Siapa bilang sampah rumah tangga tak memiliki nilai? Yuk, buat pupuk organik cair dengan memanfaatkan sampah di rumah!

pupuk organik cair - Rumah123.com Manfaatkan sampah di rumah untuk membuat pupuk organik cair - Rumah123.com

Masalah sampah merupakan salah satu masalah serius yang belum ditangani dengan tuntas hingga saat ini. 

Bahkan seperti yang dilansir Kompas.com, Ir Suharti M A PhD selaku Deputi Gubernur Bidang Pengendalian Kependudukan dan Kepemukiman Pemprov DKI Jakarta menyebutkan bahwa Jakarta menghasilkan 7.700 ton sampah setiap hari.

Jumlah tersebut meningkat dari tahun ke tahun. Dalam lima tahun terakhir, peningkatan jumlah sampah di DKI Jakarta bertambah hingga 36%.

Tanpa penanganan yang baik, masalah sampah bisa mengancam kehidupan manusia karena mengakibatkan pencemaran, polusi air, polusi tanah, dan polusi udara.

Membuat pupuk organik cair, alternatif pintar pengelolaan sampah yang bisa dilakukan

Sebagai penghuni bumi, sudah sepatutnya kita mulai menjaga lingkungan, salah satunya dengan cara mengelola sampah di rumah sendiri.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan dalam mengelola sampah. Mulai dari metode penumpukan, pembakaran, hingga pengomposan.

Dari sejumlah cara di atas, bisa dibilang pengomposan merupakan yang paling efektif untuk dilakukan.

Mengapa demikian?

Metode penumpukan, artinya membiarkan sampah membusuk menjadi bahan organik. Murah dan mudah memang, tapi berisiko menimbulkan penyakit, seperti demam berdarah salah satunya.

Metode pembakaran, paling sering dilakukan masyarakat Indonesia. Padahal, hasil pembakaran sampah rumah tangga bisa menghasilkan senyawa berbahaya. 

Pengomposan, merupakan metode dimana sampah dikelola menjadi pupuk organik cair maupun padat. Cara satu ini merupakan langkah sederhana yang tak menimbulkan efek samping pada lingkungan.

Mengenal pupuk organik cair, apa bedanya dengan yang padat?

Seperti yang telah disebutkan di atas, mengelola sampah menjadi pupuk organik merupakan alternatif terbaik yang bisa dilakukan.

Pupuk organik sendiri terdiri dari dua jenis jika dilihat dari bentuknya, yaitu pupuk organik cair, dan pupuk organik padat. Apa perbedaannya?

Keduanya sama-sama berasal dari limbah organik. Baik itu dari sampah organik, sisa-sisa pelapukan tanaman, kotoran hewan, atau kotoran manusia.

Perbedaannya hanya ada pada bentuknya saja. Pupuk cair berbentuk larutan, sedangkan pupuk padat berbentuk padat.

Walaupun hanya berbeda bentuk, pupuk cair lebih populer dan banyak dikembangkan belakangan ini ketimbang pupuk padat. 

Sebab, baik itu petani asli maupun petani rumahan tidak akan kesulitan untuk memberikan pupuk pada tanaman bahkan hingga bagian daun dan batang. 

Penggunaan pupuk cair pada daun dan batang dipercaya mampu mengurangi penyakit, meningkatkan nutrisi, dan mengurangi racun pada tanaman.

Kualitas gizi dan rasa sayuran yang dipanen pun bisa menjadi lebih baik setelah dipupuk dengan pupuk cair.

Cara membuat pupuk organik cair dengan memanfaatkan sampah di rumah

Bagaimana? Tertarik untuk membuat pupuk cair sendiri di rumah? 

Dari beberapa pilihan limbah organik yang biasa digunakan untuk membuat pupuk cair, kamu bisa memulainya dari yang paling mudah yaitu sampah rumah tangga. 

Tak cuma menjadi bentuk cinta terhadap lingkungan, kamu sekaligus menjadikan sampah yang tak bernilai di rumah menjadi sesuatu yang bermanfaat!

Cara membuatnya pun ternyata gampang kok. Bahkan sejumlah influencer media sosial seperti Andra Alodita sudah melakukannya.

Nah, merangkum buku ‘Sukses Membuat Pupuk Cair’ karangan Dr. Puspita L, ini dia cara membuat pupuk cair dari sampah organik yang bisa kamu lakukan di rumah!

1. Mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan

Pertama-tama tentu kamu harus mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan. 

Siapkan bak plastik atau drum bekas ember.

Pisahkan sampah organik, sampah non-organik, dan sampah yang bisa didaur ulang. 

Beri beberapa lubang pada bagian dasar bak plastik/drum bekas untuk mengeluarkan kelebihan air. 

Beri tanah atau paving blok pada bagian bawah bak/drum agar kelebihan air tak merembes ke bawah.

Masukkan sampah organik ke dalam bak plastik/drum bekas.

Tutup bagian atas dengan karung goni atau anyaman bambu. 

Pastikan bak pengomposan berada di bawah atap dan tidak terkena air hujan.

2. Melakukan pengomposan 

Campur satu bagian sampah hijau atau bahan baku yang mengandung kadar nitrogen tinggi (sayur, buah, sisa makanan) dan satu bagian sampah coklat atau bahan baku yang mengandung kadar karbon tinggi (daun kering, potongan rumput).

Ambil top soil (lapisan tanah atas) yang bisa didapatkan dari halaman rumah atau kamu juga bisa membelinya di toko pertanian, atau melalui online.

Tambahkan satu bagian top soil, dan campurkan dengan sampah hijau dan sampah coklat yang sebelumnya sudah disatukan.

Top soil mengandung mikroba aktif yang berfungsi untuk mengolah sampah menjadi kompos. 

Pembuatan bisa sekaligus atau dibuat selapis demi selapis. Misalnya setiap 2 hari ditambah sampah baru. Setiap 7 hari diaduk. 

Pengomposan selesai jika campuran berubah menjadi kehitaman dan tidak berbau sampah.

Pada minggu ke-1 dan ke-2, mikroba mulai bekerja menguraikan membuat kompos, sehinga suhu menjadi sekitar 40 derajat Celcius.

Pada minggu ke-5 dan ke-6, suhu kembali normal. Di tahap ini, kompos sudah jadi.

Ayak terlebih dahulu untuk memisahkan bagian yang kasar.

Kompos yang kasar bisa dicampurkan di bak pengomposan sebagai aktivator.

Tips agar pembuatan pupuk organik cair berhasil 

Keberhasilan pengomposan terletak pada cara kamu dalam mengendalikan suhu, kelembaban dan oksigen agar mikroba bisa memperoleh lingkungan optimal untuk berkembang biak.

Pastikan bahan organik yang terkandung cukup (30-50%), dan mendapatkan udara segar.

Akan lebih baik lagi jika sampah organik dicacah menjadi potongan kecil.

Untuk mempercepat proses pengomposan, mengurangi bau, dan menambah hara yang diperlukan tanaman, tambahkan inokulum mikro organisme atau bioaktivator berupa larutan effective microorganism yang bisa dibeli di toko pertanian.

Bagikan:
16371 kali