OK
Dijual
Disewa
Properti Baru
Panduan

13 Ringkasan Cerita Rakyat Pendek Terbaik yang Mudah Dipahami

15 Januari 2024 · 14 min read Author: Gadis Saktika · Editor: M. Iqbal

ringkasan cerita rakyat pendek

ringkasan cerita rakyat pendek | sumber: shutterstock.com

Ingin membuat ringkasan cerita rakyat pendek, tapi tidak tahu apa yang harus ditulis? Yuk, lihat referensinya pada artikel ini!

Sejak kecil, kita sudah dikenalkan dengan cerita rakyat pendek untuk memahami nilai-nilai, kebijaksanaan, dan kepercayaan yang dipegang teguh oleh nenek moyang kita.

Mengutip dari jurnal ilmiah, Eksplorasi Etnomatematika pada Cerita Rakyat (2022) yang ditulis Icmi Santry Nova dan Aan Putra, cerita rakyat merupakan karya sastra yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan dari generasi ke generasi.

Pengenalan teks prosa lama sejak dini dapat melestarikan identitas budaya serta memperkaya khazanah sastra dan tradisi lisan.

Untuk mengeksplorasi cerita rakyat, kamu bisa menulis ringkasan secara mendalam.

Nah, kali ini, Rumah123.com menghimpun contoh ringkasan cerita rakyat pendek yang bisa kamu simak pada uraian di bawah ini.

Kumpulan Ringkasan Cerita Rakyat Pendek

1. Timun Mas

cerita rakyat timun mas

ringkasan cerita rakyat timun mas | sumber: inews.id

Ringkasan cerita rakyat pendek ini mengisahkan tentang seorang wanita bernama Mbok Sarni yang sangat menginginkan seorang anak.

Dahulu kala, Mbok Sarni, yang menjalani hidupnya di tengah hutan, berdoa agar dikaruniai seorang anak.

Namun, saat berdoa, ada seorang raksasa yang lewat dan mendengar permintaannya, dengan satu syarat yang tak wajar.

Syaratnya adalah bahwa anak yang akan diberikan kepadanya akan diambil oleh raksasa tersebut pada usia enam tahun.

Tanpa berpikir panjang, Mbok Sarni menerima syarat tersebut dan diberi biji timun oleh raksasa tersebut sebagai anugerah.

Biji timun yang ajaib tersebut kemudian ditanam dan menghasilkan buah berisi seorang bayi perempuan yang cantik dan menggemaskan.

Mbok Sarni dengan penuh kasih sayang merawat anak perempuan ini hingga mencapai usia enam tahun.

Namun, sesuai kesepakatan, raksasa datang untuk mengambil anak itu saat waktu telah tiba.

Dengan cinta yang mendalam pada anaknya, Mbok Sarni memohon tambahan waktu selama dua tahun, dengan alasan bahwa anaknya masih terlalu lemah dan kecil.

Meski dengan rasa jengkel, raksasa memberikan persetujuannya dan kembali dua tahun kemudian.

Mbok Sarni telah menyiapkan beberapa bekal untuk anak perempuannya dan memberinya nasihat untuk segera melarikan diri jika ada raksasa yang datang.

Anak itu pun lari dan melemparkan bekal yang diberikan ibunya, yang ternyata memiliki kekuatan magis. Raksasa itu tidak bisa mengejarnya dan kalah.

Anak perempuan yang diberi nama Timun Mas hidup bahagia bersama Mbok Sarni.

2. Malin Kundang

Ringkasan cerita ini mengisahkan tentang seorang anak yang diberi nama Malin Kundang.

Malin Kundang hidup dalam keadaan sederhana bersama ibunya, sehingga dia memutuskan untuk berlayar menyeberang laut mencari pekerjaan.

Sebelum berangkat, Malin berjanji pada ibunya bahwa suatu hari dia akan kembali setelah sukses dan membawa ibunya bersamanya.

Malin, setelah merantau cukup lama, akhirnya menikahi seorang wanita kaya yang merupakan anak seorang saudagar. Mereka hidup dalam kemewahan.

