OK
Dijual
Disewa
Properti Baru
Panduan

12 Contoh Puisi Satire Singkat Berbagai Tema, Penuh Sindiran Tajam!

26 Februari 2024 · 10 min read Author: Alya Zulfikar · Editor: Bobby Agung Prasetyo

contoh puisi satire

Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan puisi satire? Pelajari pengertian dan simak contoh puisi satire karya penyair terkenal melalui artikel ini, yuk!

Dalam karya sastra Indonesia, puisi ada banyak macam jenisnya, mulai dari puisi ode, balada, romansa, hingga satire.

Dari jenis-jenis puisi yang ada, puisi satire jadi salah satu jenis yang menarik untuk dipelajari.

Dalam buku Seni Mengenal Puisi oleh Agnes Pitaloka dan Amelia Sundari, puisi satire adalah puisi yang menggunakan gaya bahasa berisi sindiran.

Selain itu, berupa kritik yang disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme, atau parodi.

Menurut buku Mengupas Puisi oleh Putu Sudarma, puisi tersebut dapat ditulis untuk menyampaikan kritik terhadap pejabat, tokoh politik, pemimpin pemerintahan, dan lain sebagainya.

Jadi, puisi satire adalah salah satu jenis puisi baru yang memuat sindiran atau kritikan terhadap situasi atau seseorang.

Agar lebih mudah dipahami, berikut ini kumpulan contoh puisi satire!

Contoh Puisi Satire

1. Puisi Satire Politik

puisi satire politik

Di istana berdiri pemimpin “kanan”,
Dengan pidato manis dan wajah berseri.
Namun belakang layar, rakyat tertawa,
Karena tindakan mereka hanya rekayasa.

Mereka berjanji pembaharuan besar,
Tapi yang terjadi hanya korupsi lebih.
Kantong mereka kian penuh dengan uang,
Sementara rakyat hidup dalam kekurangan.

Mereka berdebat di parlemen besar,
Tapi hukum hanya untuk rakyat kecil.
Pajak kami naik, sementara mereka berfoya-foya,
Mereka tak peduli dengan rakyat kecil.

Mereka berpesta pora di istana mewah,
Sementara rakyat bekerja keras sepanjang hari.
Mereka tak tahu apa itu kepedulian,
Hanya kekuasaan dan uang yang mereka cari.

Jadi mari kita tertawa pada politikus palsu,
Yang janji-janjinya hanya omong kosong.
Mereka tak peduli pada rakyat biasa,
Hanya pada kekuasaan dan harta yang mereka cengkam.

Politikus, oh politikus, kami tertawa padamu,
Kami tahu siapa kalian sebenarnya.
Kalian bukan pelayan rakyat, tapi pembohong,
Kami berharap kalian segera pergi dan lenyap dari sini.

2. Puisi Satire Cinta

Cinta, kau seperti dongeng indah,
Tapi seringkali hanya kepalsuan yang menjelma.
Kau menyulut api dalam hati kita,
Namun juga sering kali hanya permainan busuk.

Kau berbicara tentang cinta sejati,
Tapi seringkali hanya nafsu yang menggoda.
Kau janjikan kebahagiaan abadi,
Namun hanya meninggalkan hati kita hancur.

Cinta, kau seperti pemain sandiwara,
Berubah-ubah seperti musim di pagi dan malam.
Kau menggoda kita dengan kata-kata manis,
Namun sebentar lagi, kau sudah pergi.

Kau membuat orang terbuai,
Tapi juga membuat hati terluka.
Kau tak kenal kasihan,
Seakan hanya mengejar sensasi.

Cinta, kau adalah ironi kehidupan,
Kadang manis, kadang pahit, tak terduga.
Kita terus mencarimu, meski kau sulit dimengerti,
Cinta, kau adalah misteri yang tak terpecahkan.

3. Puisi Satire Kemerdekaan

puisi satire kemerdekaan

Kemerdekaan, suara yang bergema,
Tapi seringkali hanya sebatas retorika semata.
Kita berjuang untuk hak kita yang adil,
Namun apakah itu benar-benar terwujud?

Lambang kemerdekaan berkibar tinggi,
Tapi kebebasan seringkali terasa hampa.
Hukum dan aturan mengikat kita semua,
Kita hanya bebas dalam buku-buku hukum.

Kita merayakan tanggal kemerdekaan,
Tapi seringkali itu hanya seremoni kosong.
Hak asasi manusia sering terinjak-injak,
Dan rakyat kecil tak pernah mendapat panggung.

