naik sepeda

Tren naik sepeda selama masa pandemi covid-19 ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga kawasan lainnya di dunia. 

Ayo, siapa yang lagi cari sepeda baru? Atau lagi utak atik sepeda lama agar lebih enak digenjot?

Beberapa waktu lalu, foto-foto mengenai toko sepeda yang “diserbu” pelanggan sempat viral di media sosial dan juga aplikasi percakapan. 

Begitu juga dengan foto para pesepeda saat car free day di Jakarta, serta para pesohor yang juga lagi demam gowes sepeda. 

Setelah pandemi covid-19 atau wabah virus corona sehingga terjadi lockdown, wabah naik sepeda muncul setelahnya. 

Wabah sepeda juga terjadi di Eropa, Amerika, Asia, dan Afrika, jadi tidak hanya di Indonesia saja lho. 

Sepeda tidak lagi dipakai untuk olahraga atau rekreasi, namun kembali menjadi alat transportasi sehari-hari.  

Situs berita online Lokadata.id melansir laporan dari Euronews bahwa komuter di Eropa mulai beralih naik sepeda dan menghindari angkutan umum. 

Jumlah pesepeda di Amerika Serikat juga naik tajam terutama di wilayah yang ada di pantai timur dan juga wilayah barat daya. 

Sejumlah kota di Eropa seperti London, Paris, dan Brussel membangun tambahan jalur sepeda yang baru. 

Sedangkan kota lainnya seperti Barcelona memperlebar jalur sepeda dan Roma menyambungkan jalur sepeda sehingga mereka tidak berpindah moda. 

Kebijakan yang ramah untuk pengendara sepeda dikeluarkan mulai dari pelebaran jalan hingga insentif. 

Belanda, Perancis, Inggris, hingga Luksemburg mengeluarkan sederetan kebijakan yang berpihak pada pemakai sepeda. 

Lantas bagaimana dengan Indonesia yang juga dilanda wabah sepeda, ada kabar apa saja sih? 

Baca juga: Gara-gara Corona, Pola Konsumsi Masyarakat Indonesia Berubah

naik sepeda

Trend Naik Sepeda dan Wacana Pajak 

Saat masyarakat Indonesia sedang dilanda wabah sepeda, sempat muncul wacana pemungutan pajak terhadap sepeda. 

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi menyatakan wacana pemungutan pajak sepeda seperti era 1970-an dan 1980-an 

“Kalau waktu saya kecil, saya mengalami sepeda disuruh bayar pajak dan sebagainya. Mungkin bisa ke sana,” kata Budi. 

Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati langsung meluruskan pernyataan Budi Setiyadi. 

Kementerian Perhubungan sedang membahas aturan mengenai sepeda, bukan pajak, melainkan aspek keamanan. 

Wacana pajak sepeda ini ditanggapi dingin oleh komunitas pesepeda dan juga pengusaha lantaran tidak sejalan dengan upaya menekan tingkat polusi udara. 

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Sepeda Indonesia (Apsindo) Eko Wibowo memberikan pernyataan mengenai hal ini. 

Dia mengatakan pengenaan pajak akan menghambat pertumbuhan industri sepeda lantaran membuat masyarakat malas beralih ke transportasi ramah lingkungan. 

“Kami melihat ini sebagai langkah mundur dari pengembangan transportasi yang ramah lingkungan dan memiliki dampak positif pada masyarakat,” kata Eko. 

Ketua Komunitas Bike to Work Poetoet Soedarjanto menyatakan hal yang senada dengan Eko Wibowo. 

Poetoet mengatakan sepeda, angkutan massal dan pejalan kaki adalah pilihan moda transportasi terbaik. 

Ketiga moda transportasi ini bisa menyelesaikan masalah polusi udara, kemacetan, dan kecelakaan lalu lintas.

Polusi udara, kemacetan, dan kecelakaan lalu lintas telah menimbulkan kerugian hingga ratusan triliun rupiah. 

“Jika mampu menyelesaikan kerugian ratusan triliun rupiah per tahun, layakkah sepeda dikenakan pajak?” kata Poetoet. 

Baca juga: Dari Mana Sih Sumber Air Minum Masyarakat Indonesia?

naik sepeda

Infrastruktur Pendukung Agar Tidak Hanya Sekedar Tren Naik Sepeda 

Eko melanjutkan tren naik sepeda naik antara tiga sampai empat kali lipat dibandingkan posisi transaksi tertinggi setiap tahun pada kondisi normal. 

Biasanya, penjualan sepeda tertinggi lantaran ada liburan sekolah, namun hanya dua kali lipat, sekarang bisa lebih tinggi lagi. 

Dia melanjutkan tren naik sepeda ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk mendukung sepeda sebagai sarana transportasi. 

Pengamat transportasi publik dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno memberikan pernyataan. 

Dia mengusulkan adanya pembuatan jalur sepeda yang terbagi tiga seperti jalur khusus sepeda yang tidak berbagi dengan kendaraan lain. 

Lantas jalur khusus sepeda yang berbagi dengan pejalan kaki hingga rute sepeda untuk perumahan dan perkantoran. 

Djoko juga memberikan masukan untuk penyediaan lahan parkir sepeda hingga insentif untuk kredit sepeda. 

Kalau kamu sendiri bagaimana? Sudah mulai gowes lagi, naik sepeda lipat, sepeda gunung, atau sepeda balap? 

Artikel ini merupakan kerja sama antara situs properti Rumah123.com dengan laman berita online Lokadata.id.

Bagikan:
691 kali