Anak-anak Rentan Mengalami Trauma Pasca Gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (Foto: Rumah123/Novica)

Kamu pernah mengalami bencana? Pastinya kamu akan mengalami trauma. Buat kamu yang bekerja di gedung tinggi dan merasakan gempa besar beberapa waktu lalu pasti sempat trauma kan?

Pastinya kamu harus keluar dari gedung pencakar langit dengan menuruni tangga. Sementara gempa masih dirasakan.

Baca juga: Tips Tsunami: Ini yang Mesti Kamu Lakukan Saat Terjadi Tsunami

Nah, bisa dibayangkan bagaimana traumanya masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sejak Ahad (05/08/2018), Lombok dilanda lebih dari 1.000 gempa, puluhan di antaranya berskala besar dan terasa getarannya.

Dua gempa di antaranya berskala 7.0 dalam skala Richter. Gempa berskala besar ini terjadi pada 5 Agustus dan 19 Agustus.

Baca juga:  Tips Gempa: Jangan Panik Kalau Ada Gempa

Riset terkait pernah dilakukan dan hasilnya dikutip oleh situs Art to Healing. Hasilnya terungkap kalau tingkat stres seseorang usai gempa usai gempa, mulai terlihat normal setelah 12 bulan. Tetapi, reaksi stres setelah mengalami trauma (post traumatic stress (PTSD) tidak menghilang setelah 18 bulan.

Frekuensi PTSD dari setiap orang penyintas (survivor) gempa bumi berbeda satu sama lain. Pada orang dewasa, persentase tertingginya bisa mencapai 92%, sementara pada anak-anak mencapai 95%. Jadi anak-anak memang paling rentan mengalami trauma pasca gempa kan?

Baca juga:  Tips Gempa: Hati-hati Saat Mengecek Rumah Usai Gempa

Selama ini, bantuan masih sebatas berupa pakaian dan makanan. Para korban memang membutuhkan semua ini. Begitu juga dengan material bahan bangunan guna membangun lagi rumah-rumah yang rusak atau roboh.

Namun, sering kali bantuan konseling untuk menangani psikis para korban malah dilupakan. Memang ada yang melakukannya, tetapi tidak banyak.

Baca juga:  Tips Setelah Gempa: Yuk, Bersih-Bersih Rumah

Trauma memang tidak mudah dihilangkan. Tetapi, banyak cara dapat dilakukan guna menanganinya seperti melakukan permainan pada anak, sesi berbagi cerita bagi orang dewasa, dan lainnya.

Jika kamu termasuk penyintas, coba deh untuk berupaya menghilangkannya dengan mencoba cari tahu cara mitigasi bencana, berbagi cerita dengan sesama penyintas, melakukan aktivitas seperti biasa untuk melupakan trauma, dan lainnya.

Bagikan: 1043 kali