Para pemimpin berbicara tentang kemerdekaan,
Tapi seringkali mereka hanya mengejar kekuasaan.
Korupsi dan ketidakadilan merajalela,
Rakyat hanya alat untuk memenuhi tujuan.

Kemerdekaan, seharusnya sebuah mimpi indah,
Namun seringkali hanya ilusi semu.
Kita perlu meraihnya dengan tekad dan usaha,
Agar benar-benar merdeka, bukan hanya wacana.

4. Puisi Satire Kehidupan

Kehidupan ini adalah sandiwara besar,
Di atas panggung dunia, kita semua berakting.
Tawa palsu dan senyuman dipaksakan,
Di balik layar, kita sebenarnya lelah dan bingung.

Kita mengejar materi dan harta berkilau,
Seakan kebahagiaan bisa dibeli dengan uang.
Tapi di tengah kemewahan dan kemewahan,
Hatiku merasa semakin kosong dan gundah.

Media sosial adalah pertunjukan besar,
Kita berlomba-lomba untuk tampil sempurna.
Namun di dunia maya, kita hanya berakting,
Kehidupan nyata seringkali hancur dan kacau.

Politikus berjanji-janji dan berbicara besar,
Tapi tindakan mereka seringkali bertentangan.
Mereka hanya peduli pada kekuasaan dan keuntungan,
Rakyat hanya boneka dalam sandiwara politik.

Kehidupan ini memang lucu dan aneh,
Kita semua aktor dalam drama ini.
Tapi kadang-kadang, kita perlu berhenti dan merenung,
Apakah kita benar-benar hidup, atau hanya berpura-pura saja?

Puisi Satire Pendidikan

Dikutip dari buku kumpulan puisi satire pendidikan bertajuk Aku Ingin Digugu dan Ditiru karya Samsul Hadi, berikut ini beberapa contoh puisi satire pendidikan.

1. “Aku Ingin Apa, Orang Tua Maunya Bagaimana”

Aku ingin pintar, orang tua banyak komentar

Anaknya bodoh, kau bilang coba kalau dulu sekolah

Anak berangkat mengaji, orang tua menonton TV

Tak pandai mengaji, kau bilang mestinya aku mengawasi

Anak rajin salat, orang tua selalu telat

Anak menjadi munkarat, kau bilang mending kau sekarat

Anak semangat berkarya, orang tua berskikap biasa saja

Sudah tunakarya, kau bilang dasar anak maunya dimanja

Anak tekun belajar, orang tua menganggap tak wajar

Ketika malas belajar, kau bilang dasar anak culas

Anak pintar, orang tua malas berkomentar

Diminta berkomentar, kau bilang biasa itu hal wajar

Anak berprestasi, orang tua tak mengapresiasi

Dituntut engerti, kau bilang itu bukan jasamu sendiri

 

Anak multitalenta, orang tua seakan tutup mata

Ketika tunakarya, kau bakal susah dapat kerja

Mulai sekarang …

Jadilah orang tua perhatian agar anaknya berkepribadian

Sukses itu pentin… bukan yang penting sukses

Perjuangan itu penting… bukan yang penting perjuangan

2. “Terkenang Sosok Bijaksana”

Kusibak mendung tebal di awan

Biarkan sinarnya masuk terangi ruangan

Mengikuti angan lepas bebas menuju masa silam

 

Bias cakrawala tertuju wajah berhias indah mutiara

Dengan lentera gali mutiara

Butir bening air mata tanda rasa cinta

Tubuh terkulai tak tegakkan kepala

Ribuan pinta terlepas jauh ke angkasa raya

 

Terkenang sosok bijaksana tanpa tanda jasa

Terkesan di pelupuk mata

Terbayang pahlawan ikhlas semata

Terkesan dalam jiwa raga

 

Menyibak lagi jauh lebih

Mau menerawang ketinggian awan

Pikirkan mengingat butir demi butir mutiara terpendam

Gali hikmah di balik suratan terkubuhr dan tertanam

Lentera di tangan, jelas nian bukti berkenyataan

Kau ajari keteguhan bak baja tahan hempasan

Kau ajari arti kehidupan melalui pendidikan

Kau ajari kesabaran meski duri menghujam

Kau ajari cara tak mati agar berjaya

Kau ancam, hukum kami, kini jadi berarti

Kau bentuk pribadi meski maki silih berganti

Kau tanamkan asa, agar jiwa tak kian putus asa

Kau wariskan pelita terangi jiwa di kegelapan gulita

Tutur selembut sutra, kutiru pembentuk jiwa perangai mulia

Sejuta cara dan gaya kutiru sama bermain sandiwara jasa di zaman berbeda

Kesabaran hadapi masalah, kutiru ajarkan kemenangan hidup kini kelak di sana

Sejuta hikmah kujadikan lentera dalam menggali mutiara

Sejuta hikmah kujadikan lentera dalam menggali mutiara samudera berhiaskan cinta

3. “Orang Tua Ingin Apa, Anak Maunya Bagaimana”

