Tanah wakaf merupakan salah satu permasalahan yang sensitif dan sering terjadi dalam kasus pertanahan. Seperti ini ketentuannya menurut hukum Islam. 

tanah wakaf Sumber: Kemenag Kalsel

Dalam agama Islam, ada tiga amalan yang tidak pernah terputus meski jasad kita telah dikuburkan salah satunya adalah amal jariyah.

Ada banyak amal jariyah yang baik untuk dilakukan oleh umat muslim, salah satunya adalah mewakafkan tanah.

Lantas, apa yang dimaksud dengan tanah wakaf?

Untuk itu mari simak pembahasannya bersama-sama!

Apa itu tanah wakaf?

Pengertian wakaf berdasarkan bahasa (lughawi) artinya menahan.

Secara istilah, wakaf adalah menahan harta yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umum tanpa mengurangi nilai harta.

Beda dengan sedekah biasa, mewakafkan harta maupun tanah akan diganjar pahala yang lebih besar, terlebih manfaatnya pun juga besar bagi banyak orang. 

Sebab, pahala wakaf akan terus mengalir meski pemberi wakafnya telah meninggal dunia.

Jika diartikan secara harfiah, tanah wakaf merupakan objek yang dihibahkan untuk aktivitas dan asas manfaat bagi umat Islam.

Bentuk wakaf tersebut pada dasarnya bisa kamu temukan dari dekat dan dirasakan langsung. 

Jika kaitannya dengan wakaf tanah, umumnya dalam bentuk aktivitas sosial bagi umat Islam seperti masjid dan pesantren.

Tanah wakaf menurut Alquran dan Hadis

Sebagai bagian dari penyempurnaan ibadah, wakaf harta maupun wakaf tanah terkandung dalam Alquran dan hadis.

Ada beberapa dalil yang membahas mengenai wakaf tanah dan harta properti yang dijelaskan sebagai berikut. 

 لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ  فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيمٌ.   

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. 

Dan apa saja yang kamu nafkah kan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya” (QS Ali Imran: 92).   

Baca juga: Doa Membangun Rumah Menurut Islam, Wajib Dibaca Biar Berkah!

Hadis dan risalah Nabi

Sahabat Abu Thalhah saat mendengar ayat tersebut bergegas mewakafkan kebun “Bairuha”, kebun kurma miliknya yang paling ia sukai. 

Nabi pun sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Abu Thalhah, hingga beliau bersabda “Bagus sekali. Itu adalah investasi yang menguntungkan (di akhirat)” (HR al-Bukhari).

  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه  أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ  صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ    

 “Ketika anak Adam mati, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya” (HR Muslim).  

Syarat dan rukun memberi tanah wakaf

Berdasarkan situs rumah wakaf, terdapat lima syarat dan rukun wakaf yang harus dipenuhi agar sedekah jariyah ini dapat diamalkan dengan baik sebagai berikut. 

- Wakif, orang yang menyerahkan harta

- Mauquf bih, ketersediaan barang atau aset yang akan diwakafkan (baik tanah kosong maupun properti yang setengah jadi)

- Mauquf’Alaih, pihak yang diberi wakaf dan peruntukan wakaf atas harta yang tersedia.

- Shighat atau pernyataan sebagai ikrar wakif untuk kehendak mewakafkan hartanya untuk kepentingan orang banyak. 

- Nazhir atau orang yang bertanggung jawab mengelola harta wakaf tersebut.

Rukun dan syarat diatas harus dipenuhi oleh orang yang bermaksud untuk mewakafkan hartanya.

Hal ini bertujuan untuk menghindari perselisihan yang terjadi di kemudian hari, terlebih jika ahli waris tidak mengetahui terkait harta yang diwakafkan keluarganya.

Baca juga: Seperti Apa Aturan Pembagian Harta Warisan Berupa Rumah Menurut Islam?

Undang-undang pertanahan Negara yang mengatur tentang tanah wakaf

Tak hanya berdasarkan syariat Islam saja, tanah wakaf pun juga diatur oleh undang-undang pertanahan.

Sebab, tanah wakaf kerap menjadi permasalahan sengketa di Indonesia dan amat sangat sensitif.

Hal ini sudah dapat dibuktikan dalam beberapa tahun terakhir, tak terkecuali kasus tanah makam mbah priok.

Oleh sebab itu, ada perundang-undangan yang berkaitan langsung dengan wakaf tanah yakni UU Nomor 41 tahun 2004.

Adapun, isi dan bunyi undang-undang pertanahan ini sebagaimana dilansir dari situs hukumonline berikut ini.

“Menerangkan bahwa wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah.

Selanjutnya, ditegaskan bahwa wakaf berfungsi mewujudkan potensi dan manfaat ekonomis harta benda wakaf untuk kepentingan ibadah dan untuk memajukan kesejahteraan umum.

Oleh sebab itu, orang yang bermaksud untuk mewakafkan tanah mereka harus mengurus sertifikat wakaf tanah sebagaimana yang telah diatur oleh undang-undang.

Dalam hal ini “Nazhir” pun bertanggung jawab untuk melaporkan dan mengurus harta wakaf tanah kepada Kementerian Agraria dan Tata Ruang atau Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Apakah tanah wakaf dapat diperjualbelikan?

Berdasarkan UU Nomor 41 tahun 2004, tanah wakaf tidak boleh diperjualbelikan.

Peralihan status dari hak atas tanah primer membuat tanah tersebut tidak lagi memiliki nilai ekonomis. 

Namun ada pengecualian, jika dimanfaatkan untuk kepentingan umum sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) yang diatur oleh UU dan tidak bertentangan dengan hukum syariah.

Tanah wakaf bisa saja diperjualbelikan, namun harus mendapat keterangan tertulis dari Menteri atas Badan Wakaf Indonesia.

Namun, harta benda wakaf yang diubah status tersebut wajib untuk ditukar dengan barang lain dengan nilai yang sama. 

Selain tidak boleh diperjualbelikan, harta benda maupun aset tanah dilarang untuk:

- Sebagai penjaminan hutang

- Disita

- Hibah 

- Diwariskan ke orang lain

- Pertukaran aset

- Dialihkan dengan jenis aset lainnya

Dapat disimpulkan jika mewakafkan tanah tidak hanya sekadar memberikan amal yang baik bagi diri kita, namun juga bermanfaat untuk orang lain.

Namun, jika rezeki kamu belum cukup untuk mewakafkan tanah untuk masjid atau mushola, mewakafkan sebagian harta termasuk wakaf Alquran juga diperbolehkan. 

Yuk, cari tahu tips dan gaya hidup terlengkap dari rumah di artikel.rumah123.com.

Bagikan:
1725 kali