OK
Dijual
Disewa
Properti Baru
Panduan

8 Dongeng Si Kancil Terbaik untuk Anak yang Penuh Pesan Moral

26 Juni 2023 · 14 min read Author: Maskah Alghofar

cerita si kancil

Sumber: Shutterstock.com

Dongeng si Kancil memiliki pesan moral yang mendalam dan dapat mengajarkan anak-anak cara hidup bijak. Berikut sejumlah cerita si kancil yang bisa jadi pelajaran.

Banyak orang yang mungkin sudah tidak asing mendengar cerita si Kancil.

Dongeng pendek kancil memang terkenal menjadi teman bagi anak-anak, terutama untuk menemani tidur malam.

Karakter Kancil yang terkenal penuh kecerdikan dan kecerdasan mampu menghibur sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi anak-anak.

Bagaimana tidak, setiap dongeng kancil menyelipkan pesan moral yang bijak untuk para pembacanya.

Mulai dari cerita Kancil yang Bijak hingga karakternya yang agak nyeleneh cocok menjadi hiburan edukatif bagi anak-anak.

Akan tetapi, tahukah kamu kalau cerita si Kancil ada banyak temanya, lo.

Berikut ini ulasan sejumlah dongeng kancil terbaik yang penuh pesan moral dan bermakna mendalam.

8 Cerita Dongeng Si Kancil Terbaik Sepanjang Masa

Cerita si Kancil dalam artikel ini terdiri dari delapan dongeng Kancil pilihan terbaik.

Setiap kisah dongeng pendek kancil ini masing-masing memiliki pesan moral yang kuat.

Melalui petualangan Si Kancil, pembaca akan diajak mengenali nilai-nilai seperti kecerdikan, kejujuran, kerja keras, kerjasama, dan konsekuensi dari tindakan.

Berikut sejumlah contoh cerita dongeng si kancil yang bisa kamu jadikan pelajaran.

1. Cerita Kancil yang Banyak Akal

Cerita Pendek Sikancil yang Banyak Akal 

Kisah si Kancil ini ditulis oleh Rahimidin Zahari dan Jaatar Taib.

Dongeng Kancil bermula ketika kancil melihat banyak pohon buah tumbuh di area seberang sungai.

Karena aliran airnya deras, kancil kesulitan untuk melompat dengan kemampuannya sendiri.

Ia lalu menemukan ide cemerlang dan memanggil seekor buaya sebagai langkah pertama.

“Hey, buaya keluarlah, aku punya kabar gembira!” seru kancil.

Kancil mengaku akan membagikan daging segar untuk seluruh buaya di sungai.

Agar ia bisa membagikannya dengan adil, kancil meminta para buaya berbaris rapi.

“Berbarislah agar aku bisa menghitung berapa jumlah kalian,” perintahnya.

Buaya yang percaya pada ucapan kancil kemudian mulai berbaris membentuk sebuah jembatan.

Kesempatan ini kancil gunakan untuk menyeberang sungai sembari berpura-pura menghitung.

Sesampainya di area seberang, ia pun tertawa terbahak-bahak.

“Sebenarnya aku tidak punya daging, aku hanya membutuhkan bantuan kalian untuk menyeberang, hahaha,” kata kancil.

Para buaya yang marah pun mencoba menangkapnya, tetapi kancil sudah terlanjur lari menjauh dari tepi sungai.

2. Dongeng si Kancil dan Harimau

Cerita Fiksi si Kancil dan Harimau 

Kancil sedang merumput ketika tiba-tiba seekor harimau menghampirinya, “Hehe, nasibku baik sekali, siang ini aku akan makan Kancil yang enak.”

Kancil terkejut, dan dia sudah terpojok, namun dia berusaha tenang.

“Tuan Harimau, kau memang luar biasa,” puji Kancil “Tetapi rajaku pernah bilang bahwa siapapun yang akan memakan rakyatnya harus seijin beliau.”

“Jadi kamu selama ini punya raja?” Harimau mengejek. “Aku tidak takut.”

“Baginda Raja berkata, jika rakyatnya diganggu, dia akan mengejar pengganggu tersebut dan keluarganya. Bayangkan jika dia mengejar anak-anak Tuan Harimau.”

“Memang dia sekuat apa, sih?” Harimau menjadi gusar.

