OK

Dulunya Pelacur, Wanita Ini Mendadak Jadi Ratu Bajak Laut dengan 80.000 Pasukan dan 800 Armada Kapal

12/02/2022 by Siti Nurhikmah

ching-shih1

Ilustrasi Ching Shih oleh Walt Disney

Seorang pelacur di sebuah rumah bordil terapung di Guangzhou, China bernama Shi Xiang Gu mendadak menjadi seorang ratu bajak laut terkenal dengan 80.000 pasukan dan 800 armada. 

Meski seorang pelacur, ia memang terkenal karena kecerdasan serta pengetahuannya tentang perdagangan rahasia, serta memiliki berbagai trik. 

Dinikahi Bajak Laut Terkenal

Melansir Intisari Online, sebelum menjadi seorang ratu bajak laut, ia dinikahi oleh seorang bajak laut terkenal Cheng I atau disebut Zheng Yi. 

Zheng Yi sendiri memang dikenal dari keluarga bajak laut yang kuat dan telah menjalankan bisnis itu selama beberapa generasi. 

Kecantikan dan kecerdasan yang dimiliki Shi Xiang Gu membuat Zheng Yi tergila-gila. 

Shi Xiang Gu pun menjadi pendamping dalam menjalankan kerajaan bajak laut yang luas milik Zheng Yi.

Kala itu, Zheng Yi memiliki sekitar 200 kapal bajak laut dan merupakan salah satu bajak laut utama di wilayah Guangzhou.

Usai menikah, ia dikenal sebagai Ching Shih dan ikut menjadi bajak laut bersama suaminya. 

Zheng Yi Meninggal Dunia, Ching Shih Jadi Ratu Bajak Laut

Ching Shih

sumber: bolong.id

Zheng Yi  sendiri diakui memiliki kebijakan dan kecerdasan militer yang diakui kalangan bajak laut lainnya. 

Kekuatan bajak lautnya dikenal sebagai “Armada Bendera Merah”.

Para raja bajak laut lain di provinsi Guangdong membentuk aliansi dengannya yang menjadi kekuatan bajak laut utama pada 1804.

Sayangnya, ia harus meninggal di Vietnam pada usia tiga puluh sembilan tahun.

Sepeninggal Zheng Yi, Ching Shih berada pada puncak kepemimpinan pasukan bajak laut suaminya.

Dia membentuk aliansi dengan anak tiri suaminya Cheung Po Tsai, yang diadopsi ketika ia telah berusia dewasa.

Punya 80.000 Pasukan dan 800 Armada Kapal

Cheung Po Tsai merupakan orang yang mewarisi kendali Armada Bendera Merah. 

Namun, Ching Shih kemudian mencari dukungan dari berbagai anggota keluarga mendiang suaminya, yaitu keponakannya Ching Pao-yang dan Ching Chi. 

Hal itu untuk membantunya mendapatkan kesetiaan penuh dari keluarga Zheng Yi.

Ching Shih juga berusaha mengambil langkah untuk mendapatkan loyalitas dari koalisi bajak laut yang dibentuk oleh mendiang suaminya. 

Alhasil, ia mendapatkan kepercayaan dari kapten armada yang paling setia kepada suaminya dan memperluas pengaruhnya pada kapten lainnya.

Saat itu, armadanya terdiri dari sekitar 800 kapal dengan berbagai ukuran dan memiliki sekitar 80.000 pasukan.

Dalam waktu singkat Armada Bendera Merah di bawah komando Ching Shih membangun dominasinya atas Laut China Selatan.

Mengalami Kekalahan di Pertempuran Mulut Harimau

Kala itu kelompok bajak laut Ching Shih menyerang banyak kota dan desa untuk merampok mereka. 

Di salah satu desa bernama Sanshan, armadanya dilaporkan telah memenggal lebih dari 80 pria serta menjual istri dan anak-anak mereka sebagai budak.

Pada September 1809 hingga Januari 1810, Armada Bendera Merah akhirnya mengalami kekalahan di tangan armada angkatan laut Portugis di pulau Makau.

Serangkaian pertempuran melawan Armada Bendera Merah itu dikenal dalam sejarah China sebagai “Pertempuran Mulut Harimau”.

Setelah pertempuran itu, Ching Shih tampak kesulitan melanjutkan bisnis bajak lautnya karena Armada Bendera Merah menjadi sangat lemah. 

Setelah 3 tahun terkenal di laut lepas dan kalah dalam Pertempuran Mulut Harimau, Ching Shih akhirnya pensiun pada 1810 dengan menerima tawaran amnesti dari pemerintah China. 

Ia dan Cheung Po Tsai menyerah dan mempertahankan kekayaan yang diperoleh dari pembajakan.

Pasukan bajak lautnya juga diampuni dan kebanyakan dari mereka harus menyerahkan senjata mereka sebagai imbalan atas kebebasan mereka.

Ching Shih Menikah dengan Anak Tirinya

Kemudian, Ching Shih dan Cheung Po Tsai meminta gubernur Guangdong, Zhang Bailing, untuk memutuskan hubungan ibu dan anak dan mengizinkan mereka menikah.

Bahkan, Gubernur Bailing sendiri menjadi saksi dalam upacara pernikahan mereka kala itu.

Dari pernikahan itu, Ching Shih dan Cheng Po Tsai dikaruniai seorang putra dan putri pada 1813.

Sayangnya, setelah 9 tahun membangun keluarga, Cheung Po Tsai meninggal.

Kemudian, Ching Shih dan anak-anaknya pindah ke kota asalnya Guangzhou dan membuka rumah judi dan rumah bordil.

Namun, ia akhirnya meninggal di usia 69 tahun di tempat tidur dikelilingi keluarganya pada tahun 1844.

Jangan lupa kunjungi artikel.rumah123.com untuk dapatkan artikel menarik lainnya seputar properti. 

Kamu juga bisa mencari properti yang sesuai kebutuhanmu seperti Nava Park hanya di Rumah123.com.