Pembagian harta warisan merupakan hal yang sensitif. Sekalinya ada kesalahan dalam perhitungan, bisa-bisa hubungan keluarga akan berantakan.

Terdapat aturan dalam pembagian harta warisan berupa rumah dalam Islam - rumah123.com Terdapat aturan dalam pembagian harta warisan berupa rumah dalam Islam (Rumah123.com/Getty Images)
Urusan bagi harta warisan kadang membuat susah.

Apalagi jika warisan tersebut berupa rumah yang masih ditinggali oleh anggota keluarga.

Ketika sang pewaris meninggal dunia, apakah rumah warisan harus segera dibagi?

Jika ya, bagaimana dengan nasib anggota keluarga yang masih menempati rumah tersebut? 

Terdapat aturan pembagian harta warisan yang bisa diikuti untuk memecahkan persoalan ini.

Di Indonesia sendiri, ada beberapa hukum waris yang berlaku.

Salah satu yang banyak diterapkan adalah hukum waris Islam, mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. 

Aturan mengenai pembagian harta warisan menurut Islam 

Pada prinsipnya, tidak boleh ada harta yang tak bertuan.

Ketika sang pemilik harta meninggal dunia, artinya tuan berikutnya adalah ahli waris.

Jumlah ahli waris tersebut juga tak hanya satu.

Ada banyak pihak yang termasuk ke dalam jajaran ahli waris, dimana masing-masing punya bagian hak yang ditetapkan. 

Kelompok-kelompok ahli waris menurut KHI

Merujuk dari Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam,  kelompok ahli waris dibagi menjadi berikut ini:

- Menurut hubungan darah: ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman, kakek, ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan nenek

- Menurut hubungan perkawinan: janda atau duda

- Apabila semua ahli waris masih ada, maka yang berhak mendapat warisan hanya: anak, ayah, ibu, janda atau duda.

Pembagian harta warisan berupa rumah

pembagian harta warisan - Rumah123.com

Lalu bagaimana jika harta warisan yang ditinggalkan berupa rumah, sedangkan rumah tersebut masih dihuni oleh anggota keluarga lain yang masuk ke dalam kelompok ahli waris?

Haruskah rumah tersebut segera dijual sehingga penghuninya harus angkat kaki dari sana? 

Ibnu Abdin (w. 1252 H) di dalam kitabnya, Hasyiatu Ibnu Abdin, menuliskan definisi waris sebagai berikut:

عِلْم بِأُصُول مِنْ فِقْه وَحِسَاب تُعرفُ حَقَّ كُلٍّ فِي التَّرِكَةِ

Ilmu tentang dasar-dasar fiqih dan perhitungan, yang dengannya dapat diketahui hak-hak tiap orang dalam pembagian harta peninggalan. [1]

Menurut pendapat Ahmad Sarwat, Lc., MA dalam tulisannya di situs Rumahfiqih.com, dari definisi ulama di atas, tak ada urusan jual menjual aset dalam hal pembagian warisan.

Yang ada hanyalah menetapkan hak-hak setiap orang atas harta warisan tersebut.

Begitu pun dalam pembagian rumah warisan menurut Islam. 

Para ahli waris tak harus menjual rumah tersebut lalu membagi uang hasil penjualan rumah sesuai porsi hak masing-masing. 

Menjual rumah peninggalan orang tua

Tak sedikit yang bertanya-tanya "Apakah rumah peninggalan orang tua boleh dijual?"

Menurut Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com), harta warisan, jika sudah dibagi ke masing-masing ahli waris, dan sudah tidak ada lagi bagian yang masih disengketakan, maka statusnya sudah berpindah tangan ke ahli waris.

Artinya, menjadi hak milik ahli waris. Setelah menjadi miliknya, ahli waris berhak untuk melakukan apapun dengan harta itu.

Boleh dia jual, boleh juga dia hibahkan, atau disedekahkan, atau untuk aktivitas lainnya.

Ahli waris tak selalu harus menjual rumah warisan

Walaupun menjual rumah warisan peninggalan orang tua diperbolehkan, para ahli waris juga harus membagi persentase hak kepemilikan atas rumah secara adil.

Atau bahkan, ahli waris juga tak selalu harus menjual rumah warisan tersebut.

Rumah bisa juga menjadi milik bersama, dengan nilai sesuai jatah masing-masing.

Misalnya, seorang ibu meninggal dunia dan mewariskan sebuah rumah.

Ahli waris dari rumah tersebut adalah dua anak perempuannya.

Jika mengikuti aturan pembagian harta warisan menurut KHI, artinya, masing-masing anak perempuan memiliki hak atas rumah tersebut sebesar 2/3 bagian. 

Rumah tak harus dijual jika memang tak begitu penting.

Yang dibagi-bagi dalam hal ini adalah nilai kepemilikan akan rumah, bukan uang hasil penjualan rumah. 

Hal yang harus dilakukan jika rumah masih dihuni salah satu ahli waris

Bagaimana dengan hukum menempati rumah warisan?

Setelah dibagi sesuai hak masing-masing, apakah salah satu ahli waris ada yang menghuni rumah tersebut harus segera pergi?

Tentu saja tidak, apalagi jika si ahli waris belum punya tempat tinggal baru.

Jika ahli waris satunya membutuhkan uang dan mau rumah tersebut dijual, maka para ahli waris bisa berunding dan bernegosiasi. 

Ahli Waris 1 bisa membeli hak Ahli Waris 2 dan membayarkan sejumlah uang senilai hak tersebut.

Dengan begitu, ahli waris yang sudah setuju untuk dibeli hak-nya akan kehilangan hak atas warisan tersebut. 

Cara pembagian harta warisan berupa tanah

Pembagian warisan berupa tanah didasarkan pada hukum waris perdata dan Islam. Semuanya tercantum dalam Pasal 189 Gabungan Hukum Islam dengan bunyi sebagai berikut :

Apabila warisan yang juga akan dibagi berbentuk tempat pertanian yang luasnya kurang dari dua hektare, agar dipertahankan kesatuannya seperti awal mulanya, serta digunakan untuk kebutuhan dengan beberapa pakar waris yang berkaitan.

Apabila ketetapan itu pada ayat (1) pasal ini tidak bisa saja karena di antara beberapa pakar waris yang berkaitan ada yang membutuhkan, uang jadi tempat itu bisa dipunyai oleh seseorang atau lebih pakar waris yang lewat cara membayar harga nya pada pakar waris yang memiliki hak sesuai sama bagiannya semasing.

Bagikan:
272195 kali