Ketika kamu memutuskan untuk kredit rumah, artinya ada tanggung jawab keuangan besar yang harus dihadapi.

Seorang debitur mengalami kredit rumah macet dan mendapatkan sanksi dari bank - rumah123.com Seorang debitur mengalami kredit rumah macet dan mendapatkan sanksi dari bank. (Rumah123.com/Getty Images)

Bukan menakut-nakuti, namun kamu memang harus yakin bahwa dana yang dimiliki akan mencukupi cicilan kredit rumah yang harus dibayarkan tiap bulannya. Jika tak dipersiapkan dengan matang, bukan tidak mungkin kamu akan mengalami kredit macet.

Apa itu kredit macet? Kredit macet adalah kondisi dimana seseorang membeli sesuatu dengan sistem kredit, namun tidak mampu untuk membayar sisa cicilan alias menunggak selama lebih dari 3 bulan. Lalu bagaimana jika kamu mengalami ini ketika kredit rumah? \Di artikel ini, Rumah123.com akan membahas mengenai hal tersebut selengkapnya.

Bank berhak menjual rumah ketika terjadi kredit macet

Aturan mengenai hak dan tanggung jawab debitur serta bank pemberi Kredit Pemilikan Rumah (KPR), tertuang pada UU No. 4 Tahun 1996 atau yang biasa disebut UU Hak Tanggungan. Di dalam UU tersebut, terdapat penjelasan mengenai hak bank jika debitur mengalami wanprestasi (tidak memenuhi kewajiban). Berdasarkan Pasal 20 ayat 1 UU Hak Tanggungan, salah satu hak yang dimiliki oleh bank adalah bank berhak menjual objek Hak Tanggungan. Maksud objek Hak Tanggungan di sini adalah rumah debitur yang masih berada dalam proses KPR tersebut.

Jika masih ada sisa utang, bank berhak menggugat debitur dengan kasus kredit rumah macet

Apabila hasil penjualan rumah tersebut lebih besar dari sisa utang yang tak bisa dibayar, maka hasil yang lebih tersebut menjadi hak debitur. Namun di sisi lain, jika hasil penjualan rumah tersebut tidak cukup untuk melunasi sisa utang, maka artinya debitur masih memiliki utang yang harus dilunasi kepada bank terkait. Dalam hal ini, bank bisa melakukan gugatan wanprestasi kepada debitur. Gugatan wanprestasi adalah gugatan perdata, di mana penggugat (dalam hal ini bank), bisa menuntut penggantian biaya, rugi, dan bunga karena tidak terpenuhinya suatu perikatan. 

Apakah mungkin gugatan bank bisa membuat debitur dipenjara?

Bagaimana jika setelah rumah telah dijual oleh pihak bank, debitur masih memiliki sisa utang, dan bank menggugat si debitur? Apakah mungkin bank bisa mempidanakan debitur hingga dipenjara? Jawabannya tidak. Kasus perjanjian utang piutang seperti ini masuk ke dalam kategori hukum privat (hubungan pribadi antara subjek hukum dengan subjek hukum lainnya).

Sedangkan hukuman penjara adalah salah satu hukuman pidana, yang berlaku dalam hukum publik (hukum yang mengatur hubungan antar masyarakat luas). Dengan begitu artinya pihak bank sebagai kreditur tidak bisa membawa masalah tersebut ke ranah penjara. Walaupun bank tak bisa menuntut debitur dengan kasus kredit macet ke ranah penjara, sanksi yang diberikan tentu saja akan berdampak buruk bagi debitur.

Jadi, jangan sampai kredit rumah macet di tengah-tengah!

Sayang sekali kan, kamu sudah mengumpulkan uang muka, membayar cicilannya sebagian, tapi pada akhirnya rumah tersebut harus disita dan dilelang oleh bank? Belum lagi, kredit macet akan berpengaruh buruk pada skor kreditmu. Di masa depan ketika kamu mau mengajukan kartu kredit, KPR, kredit kendaraan, kemungkinan pemberi kredit akan menolak pengajuan kredit-mu karena hal ini. Menyeramkan sekali ya? Untuk itu, sebelum membeli rumah atau properti dalam bentuk lain, pikirkanlah dengan matang mengenai pembayaran cicilannya. 

Bagikan: 9403 kali