Bukan hanya satu, ternyata ada beragam proses terjadinya hujan yang berbeda. Termasuk penyebab kenapa Indonesia tak pernah turun salju.

proses terjadinya hujan

Pernahkah kamu melihat ke arah langit di kala awan mulai berubah menjadi kelabu dan tetesan air turun tidak lama setelahnya? 

Apakah kamu sering bertanya atau mungkin ingin tahu bagaimana sebenarnya proses terjadinya hujan? 

Pelajari selengkapnya di bawah ini!

5 Jenis Hujan yang Paling Sering Terjadi 

Dilihat dari proses terjadinya hujan terbagi menjadi beberapa jenis berbeda, yakni:

1. Hujan Muson

hujan muson Sumber: Kompas.com

Jenis hujan yang pertama sesuai namanya terjadi akibat fenomena bertiupnya angin muson musiman. 

Angin muson adalah bagian dari sebuah perubahan musim yang berpengaruh pada arah pergerakan angin di suatu daerah. 

Fenomena alam ini paling sering terjadi di kawasan Samudra Hindia yang meliputi daerah Asia Selatan hingga tenggara. 

Musim muson inilah yang membuat kawasan tropis seperti Indonesia bisa memiliki musim hujan dan musim kering sepanjang tahun. 

2. Hujan Siklonal 

Selanjutnya ada proses terjadinya hujan pada saat udara dari permukaan Bumi naik dan bertemu dengan angin yang berputar pada titik tertentu. 

Hujan siklonal biasanya hanya dapat terjadi di kawasan sekitar garis khatulistiwa, seperti Indonesia. 

Karakteristiknya tampak dari awan mendung gelap pekat yang muncul secara tiba-tiba, lalu menghasilkan hujan yang mengguyur dengan sangat deras. 

3. Hujan Zenithal 

hujan zenithal Sumber: Kompas.com

Untuk jenis hujan zenithal, penyebabnya adalah karena bertemunya angin pasat tenggara dan timur. 

Angin pasat adalah yang bertiup sepanjang tahun dari daerah subtropis ke khatulistiwa. 

Makanya tak heran kalau fenomena ini cuma bisa ditemukan di negara-negara yang berada sekitar khatulistiwa. 

Pertemuan udara panas dari kedua angin tersebut kemudian bergerak naik ke atmosfer hingga menyebabkan penurunan suhu awan secara drastis. 

Akibatnya, kondensasi atau pengembunan pun mulai berlangsung yang pada akhirnya membuat awan sampai ke titik jenuh dan memicu proses terjadinya hujan zenithal yang turun ke Bumi. 

Mirip dengan jenis hujan sebelumnya yang ditandai dengan berkumpulnya awan hitam yang gelap, kerap kali bersamaan dengan guntur, bahkan pada saat siang hari dengan matahari yang sedang bersinar dengan teriknya. 

4. Hujan Frontal 

Massa udara dingin bertemu dengan massa udara panas di sebuah area bernama “bidang front”, inilah penyebab terjadinya hujan frontal. 

Perbedaan suhu yang besar di antara kedua massa udara tersebut memicu proses kondensasi yang lama-kelamaan menetes turun ke bawah. 

Penamaannya sendiri berasal dari prosesnya yang berlangsung di daerah front, yaitu kawasan yang menjadi tempat bertemunya udara panas dan dingin.

Daerah front di Bumi berada di bagian Bumi lintang serta negara-negara beriklim subtropis, seperti Jepang, Afrika Selatan, Turki, Irak, hingga Tiongkok. 

Jadi tak heran kenapa di negara beriklim tropis seperti Indonesia hampir tidak mungkin mengalami hujan frontal yang bisa mengakibatkan turunnya salju. 

5. Hujan Orografis 

hujan orografis Sumber: Ilmugeografi.com

Proses terjadinya hujan berikut berada di sekitar kawasan pegunungan yang berasal dari pergerakan udara yang mengandung air dari daerah lembah menuju ke atas dengan bantuan angin. 

Kenaikan udara ini berdampak pada penurunan suhu di kawasan gunung sehingga kondensasi tak dapat dihindarkan yang pada akhirnya memicu hujan orografis. 

Ciri-ciri dari hujan orografis adalah letak terjadinya yang berada hanya di kawasan tinggi pegunungan dan disebabkan oleh angin fohn hingga membuat air mengalir di lereng gunung. 

Proses Terjadinya Hujan 

Manfaat matahari untuk kehidupan manusia seperti tidak akan ada habisnya untuk dibahas. 

Bukan hanya bisa bikin jemuran pakaian jadi cepat kering dan membantu fotosintesis tumbuhan saja, fungsi utama yang tidak kalah penting yang selalu menjadi bagian pertama jika kamu melihat gambar proses terjadinya hujan. 

Panas dari sinar matahari membuat air yang berada di permukaan Bumi seperti laut, sungai, dan danau mengalami penguapan. 

Air tersebut kemudian naik ke atas dan mengalami proses kondensasi atau perubahan zat gas ke cair akibat suhu yang lebih rendah. 

Untuk dapat berubah menjadi embun dalam proses kondensasi, bibit air mesti bertumpu pada objek padat berupa serbuk sari atau debu.

Suhu panas dari sinar matahari lama-kelamaan membuat tetesan air yang berkumpul tersebut membentuk massa padat yang dikenal dengan nama awan. 

Dengan bantuan angin, awan tersebut kemudian mulai bergerak ke daerah dengan suhu yang lebih rendah membawa bibit air. 

Semakin banyak air yang berkumpul maka ukuran awan pun juga ikut membesar dan berakibat pada perubahan warna menjadi kelabu

Saat air yang berada di awan menjadi terlalu berat untuk ditampung, inilah proses terjadinya hujan yang turun ke Bumi. 

Namun jika suhu udara di sekitar awan berada di bawah titik beku (0°C), maka air akan berubah menjadi kristal yang kemudian turun sebagai salju. 

Itu dia proses terjadinya hujan.

Menarik, bukan?

Temukan beragam informasi menarik lainnya di artikel.rumah123.com!

Intip juga proyek properti terbaik di Fatmawati City Center!

Bagikan:
846 kali