“Rajaku sangat kuat tetapi rendah hati. Tidak ada binatang lain yang bisa menyainginya. Beliau pernah mengalahkan Gajah”

“Aku tidak percaya, Kancil!” kata Harimau kesal.

“Beliau tidak suka dipuji apalagi menyombongkan diri. Namun, kami sebagai rakyatnya bisa melihat bukti kekuatannya.”

Merasa tertantang, Harimau berkata, “Di mana istana rajamu!”

“Tidak, Tuan Harimau. Yang Mulia Rajaku tidak ingin diketahui tempat tinggalnya meski dia berada di istana yang mewah.

“Tunjukkan atau aku makan kamu sekarang!” erang Harimau. Mereka berjalan sampai ke sebuah sumur.

“Ah, Yang Mulia Raja sedang tidur rupanya,” bisik Kancil menempelkan telinganya ke dinding sumur.

“Kenapa kamu berbisik-bisik? Bangunkan dia!” Harimau tidak sabar. Ia maju dan melongok ke bibir sumur kemudian berteriak “Raja Kancil, keluarlah!”

Teriakan itu menggema “Aaaaaah!” dari dalam sumur. Harimau mundur selangkah, mengira itu jawaban dari raja si Kancil. Lalu maju lagi.

“Cukup, Tuan Harimau,” Kancil membujuk “B-baginda R-rajaku di dalam sana marah sekali,” Kancil bersikap gelisah. “Lebih baik Tuan Harimau pulang saja.”

“Tidak, aku mau bertemu dia!” kata Harimau, disambut dengan “Yaaaaa!” dari dalam sumur.

“Aku akan ke tempatmu sekarang!” kata Harimau lagi, disambut dengan gema “Aaaaang!”

“Hmm, Kancil, aku mau masuk, bagaimana caranya?”

“Jika memang Tuan Harimau siap, silakan naik ke ember itu, aku akan membantu Tuan ke bawah dengan tali itu bertemu Raja,” kata Kancil dengan lagak ketakutan.

Harimau menaiki ember, dan Kancil pun mengerek tali ember pelan-pelan. Di pertengahan, Kancil menggoyang tali ember, hingga Harimau kehilangan keseimbangan. “Byuuur!” Harimau terjatuh ke sumur.

Kancil berlari meninggalkan sumur dan berteriak “Silahkan ngobrol dengan Baginda Raja, Tuan Harimau!”

“Awas kau, Kancill!” teriak Harimau dari dalam sumur.

3. Kisah si Kancil dan Buaya yang Tidak Tahu Terima Kasih

Cerita si Kancil, Sapi, dan Buaya Jahat

Dongeng si Kancil ini merupakan cerita fabel dengan karakter tiga binatang.

Kisah si Kancil bermulai dari seekor buaya yang terjebak di bawah bebatuan.

Buaya pun meminta tolong kepada siapapun yang lewat.

“Aduh, tolong! Tolong aku,”

Sapi mendengar rintihan dari balik batu. “Siapa dan di mana kamu?”

“Aku, si Buaya. Sekarang aku ada di bawah tumpukan batu-batu ini, aku terjebak dari pagi. Aku sedang berjalan, dan tiba-tiba sejumlah batu menimpaku, sampai tubuhku pun berdarah.”

Sapi merasa ragu-ragu sejenak, ia berniat untuk meninggalkan tempat itu segera. Tetapi berpikir bahwa Buaya memerlukan pertolongan, akhirnya Sapi setuju membantu mengangkat bebatuan itu.

“Aaah, terimakasih Sapi. Tanpamu aku tidak akan terlepas dari batu-batu itu.” Kata Buaya. Terlihat wajahnya terluka dan kakinya pun mengeluarkan darah.

“Sama-sama, Buaya,” jawab Sapi sambil beranjak hendak pergi. “Aku, pergi dulu, ya.”

“Eeeh, mau kemana, Sapi? Kamu tega meninggalkanku di sini, sementara kakiku tidak bisa berjalan?” tanya Buaya dengan air mata meleleh. Sapi merasa iba.

“Kumohon bantulah gendong aku dan antarkan ke sungai.” Kata Buaya. “Aku tidak bisa kemana-mana dengan kaki berdarah begini.

Sapi berlutut, dan Buaya menaiki punggungnya. “Terimakasih, Sapi.”