Orang tua menyuruh mengaji, anak mendadak pergi

Disuruh pergi, kau bilang mau mengaji

 

Orang tua menyuruh salat, anak mendadak pergi minggat

Disuruh minggat, kau bilang dasar orang tua bejat

 

Orang tua rajin bekerja, anak berkesempatan manja

Diminta bermanja, kau bilang orang tuaku mulai gila

 

Orang tua rajin ibadah, anak tak mau mencontoh

Diminta mencontoh, kau bilang masa bodoh

 

Orang tua sakit, anak tak bergeming dan bangkit

Diminta bangkit, kau bilang nanti ketularan sakit

 

Orang tua berprestasi, anak tak mengapresiasi

Diminta apresiasi, kau bilang ah… basi

 

Orang tua butuh bantuan, anak mendadak pergi ke rumah teman

Disuruh bergaul dengan teman, kau bilang mereka tak sepadan

 

Mulai sekarang …

Jadilah anak yang taat agar orang tua bahagia

Bahagia itu penting… bukan yang penting bahagia

Berusaha itu penting… bukan yang penting berusaha

Puisi Satire Singkat Karya Penyair Terkenal

1. “Aku Bertanya”

contoh puisi satire ws rendra

contoh puisi satire ws rendra

Karya: W. S. Rendra

 

Aku bertanya…

tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur

jidat penyair-penyair salon,

yang bersajak tentang anggur dan rembulan,

sementara ketidakadilan terjadi di

sampingnya, dan delapan juta kanak-kanak

tanpa pendidikan, termangu-mangu dalam

kaki dewi kesenian.

2. “Negeriku”

Karya: Gus Mus

 

Mana ada negeri sesubur negeriku

Sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu dan jagung tapi juga pabrik, tempat rekreasi dan gedung

Prabot-prabot orang kaya di dunia dan burung-burung indah piaraan mereka berasal dari hutanku

Ikan-ikan pilihan yang mereka santap bermula dari lautku

Emas dan perak, perhiasan mereka digali dari tambangku

Air bersih yang mereka minum bersumber dari keringatku

 

Mana ada negeri sekaya negeriku

Majikan-majikan bangsaku memiliki buruh-buruh mancanegara

Brangkas-brangkas bank ternama dimana-mana menyimpan harta-hartaku

Negeriku menumbuhkan konglomerat dan mengikis habis kaum melarat

Rata-rata pemimpin negeriku dan handai tolannya terkaya didunia

 

Mana ada negeri semakmur negeriku

Penganggur-penganggur diberi perumahan, gaji dan pensiunan setiap bulan

Rakyat-rakyat kecil menyumbang negara tanpa imbalan

Rampok-rampok di beri rekomendasi, dengan kop sakti instansi

Maling-maling di beri konsesi

Tikus dan kucing dengan asyik berkorupsi

3. “Di Negeri Amplop”

contoh puisi satire gus mus

contoh puisi satire gus mus

Karya: Gus Mus

 

Aladin menyembunyikan lampu wasiatnya “malu”

Samson tersipu-sipu, rambut keramatnya ditutupi topi “rapi-rapi”

David coverfil dan rudini bersembunyi “rendah diri”

Entah, andai Nabi Musa bersedia datang membawa tongkatnya

Amplop-amplop di negeri amplop mengatur dengan teratur

Hal-hal yang tak teratur menjadi teratur

Hal-hal yang teratur menjadi tak teratur

Memutuskan putusan yang tak putus

Membatalkan putusan yang sudah putus

Amplop-amplop menguasai penguasa

Dan mengendalikan orang-orang biasa

Amplop-amplop membeberkan dan menyembunyikan

Mencairkan dan membekukan

Mengganjal dan melicinkan

Orang bicara bisa bisu

Orang mendengar bisa tuli

Orang alim bisa nafsu

Orang sakti bisa mati

Di negeri amplop,

amplop-amplop mengamplopi apa saja dan siapa saja

11. “Negeri Janji Manis”

puisi satire tentang politik

puisi satire tentang politik

Di negeri janji manis, rakyat bersorak sorai,

Saat sang badut bertopeng tampil menari,

Menjanjikan surga dunia, penuh bahagia dan damai,

Meski kenyataan pahit, di balik kata-kata yang berbisik.