Namun, sayangnya, Malin melupakan janjinya kepada ibunya. Dia bahkan berbohong kepada keluarga saudagar dan istrinya, mengklaim bahwa ibunya sudah meninggal.

Malin merasa malu untuk mengungkapkan bahwa dia mempunyai ibu miskin di kampung halamannya.

Suatu hari, saat mereka berlayar dengan kapal mewah, mereka singgah di pelabuhan dekat kampung asal Malin. Ibunya mengenali anaknya, meskipun Malin sudah berpakaian mewah.

Namun, Malin menolak ibunya dan bahkan tidak mengakuinya sebagai ibu.

Ibu yang kecewa kepada anaknya mengutuk Malin dan mengubahnya menjadi batu.

Tak terduga, Malin berubah menjadi batu yang masih ada di Sumatra Barat hingga saat ini.

Cerita rakyat ini sangat terkenal di seluruh Indonesia dan menyampaikan pesan moral yang kuat tentang pentingnya berbakti kepada orang tua, apa pun kondisinya.

Ini adalah pengingat untuk tidak menjadi anak yang durhaka dan melupakan segala kebaikan yang telah diberikan oleh orang tua.

3. Si Pitung

Si Pitung adalah seorang pahlawan yang berani dan penuh keberanian, selalu siap membantu rakyat yang mengalami penindasan di bawah kekuasaan penjajahan Belanda.

Pada masa itu, ibukota dikuasai oleh pemerintahan Belanda dan dikuasai oleh tuan tanah yang kejam serta suka menindas rakyat.

Melihat penderitaan ini, Si Pitung memutuskan untuk mencari seorang guru dan belajar ilmu bela diri yang memungkinkannya untuk melawan ketidakadilan.

Setelah bertahun-tahun melalui latihan dan usaha keras, Si Pitung tumbuh menjadi seorang pendekar yang lincah dan sangat cerdik.

Kemampuan ini menjadi senjata utamanya dalam membantu masyarakat yang tertindas oleh kekuasaan Belanda.

Dengan perjuangan dan keberanian Si Pitung, dia mendapatkan banyak pengikut dan menjadi sosok yang sangat dihormati di mata banyak orang.

Namun, keberaniannya ini juga membuat pemerintah Belanda marah dan berusaha keras untuk menangkapnya.

4. Bawang Merah dan Bawang Putih

Dalam ringkasan cerita rakyat pendek ini, kita dihadapkan pada seorang gadis yang bernama Bawang Putih, yang terkenal karena hatinya yang baik dan tulus.

Bawang Putih harus hidup bersama dengan saudara tirinya, Bawang Merah, yang memiliki sifat yang sangat berbeda darinya, yakni seringkali berlaku egois dan iri hati.

Selain harus berbagi kehidupannya dengan saudari tirinya, Bawang Putih juga tinggal dengan seorang ibu tiri yang tidak pernah mengasihinya dan selalu memperlakukannya dengan ketidakadilan.

Namun, suatu hari, Bawang Putih menemukan sebuah labu ajaib yang ternyata berisi emas. Ketika Bawang Merah dan ibu tirinya mengetahui hal ini, kecemburuan dan nafsu mereka membuat mereka ingin mengambil labu tersebut dan menjadikannya milik mereka.

Tanpa pengetahuan Bawang Putih, Bawang Merah merampas labu itu. Namun, ketika mereka membuka labu tersebut, yang mereka temukan bukan emas, melainkan seekor ular berbisa.

Ternyata, itu adalah hukuman bagi ibu tiri dan Bawang Merah karena perilaku mereka yang selalu jahat, iri hati, dan tamak terhadap segala milik Bawang Putih.

5. Jaka Tarub

Jaka Tarub adalah sebuah cerita rakyat pendek Indonesia yang berasal dari wilayah Jawa Tengah.

Kisah ini menceritakan seorang pemuda bernama Jaka Tarub yang secara tak sengaja menemukan seorang bidadari sedang mandi di mata air.

Dalam variasi cerita yang berbeda, Jaka Tarub berhasil mengambil baju bidadari sebagai jaminan agar bidadari tersebut tidak dapat kembali ke surga.

