kelas menengah indonesia

Ternyata masih banyak kelas menengah Indonesia yang belum memiliki rumah. Mayoritas dari mereka ternyata masih mengontrak rumah. 

Kepala rumah tangga (KRT) dengan pengeluaran lebih dari atau sama dengan Rp8 juta per bulan ternyata cukup banyak. 

Jika merujuk pada klasifikasi kelas menurut pengeluaran dari Asian Development Bank (ADB), maka mereka termasuk dalam kelas menengah atas. 

Situs berita online Lokadata.id melansir data bahwa ada 23 ribu kepala rumah tangga dengan pengeluaran Rp8 juta dan tidak memiliki rumah. 

Hampir separuh dari jumlah tersebut, angkanya mencapai 12.400 kepala rumah tangga berada di Jawa. 

Ternyata dari jumlah 12.400 tersebut, 60 persen di antaranya masih tinggal di rumah kontrakan alias status hunian adalah rumah kontrak. 

Sementara 38 persen tinggal di rumah bebas sewa dan sisanya 3 persen masih tinggal di rumah dinas. 

Hal yang sama juga terjadi di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan Papua, polanya masih sama. 

Sedangkan di Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku, memiliki pola yang berbeda (lihat tabel yang ada). 

Rata-rata yang belum memiliki rumah adalah generasi milenial yang lahir pada era 1981 hingga 1996. 

Persentase terbesar adalah kaum milenial yang tinggal di Jawa yang mencapai 80 persen dari 12.400 kepala rumah tangga yang telah diulas di atas. 

Jika melihat persentase dari jumlah ini berdasarkan provinsi maka DKI Jakarta berada di posisi teratas. 

Persentasenya adalah sebanyak 46 persen masih mengontrak dan 54 persen tinggal di rumah bebas sewa. 

Definisi mengenai rumah bebas sewa akan dijelaskan pada bagian selanjutnya dari artikel ini, simak terus lanjutannya. 

Sementara untuk persentasenya, dari 6.300 kepala rumah tangga dengan pengeluaran Rp8 juta per bulan yang belum punya rumah, 81 persennya adalah kaum milenial. 

Lantas apakah mereka bisa dibantu melalui program Tapera (tabungan perumahan rakyat) yang baru saja dirilis oleh pemerintah. 

Mereka yang berhak memperoleh pembiayaan Tapera adalah MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah).

Meski begitu, kriteria MBR memang masih menjadi pertanyaan terutama terkait penghasilan yang maksimal Rp8 juta per bulan.  

Sebenarnya, kepala rumah tangga tadi masih layak mendapatkan manfaat Tapera atau memang tidak perlu dibantu lantaran memang mampu?

Baca juga: 52,4% Kepala Rumah Tangga Milenial Belum Punya Rumah, Tapera Jadi Harapan

kelas menengah indonesia

Penyebab Kelas Menengah Indonesia Tidak Mempunyai Rumah 

Financial planner Prita Hapsari Gozhie mengatakan sejumlah faktor yang membuat generasi milenial sulit untuk mempunyai rumah. 

Faktor “ekonomi lemah”, harga rumah yang naik secara cepat, hingga tuntutan hidup konsumerisme menjadi penyebab, 

“Jadi, prioritas alokasi gaji lebih ditujukan kepada pembelian yang bersifat pengalaman dibandingkan pembelian aset tetap,” ujar Prita yang juga founder ZAP Finance. 

Kaum milenial juga hidup pada zaman dengan konsep sharing economy yang membuat orang bisa saling berbagi. 

Sejak 2011, majalah Time menyatakan konsep berbagi ini menjadi salah satu ide yang mengubah cara hidup manusia. 

Konsep ini membuat orang bisa berbagi kendaraan atau tempat tinggal, kemudahan yang membuat orang mulai tidak lagi berpikir mengenai konsep kepemilikan. 

The Economist pernah melansir bahwa kepemilikan rumah tidak selalu lebih baik jika dibandingkan dengan menyewa. 

Kalau mempunyai rumah itu sama harus mengeluarkan biaya perawatan dan pemeliharaan hunian. 

Baca juga: Melihat Potensi Pertumbuhan KPR di Kawasan Penyangga Jakarta

kelas menengah indonesia

Kelas Menengah Indonesia Ternyata Nebeng di Rumah Orang 

Seperti telah diungkapkan di atas, ada 6.300 kepala rumah tangga di Jakarta dengan pengeluaran Rp8 juta atau lebih yang tidak punya rumah sendiri. 

Persentasenya memang didominasi generasi milenial, lantas diikuti oleh generasi yang lebih tua. 

Hal yang unik dari mereka ini adalah status tempat tinggal yaitu “rumah bebas sewa”, persentasenya mencapai 54 persen. 

Jadi sebanyak 3.400 kepala rumah tangga ini nebeng atau menumpang di rumah milik orang lain, bisa milik keluarga atau orang lain.

Peneliti kependudukan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Temi Indriati Miranda menyatakan banyak dari mereka ini masih tinggal bersama orang tua. 

Salah satu alasannya adalah mereka memiliki anak kecil dan membutuhkan orang tua untuk menjaga anak-anak.

Akses dan jarak dari rumah ke tempat kerja juga menjadi permasalahan lain kalau membeli rumah di luar Jakarta.

Harga rumah yang mahal juga menjadi pertimbangan, meski harga rumah di pinggiran Jakarta memang murah, namun jaraknya jauh.

Hunian vertikal yang ditawarkan dalam program Rumah DP 0 juga tidak menarik karena terlalu kecil dan tidak terbiasa tinggal di rumah susun. 

Artikel ini merupakan kerjasama antara situs properti Rumah123.com dengan laman berita online Lokadata.id.

Bagikan:
4713 kali