Rumah tradisional Toraja di Kampung Palawa, Sulawesi Utara. Foto: Rumah123/Getty
 

Rumah tradisional di Nusantara memang beragam. Tapi, satu ciri yang sama yakni bangunannya mengadaptasi lingkungan geografisnya. Makanya, kebanyakan desain bangunannya berupa rumah panggung dan material bangunannya pun ringan dari alam sekitarnya.

Dosen Teknik Arsitektur dari Universitas Tadulako, Rifai Mardin, dalam Kompas.com, Minggu (7-10-2018) mengatakan, masyarakat jadul berpengetahuan cukup mengenai kondisi wilayah tempat tinggalnya, ini tercermin dalam rancangan bangunannya.

"Local wisdom ini sebenarnya masih terbawa sampai saat ini dengan bentuk bangunan yang relatif siap terhadap gempa," katanya. "Intinya semua bangunan tradisional atau bangunan vernakular di zamannya tentu sudah memperhitungkan permasalahan sekitar," katanya lagi.

Baca juga: Rumah Tahan Gempa Bangunnya Gak Pake Lama Lho!

Menurutnya, Sulawesi Tengah (yang baru saja dilanda gempa hebat) memiliki beberapa jenis rumah tradisional. "Rata-rata rumah panggung," kata Rifai. Mengapa rumah panggung?

Rumah panggung punya beberapa keunggulan seperti berikut ini:

Pertama, mencegah binatang buas masuk ke dalam rumah.

Kedua, kolong di bawah rumah panggung bisa digunakan sebagai tempat istirahat dan kandang binatang.

Ketiga, rancangan rumah panggung di Palu memiliki kelebihan tahan banjir dan tsunami. Dengan catatan gelombang yang datang tidak setinggi badan bangunan atau di atas dua meter dari lantai dasar rumah.

Baca juga: Bangunan Berbentuk Kubah Ternyata Memang Tahan Gempa

Rumah panggung juga tahan terhadap tsunami kalau serbuan air tak membawa debris yang besar. Rumah baru akan hancur kalau debris besar yang dibawa oleh gelombang menghantam kaki-kaki bangunan.

Keunggulan tersebut terbukti pascabencana di Sulawesi Tengah, di Jalur Trans Sulawesi arah Kecamatan Banawa, seperti diberitakan Kompas.com, rumah-rumah tradisional ini masih tegak berdiri meskipun bangunan-bangunan di kiri-kanannya rusak dan rata dengan tanah.

 
Rumah tradisional Minangkabau di Sumatera Barat. Foto: Rumah123/Getty
 

Keempat, rumah tradisional yang selamat dari gempa berskala tertentu ini karena material yang digunakan umumnya merupakan bahan-bahan alami.

Penggunaan material memengaruhi kekuatan struktur suatu bangunan terhadap guncangan. Pada bangunan tradisional, umumnya menggunakan kayu yang memiliki daya lentur lebih baik dibandingkan material beton. Material yang digunakan pun kayu pilihan atau yang kualitasnya terbaik. "Kayu terkenal dengan daya lenturnya, sedangkan beton sangat rigid," kata Rifai.

Kelima, ikatan balok antar-kayu menggunakan pin dan ikatan, sehingga lebih fleksibel ketika dihantam guncangan.

Keenam, Perbedaan rumah tradisional biasanya terletak pada pola ruang, namun secara struktur adalah sama. Hampir semua jenis rumah panggung menggunakan batu sebagai struktur penguat fondasi. Batu-batu tersebut berada di titik-titik tertentu.

 
Rumah tradisional di Kampung Wae Rebo, Flores, Nusa Tenggara Timur. Foto: Rumah123/Getty

Menurut Rifai, Sulawesi punya beberapa model rumah panggung. Contohnya di Palu, ada beberapa jenis rumah panggung tradisional, yakni Banua Baso, Banua Oge, dan Souraja. Ada rumah untuk para petinggi yang disebut Kataba dan rumah untuk masyarakat umum yang disebut Tinja Kanjai. Ada juga bangunan yang berfungsi sebagai gedung pertemuan yang disebut Baruga. Rumah adat kampung yang disebut Bantaya dan lumbung yang dikenal dengan nama Gampiri.

Dalam satu wilayah administrasi dengan berbagai suku, ciri bangunannya bisa saja berbeda. "Seperti suku Kaili, di Kabupaten Donggala, Sigi, dan Parigi, mengikuti karakteristik kawasan masing-masing," kata dia.

Khusus untuk Rumah Lobo, masyarakat menggunakan log kayu dengan ukuran yang besar. Fondasinya unik, terbuat dari log kayu besar yang disusun. Masing-masing kayu disusun melintang dan menindih satu sama lain. Susunan kayu inilah yang nantinya menjadi fondasi rumah.

Baca juga: Rumah Tahan Gempa Bukan Cuma Risha, Juga Ada Rika dan Ruspin

Fondasi rumah tersebut dibuat dengan ketinggian sekitar satu meter. Model bangunan ini menunjukkan perbedaan antara bangunan di dataran tinggi dan dataran rendah. Bangunan di dataran tinggi menggunakan fondasi log kayu, seperti rumah Lobo. Sedangkan rumah-rumah di dataran rendah semisal yang di Palu menggunakan model panggung.

Nah, sekarang paham kan kamu kenapa rumah panggung tahan terhadap gempa. Untuk meminimalisasi dampak gempa, mungkin memang sebaiknya membangun rumah di Nusantara mengadopsi rumah tradisonal sesuai dengan kondisi wilayah setempat.

Bagikan: 1717 kali