Dengan memegang baju bidadari itu, Jaka Tarub berhasil membawa bidadari tersebut ke desanya dan menjadikannya sebagai istrinya.

Mereka hidup dalam kebahagiaan dan memiliki anak-anak.

Namun, bidadari tidak pernah berhasil menemukan kembali baju putihnya sehingga dia tidak bisa kembali ke surga.

Pada suatu hari, Jaka Tarub menemukan baju putih tersebut dalam lemari, yang mengundang kejutan besar dan rasa bersalah.

Ia segera berbagi penemuan ini dengan istrinya. Bidadari merasa kecewa dan akhirnya terpaksa harus kembali ke surga, meninggalkan Jaka Tarub dan anak-anak mereka. Meskipun penuh kesedihan, Jaka Tarub tetap setia dalam merawat anak-anaknya.

Kisah Jaka Tarub menyiratkan pesan moral tentang pentingnya kejujuran, tanggung jawab, serta konsekuensi dari tindakan kita.

Ringkasan cerita ini juga menggambarkan kuatnya cinta dan pengorbanan dalam menjaga keluarga.

6. Sangkuriang

Sangkuriang adalah sebuah cerita rakyat asal Jawa Barat, Indonesia.

Kisah ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Sangkuriang yang tak disadari jatuh cinta kepada ibunya sendiri, Dayang Sumbi.

Mereka tidak menyadari hubungan darah mereka karena Dayang Sumbi telah menyembunyikan tanda-tanda usia dengan bantuan dewa.

Kemudian, Sangkuriang dan Dayang Sumbi sepakat untuk menikah, dengan syarat bahwa Sangkuriang harus membangun perahu dan danau dalam waktu satu malam.

Sangkuriang menerima tantangan ini dan hampir berhasil menyelesaikannya dengan bantuan makhluk gaib.

Namun, Dayang Sumbi menyadari Sangkuriang hampir berhasil dan berkomplot untuk menggagalkannya.

Dia meminta makhluk gaib untuk merusak pekerjaan Sangkuriang dan menyuruhnya membunuh seekor anjing hitam.

Sangkuriang menolak untuk membunuh anjing tersebut, tetapi dia mengambil kulit anjing itu untuk membuktikan tindakannya kepada Dayang Sumbi.

Akhirnya, Dayang Sumbi marah dan mengungkapkan bahwa Sangkuriang adalah anak kandungnya. Sangkuriang yang terkejut dan marah melemparkan kulit anjing tersebut, yang berubah menjadi Gunung Tangkuban Perahu, dan danau yang hampir selesai menjadi Danau Bandung.

Cerita Sangkuriang menyiratkan pesan moral tentang takdir, kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan, dan konsekuensi dari melanggar aturan.

7. Joko Kendil

Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, hiduplah seorang pria miskin bernama Joko Kendil.

Joko Kendil memiliki tubuh yang mirip dengan kendil sehingga ia sering dihina oleh orang-orang.

Meskipun hidup dalam kemiskinan dan sering dihina, Joko Kendil dikenal sebagai sosok yang baik hati dan dermawan. Ia selalu membantu orang lain yang membutuhkan, tanpa memandang status sosial mereka.

Suatu hari, Joko Kendil sedang berjalan-jalan di hutan ketika ia bertemu dengan seorang wanita tua yang kelaparan. Tanpa ragu, Joko Kendil memberikan sepiring tempe miliknya kepada wanita itu.

Wanita tua tersebut sebenarnya adalah penjelmaan dewi yang ingin menguji kebaikan hati Joko Kendil. Sebagai hadiah atas kebaikan hati Joko Kendil, dewi tersebut mengubah sepiring tempe menjadi semangka ajaib.

Semangka ajaib tersebut memiliki keistimewaan, yaitu isinya akan selalu kembali utuh setiap kali dipotong. Berita tentang semangka ajaib ini menyebar ke seluruh desa, dan banyak orang datang untuk melihatnya.

Joko Kendil menggunakan semangka ajaib tersebut untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Ia membagikan semangka ajaib tersebut kepada orang-orang yang kelaparan dan miskin.