 

Janji-janji berhamburan, bagaikan confetti di udara,

Melekat di telinga rakyat, bagaikan mantra yang memikat,

Tentang pembangunan megah, dan ekonomi yang gemilang,

Meski rakyat kecil terlupa, tertinggal dalam kelam.

 

Para badut berdasi, beradu akting di panggung sandiwara,

Mempermainkan rakyat dengan janji dan dusta,

Sambil menari di atas penderitaan, dan air mata yang tertumpah,

Membuat rakyat terlena, dalam mimpi indah yang fana.

 

Rakyat terbelah, terpecah dalam dua kubu,

Membela badut pujaannya, dengan penuh semangat membara,

Tak sadar mereka diperalat, dalam permainan politik kotor,

Yang hanya menguntungkan segelintir orang yang berkuasa.

 

Kapan rakyat akan sadar, dari mimpi yang membutakan mata?

Kapan mereka akan bangkit, dan melawan penindasan yang nyata?

Saatnya rakyat bersatu, dan membuka tabir kebohongan,

Menuntut keadilan dan kesejahteraan, untuk negeri yang tercinta.

12. “Merdeka?”

puisi satire tentang kemerdekaan

puisi satire tentang kemerdekaan

Bendera berkibar di angkasa biru,

Merah putih lambang semangat juang.

Namun di bawahnya, cerita pilu,

Kemerdekaan, masihkah bermakna?

 

Rakyat bersorak, merdeka! merdeka!

Tapi di kantong, hanya recehan tersisa.

Janji-janji manis, bagai asap di udara,

Hilang ditelan angin, tak terjamah nyata.

 

Korupsi merajalela, bagaikan benalu,

Menggerogoti negeri, sampai ke tulang.

Rakyat kecil menjerit, tak berdaya,

Terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang kelam.

 

Pemimpin berlagak pahlawan,

Berpidato lantang, penuh kepura-puraan.

Di balik layar, mereka berfoya-foya,

Menikmati hasil keringat rakyat yang terluka.

 

Kemerdekaan, di mana kau berada?

Ataukah kau hanya ilusi semata?

Bagi rakyat yang tertindas,

Kemerdekaan hanyalah mimpi yang tak tergapai.

 

Mari bangkit, wahai rakyat tercinta,

Buang rasa takut, lawanlah penindasan.

Bersatulah, demi meraih kemerdekaan yang nyata,

Kemerdekaan yang sejahtera, adil dan merata.

 

FAQ Puisi Satire

Apa yang dimaksud dengan puisi satire?

Menukil buku Seni Mengenal Puisi oleh Agnes Pitaloka dan Amelia Sundari, puisi satire adalah puisi yang menggunakan gaya bahasa berisi sindiran.

Apakah satire puisi lama?

Puisi satire tidak termasuk dalam puisi lama, melainkan puisi baru karena memiliki bentuk yang lebih bebas dan tidak terikat oleh aturan.

***

Itulah beberapa contoh puisi satire karya penyair terkenal.

Baca artikel menarik lainnya di artikel.rumah123.com.

Ikuti pula Rumah123 di Google News untuk mendapatkan informasi terbaru.

Jika sedang mencari hunian, dapatkan rekomendasinya di www.rumah123.com karena #SemuaAdaDisini.

Kalau punya pertanyaan soal properti, kunjungi Teras123 untuk ngobrolin properti!

Referensi

  • Samsul Hadi. (2022). Aku Ingin Digugu dan Ditiru. Lombok Tengah: Penerbit P4I
  • Pitaloka, Agnes dan Amelia Sundari. (2020). Seni Mengenal Puisi. Guepedia
  • Sudarma, Putu. (2019). Mengupas Puisi. CV Media Educations

Tag: , ,


alya

Content Writer

Berkarier di dunia kepenulisan sejak 2018 sebagai penulis lepas. Kini menjadi penulis di 99 Group dengan fokus seputar gaya hidup, properti, hingga teknologi. Gemar menulis puisi, memanah, dan mendaki gunung.
Selengkapnya