OK

Kisah Tragis Warga Tionghoa Rayakan Hari Imlek Sebelum Kemerdekaan. Harta dan Nyawa Dirampas Tentara!

31/01/2022 by Siti Nurhikmah

Imlek Tempo Doeloe

Sumber : Republika

Hari Raya Imlek memang menjadi momen yang sangat dinantikan bagi sebagian warga Indonesia berdarah Tionghoa.

Waktu tersebut sering digunakan untuk berkumpul bersama keluarga, saudara dan orang terdekat.

Selain itu, Imlek juga identik dengan tradisi bagi-bagi angpao yang banyak dinantikan.

Terlepas dari hal itu, hari Imlek di Indonesia juga sempat mengalami masa kelam sebelum Kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Bahkan salah satunya sempat dialami oleh warga Tionghoa yang mengalami kisah cukup tragis.

Penasaran seperti apa kisahnya?

Yuk, langsung saja kita simak kisah tragis warga Tionghoa rayakan Hari Imlek sebelum Kemerdekaan berikut ini.

Kisah Tragis Warga Tionghoa Rayakan Hari Imlek Sebelum Kemerdekaan

kisah tragis hari imlek sebelum kemerdekaan

Sumber: Repro

Melansir Okezone, Masyarakat Tionghoa tidak merayakan Imlek karena menganggap masih banyak dari mereka yang hidupnya menderita akibat penjajahan Jepang. 

Banyak orang-orang Tionghoa pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) yang ditangkap, dipenjarakan, dan kemudian tidak jelas nasibnya. 

Marcus A.S dalam buku “ Hari-Hari Raya Tionghoa” menyebut, Imlek belum bisa dirayakan karena situasi negara di awal kemerdekaan belum sepenuhnya kondusif, terutama di Jakarta dan sekitarnya. 

“Situasi negara ketika itu belum tentram dan di Jakarta masih terjadi zaman “siap-siapan”,” tulis Marcus A.S. 

“Siap-siapan” merupakan istilah yang merujuk pada peristiwa serangan mendadak dari musuh. Yakni biasanya serangan dari penjajah Belanda maupun Jepang. 

Setiap terjadi serangan, orang biasanya akan berteriak : Siap!Siap!. 

“Kemudian kita menamakan zaman siap-siapan,” tambah Marcus dalam “Hari-Hari Raya Tionghoa”. 

Tidak heran bila saat itu banyak orang Tionghoa yang tidak berani berziarah ke makam leluhurnya. 

Situasi terus berlanjut hingga permulaan tahun 1947. 

Meletusnya insiden-insiden di sekitar wilayah Tangerang pada tahun 1946 membuat Hari Imlek juga tidak lagi dirayakan. 

Orang-orang Tionghoa menganggap sangat keterlaluan bila mereka bergembira, sementara saudara-saudara mereka sedang tertimpa bencana. 

Bahkan banyak yang kehilangan harta dan jiwa sanak familinya. 

“Maka tahun baru Imlek waktu itu tidak mereka rayakan,” tulis Marcus A.S. Pada tahun 1948, Imlek juga belum bisa dirayakan. 

Agresi Militer Jadi Saksi Tragisnya Hari Imlek Pasca Kemerdekaan Republik Indonesia

Glodok-Tempo-Dulu Tionghoa

Sumber : Jakartakita.com

Orang-orang Tionghoa yang belum menjadi warga negara Indonesia terbebani perang saudara yang berkecamuk di Tiongkok. 

Harapan mereka tentang cita-cita “Satu Tiongkok” makmur, buyar. Begitu juga dengan tahun 1949. 

Belanda melancarkan agresi militer ke dua dan banyak orang Tionghoa menjadi korban. 

Tidak sedikit rumah-rumah orang Tionghoa dibakar. 

Banyak yang kehilangan harta, nyawa maupun sanak famili. 

Banyak yang kemudian tidak memiliki tempat tinggal, bercerai dan kehilangan anak.

Beribu-ribu orang berada dalam situasi mencekam sekaligus kekurangan sandang pangan, saat Hari Imlek.

“Tahun baru (Imlek) masih dianggap tidak pantas untuk dirayakan,” kata Marcus A.S. Lepas dari tahun 1949, situasi Indonesia berangsur-angsur membaik. 

Sehingga pada saat itu orang-orang Tionghoa mulai berani merayakan tahun baru dan hari Imlek, meskipun tidak secara besar-besaran.

Nah, itulah  kisah tragis warga Tionghoa rayakan Hari Imlek sebelum Kemerdekaan yang bisa kamu ketahui.

Semoga bermanfaat, ya!

Jika kamu sedang mencari rumah, apartemen, tanah atau yang lainnya di marketplace properti tepercaya dan aman, bisa mengunjungi laman Rumah123.com dan 99.co untuk mendapatkan penawaran terbaik seperti di The Kensington Royal Suite Jakarta Utara.

Buka lembaran baru dan wujudkan impianmu, kami selalu #AdaBuatKamu.

Jangan sampai ketinggalan untuk mendapatkan berita dan tips terbaru mengenai dunia properti dalam negeri serta mancanegara di artikel Rumah123.com.