Kisah kebaikan hati Joko Kendil tersebar ke seluruh negeri. Banyak orang yang terinspirasi oleh kebaikan hati Joko Kendil.

Ringkasan cerita rakyat Joko Kendil mengajarkan kita tentang pentingnya kebaikan hati, sikap dermawan, dan pentingnya berbagi dengan sesama.

8. Danau Toba

Dahulu, di sebuah desa kecil di Sumatra Utara, terdapat seorang pemuda yang bernama Toba.

Toba adalah seorang pemuda yang baik hati dan rajin bekerja. Ia tinggal bersama keluarganya yang terdiri dari ibu dan adik perempuannya.

Pada suatu hari, Toba sedang memancing di sungai ketika ia melihat seekor ikan emas yang sangat cantik. Ikan itu berenang mendekati Toba dan berkata, “Toba, tolonglah aku. Aku adalah seorang putri yang dikutuk menjadi ikan oleh seorang penyihir jahat.”

Toba merasa kasihan kepada ikan emas tersebut. Ia pun berjanji untuk membantunya. Toba membawa ikan emas itu pulang ke rumah dan merawatnya dengan baik.

Semakin hari, Toba dan ikan emas itu semakin dekat. Mereka pun akhirnya menikah dan memiliki seorang anak laki-laki yang diberi nama Samosir.

Namun, kebahagiaan Toba dan keluarganya tidak berlangsung lama. Suatu hari, Gunung Toba meletus dahsyat. Letusan ini menyebabkan banjir bandang yang menghancurkan desa Toba.

Toba, istrinya, dan anaknya berhasil melarikan diri dari bencana tersebut. Namun, mereka terpisah satu sama lain.

Toba yang putus asa memohon pertolongan kepada para dewa. Dewa pun mengabulkan doanya dengan mengubah Toba menjadi sebuah pulau di tengah danau yang terbentuk dari kawah bekas letusan Gunung Toba. Pulau ini kemudian dikenal sebagai Pulau Samosir.

Istri Toba dan anaknya juga selamat dari bencana tersebut. Mereka akhirnya bertemu kembali dengan Toba di Pulau Samosir. Mereka pun hidup bahagia selamanya.

9. Rawa Pening

Bagi masyarakat Jawa Tengah, kisah legenda Rawa Pening telah menjadi cerita rakyat yang sangat dikenal. Kisah ini menjelaskan asal-usul terbentuknya wilayah Rawa Pening.

Dikisahkan, seorang wanita bernama Endang melahirkan seekor naga besar yang diberi nama Baru Klinting.

Baru Klinting adalah naga yang memiliki kemampuan untuk berbicara seperti manusia biasa.

Suatu hari, warga desa sedang mencari hewan yang cocok untuk dijadikan hidangan dalam sebuah pesta.

Masyarakat ingin menggunakan Baru Klinting sebagai hidangan utama, dan pada saat yang sama, Baru Klinting sedang melakukan tapa (meditasi) dalam wujud manusia. Ia berubah menjadi seorang bocah kecil untuk menyelidiki niat masyarakat.

Bocah kecil ini merasa kelaparan dan meminta makanan. Namun sayangnya, tidak ada yang bersedia memberikannya kecuali seorang nenek tua yang penuh kasih.

Nenek tua itu memberinya makanan dan memberi pesan kepada bocah itu untuk mengambil sebuah lisung (wadah memasak) saat mendengar suara gemuruh yang besar.

Tak berapa lama, suara gemuruh muncul dan air tiba-tiba bermunculan dari dalam tanah. Hal itu membuat seluruh masyarakat desa yang sedang berpesta tenggelam dalam banjir besar, kecuali sang nenek baik hati.

Sejak saat itu, daerah ini diberi nama Rawa Pening sebagai kenang-kenangan akan peristiwa tersebut. Kisah ini menjadi bagian integral dari warisan budaya masyarakat Jawa Tengah.

Ringkasan cerita legenda ini mengandung pesan moral tentang kasih sayang dan kebaikan hati yang selalu dihargai.

