hal ini dikemukakan oleh Dirjen Ketenagalistrikan, ESDM Rida Mulyana. 

Saat pandemi Covid-19 yang mengharuskan sebagian masyarakat bekerja di rumah, tak mempengaruhi langkah penghematan konsumsi listrik. 

“Ada peningkatan hingga 3 persen selama pandemi virus corona,” katanya. 

Baca juga: Ide Bisnis Online 2020: Jenis Barang yang Laku Keras untuk Dijual

Penggunaan daya listrik dunia industri justru menurun

Lain halnya dengan rumah tangga, pemakaian listrik untuk dunia industri justru mengalami penurunan tajam. 

Pada April 2020 sektor tersebut mencatatkan pertumbuhan minus 33,21 persen.

Karena hal ini, para pelaku industri pun meminta insentif untuk meringankan beban perusahaan di tengah pandemi virus korona. 

Dengan menghapus peraturan biaya minimum pemakaian 40 jam listrik bagi industri.

“Aturan pengenaan biaya minimum pemakaian listrik selama 40 jam itu memberatkan para pelaku industri, karena menggunakan listrik atau tidak industri tetap dikenakan aturan tersebut,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang.

Gayung bersambut, Presiden Joko Widodo telah menyetujui stimulus tersebut bagi pelaku industri. 

Walaupun penggunaan daya listrik rumah melonjak, masih ada 1,8 juta rumah tangga yang belum teraliri listrik

Penggunaan energi nasional pada tahun 2019 mencapai 234,617 Giga Watt Hour (GWh). 

Dari jumlah tersebut, konsumsi terbesar untuk kebutuhan rumah tangga yang mencapai 42 persen atau 97,832 GWh. 

Sementara seperti yang telah disebutkan di atas, terdapat kenaikan hingga 3 persen di tahun ini. 

Meski pengguna listrik terbesar adalah rumah tangga, sayangnya masih ada 1,8 juta rumah tangga belum teraliri listrik. 

Adapun wilayah terbanyak yang belum mendapat setrum justru di Jawa Timur dengan 238.687 rumah tangga. 

Angka itu jauh lebih banyak dibandingkan Papua yakni 7.670 rumah tangga dan Papua Barat 3.135 rumah tangga.

“Data tersebut masuk akal,” kata Kepala Satuan Komunikasi Korporat PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), I Made Suprateka. 

“Kenyataan yang ditemukan di lapangan memperlihatkan, masuknya jaringan listrik ke suatu desa tidak otomatis menjadikan seluruh warganya langsung bisa menikmati listrik,” tambah Made.

Baca juga: Ini Hak & Perhitungan Pesangon Korban PHK akibat Corona

Sebenarnya, penggunaan daya listrik rumah tangga masih bisa ditekan lagi

Para pengamat dan pakar energi menyatakan persentase penggunaan rumah tangga yang relatif tinggi, membuat program penghematan konsumsi energi listrik dari rumah tangga akan berdampak cukup signifikan.

Dalam penelitian yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), rumah tangga masih punya potensi menghemat listrik. 

Terutama pemakaian piranti listrik seperti alat pendingin ruangan (AC) dan kulkas.

PLN pun berharap, dengan dimulainya era new-normal konsumsi listrik di sektor industri kembali tumbuh.

Bagikan:
779 kali