10. La Moelu

ringkasan cerita rakyat pendek

sumber: khoirulanwar.artstation.com

Cerita rakyat berikutnya datang dari Sulawesi Tenggara, yaitu La Moelu. Cerita ini menceritakan tentang seorang gadis bernama La Moelu yang diberikan tugas oleh ayahnya untuk merawat ikan kecil dan aneh yang ayahnya tangkap saat memancing.

Gadis muda ini dengan penuh kasih merawat ikan yang ia beri nama Jinnade. Suatu hari, ia memutuskan untuk melepaskannya kembali ke laut.

La Moelu memberi ikan itu pesan penting: ketika ia memanggil dengan nama Jinnade, ikan harus segera muncul ke permukaan karena ia akan memberinya makan.

Namun, tetangga yang serakah di sekitar La Moelu memanggil Jinnade dan menangkapnya untuk dijadikan hidangan makanan.

La Moelu sangat sedih saat mengetahui kejadian ini. Ia merasa kehilangan teman yang sangat ia sayangi.

Namun, La Moelu adalah gadis yang baik hati dan bijaksana. Untuk menghormati kenangan Jinnade, ia mengubur duri dan tulang belulang ikan tersebut.

Beberapa waktu kemudian, dari tulang belulang Jinnade, tumbuh pohon emas yang indah. Pohon ini memberikan kebaikan kepada La Moelu yang telah menunjukkan sikap dan hati yang tulus sepanjang kisah ini.

Pohon emas itu menjadi lambang hadiah atas kebaikan dan kasih sayang La Moelu serta kebijaksanaannya dalam menghadapi cobaan hidupnya.

11. Asal-usul Danau Maninjau

Ringkasan cerita rakyat lainnya yang berasal dari Sumatera Barat adalah asal-usul Danau Maninjau, yang dikenal sebagai “Asausu Danau Maninjau.”

Kisah ini berlangsung di wilayah kaki Gunung Tinjau, di mana sepuluh bersaudara yang dikenal sebagai Bujang Sembilan tinggal bersama.

Si sulung bernama Kukuban, sedangkan yang termuda adalah Sani. Mereka memiliki paman bernama Datuk Limbatang, yang memiliki seorang putra bernama Giran.

Sani dan Giran saling jatuh cinta dan suasana hati di antara mereka sangat baik. Suatu kali, saat musim panen, diadakan pertandingan adu silat.

Giran dan Kukuban memutuskan untuk bertarung dan keduanya sama kuatnya dalam berkelahi. Namun, sayangnya, Kukuban kalah dalam pertarungan itu dan merasa dendam kepada Giran.

Beberapa hari kemudian, Datuk Limbatang datang untuk melamar Sani sebagai istri untuk Giran, tetapi Kukuban menolak permohonan tersebut dengan keras.

Sani dan Giran sangat bersedih dan mencari solusi di sebuah ladang. Di saat itulah, sepotong ranting berduri tersangkut di sarung Sani, melukai kakinya.

Kejadian ini dianggap sebagai pertanda yang mengarahkan mereka ke jalan yang benar. Mereka kemudian memutuskan untuk mengorbankan perasaan dan memprioritaskan hubungan keluarga dan persatuan daripada dendam dan permusuhan.

Sebagai hasilnya, kesepuluh bersaudara bersama keluarga mereka akhirnya mendamaikan perasaan mereka dan hidup dalam keharmonisan.

Legenda ini mengilustrasikan pentingnya perdamaian, kesatuan keluarga, dan pengorbanan atas dendam dan permusuhan.

Danau Maninjau, yang terletak di Sumatera Barat, diyakini oleh masyarakat setempat sebagai jejak sejarah dari cerita ini, menciptakan peringatan akan nilai-nilai tersebut hingga hari ini.

12. Raja Parakeet

Cerita rakyat yang menarik dari Aceh, dikenal sebagai kisah Raja Parakeet, menghadirkan pesan moral yang mendalam.

Pada suatu masa, seorang pemburu datang ke hutan dan memasang jebakan di dahan pohon tempat burung-burung berkumpul dan bersenang-senang.

Para burung terperangkap dalam jebakan tersebut dan berteriak panik. Namun, Raja Parakeet, yang bijaksana, mengambil tindakan cerdas. Ia memerintahkan rakyatnya untuk tetap diam dan berpura-pura mati.

Ketika pemburu mendatangi tempat itu, ia merasa kecewa karena burung-burung yang ia tangkap tampaknya sudah mati. Akhirnya, ia melepaskan semua burung hasil tangkapannya.

Namun, begitu dilepaskan, burung-burung itu dengan gembira terbang bebas ke langit, kembali kepada alam mereka.

Sayangnya, Raja Parakeet tidak berhasil meloloskan diri dan pemburu membawanya pulang untuk menjualnya kepada Raja Aceh.

Di istana, Raja Parakeet hidup dalam sebuah sangkar emas dengan makanan yang melimpah. Walau hidupnya terjamin, ia merasa tidak bahagia karena ia lebih suka tinggal di hutan.

Maka, Raja Parakeet memutuskan untuk berpura-pura mati. Raja Aceh berniat menguburnya. Ketika sangkar dibuka, Raja Parakeet melesat terbang kembali ke hutan tempat dia merasa benar-benar bebas.

Kisah Raja Parakeet mengandung pesan moral yang mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus bijaksana, serta bersedia berkorban demi kesejahteraan bawahannya.

Selain itu, dongeng pendek ini juga menggarisbawahi kebahagiaan yang ditemukan dalam kebebasan dan di alam alami.

13. Asal-Usul Tari Guel

Ringkasan cerita rakyat pendek selanjutnya adalah Asal-Usul Tari Guel.

Di dataran tinggi Gayo, Aceh, bersemayam sepasang kakak beradik – Sengeda dan Bener Meriah. Suatu malam, Sengeda bermimpi bertemu Bener Meriah yang telah lama dikabarkan meninggal karena pengkhianatan. Dalam mimpi, Bener Meriah meminta Sengeda menjinakkan seekor gajah putih untuk dipersembahkan kepada Sultan Aceh.

Mengikuti petunjuk mimpi, Sengeda berangkat ke hutan. Ia berjalan dan berjalan, namun tak kunjung menemukan gajah putih. Lelah tak berdaya, Sengeda tertidur di bawah pohon besar. Tiba-tiba, ia dikelilingi oleh gajah-gajah besar!

Ketakutan, Sengeda mencoba menenangkan diri. Ia mengingat pesan Bener Meriah dan mulai bergerak mengikuti irama tertentu. Tangannya diayun, kakinya dihempaskan, tubuhnya berputar-putar. Ajaibnya, gajah-gajah itu ikut bergerak mengikuti ritme sengeda!

Gerakan-gerakan itu ternyata menjinakkan gajah putih yang selama ini dicari. Gembira, Sengeda mengendarai gajah putih dan kembali ke kerajaan. Tarian yang ia lakukan saat menjinakkan gajah itulah yang kemudian dikenal sebagai Tari Guel. Gerakannya yang dinamis dan ritmis menggambarkan kekuatan, keindahan, dan keharmonisan manusia dengan alam, diwariskan turun-temurun sebagai simbol budaya Gayo.

***

Nah, itulah ringkasan cerita pendek untuk literasi yang bisa kamu simak.

Semoga artikel ini bermanfaat, ya.

Baca juga artikel literasi lainnya, seperti cerita rakyat pendek di Artikel Rumah123, yuk!

Cek juga Google News Rumah123 untuk dapatkan informasi paling up to date.

Sedang mencari rumah yang nyaman dengan harga terjangkau?

Temukan di Rumah123.com karena kami selalu #AdaBuatKamu.


Tag: , ,


Gadis Saktika

Content Writer

Gadis Saktika adalah Content Writer di 99 Group yang sudah berkarier sebagai penulis dan wartawan sejak tahun 2019. Lulusan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI ini senang menulis tentang etnolinguistik, politik, HAM, gaya hidup, properti, dan arsitektur.
Selengkapnya

IKLAN

Tutup iklan
×

SCROLL UNTUK TERUS MEMBACA