Mereka berjalan menuju ke sungai. Sesampainya di sana, Buaya menolak turun. “Aku lapar, Sapi, kelihatannya daging punggungmu ini enak juga.”

Sapi mulai ketakutan dan menangis, “Jangan, Buaya, aku sudah menolongmu. Mengapa kamu jahat?” Buaya tetap tidak peduli, dia membuka mulut dan bersiap menggigit punggung sapi.

“Loh, Sapi, kenapa kamu menangis?” tanya Kancil yang tiba di sungai yang sama. “Kenapa Buaya ada di gendonganmu?”

Sapi pun bercerita tentang bagaimana bisa Buaya ada di gendongannya dari awal sampai akhir.

“Hmm, tapi, memang betul, sih, pertolongan harus diberikan sampai tuntas.” Kata Kancil sambil merenung. Air mata si Sapi semakin deras dan Buaya semakin senang.

“Tapi, aku tidak percaya Buaya ini memang tertimpa batu saat kau datang, Sapi. Kenapa Buaya sehebat ini tidak bisa bergerak sampai kamu harus menolongnya?”

Buaya kesal. “Ayo, Sapi, tunjukkan tempat di mana batu-batu itu berada, supaya Kancil melihat besarnya seperti apa.”

Mereka bertiga kembali ke tempat itu. Batu-batu besar itu masih ada.

“Di mana si Buaya itu tadinya berada? Dan bagaimana batu-batuan itu menimpanya?” tanya Kancil.

Lalu Buaya turun dan merangkak menuju tempatnya semula. Lalu Sapi meletakkan bebatuan di atasnya, persis seperti saat ia menemjukan Buaya.

“Begini, loh, tadi aku terjepit seperti ini,” kata Buaya dengan suara samar-samar karena batu-batu di atasnya. “Percaya, kan, sekarang, jika aku benar-benar tidak bisa bergerak?”

“Ooh, begitu. Ya, aku percaya sekarang,” kata Kancil. Lalu berkata kepada Sapi, “Ayo, Sapi, kita tinggalkan dia di sini.”

“Hey, tunggu! Kalian mau kemana? Hey, aku masih di sini.”

Tetapi, Kancil dan Sapi sudah tidak ada di tempat itu, meninggalkan Buaya yang tidak tahu terima kasih.

4. Cerita Kancil yang Bijak dan Kelinci

Kisah Cerita Kancil yang Bijak 

Kelinci sangat suka menyantap wortel dan sayuran, tetapi ia tidak pernah membersihkan giginya setelah makan.

Sebagai sahabat, kancil lantas mencoba untuk mengingatkannya.

“Kelinci, setelah kau makan bersihkanlah gigimu. Jika tidak, gigimu pasti akan sakit dan kau tidak dapat makan lagi,” nasihat Kancil.

Namun, kelinci sama sekali tidak menggubrisnya dan tetap asyik mengunyah makanan kesukaannya.

Suatu hari, kancil melihatnya tengah termenung di pinggir sekeranjang wortel segar.

“Kenapa kau terlihat sangat sedih?” tanya kancil.

“Aku sakit gigi sampai tidak bisa makan, padahal perutku lapar,” jelas kelinci.

Merasa kasihan pada si kelinci, kancil lantas membawanya ke kura-kura untuk diperiksa.

Setibanya di sana, kura-kura lantas memarahinya karena jarang membersihkan gigi.

“Sisa makanan yang sudah kita makan akan mengakibatkan lubang dan menyebabkan gigi kita ngilu dan sakit,” ujar kura-kura.

Setelah mendengar itu, kelinci pun mulai berubah hingga giginya kembali sehat dan bisa makan seperti biasa.

5. Dongeng Sang Kancil dan Tikus

Cerita di Kancil dan Tikus yang Tidak Tahu Terima Kasih

Cerita karya Budi Dermawan ini bermula dari kancil yang menyelamatkan seekor tikus yang terjerat oleh jebakan pemburu.

Ia melepaskan jebakan tersebut dan mengingatkan tikus untuk lebih berhati-hati.

Beberapa hari kemudian, kancil sedang asik memakan daun ketika seorang pemburu melihatnya.

Sang pemburu lantas menodongkan senjatanya tepat ke tubuh kancil.

Namun, tepat pada saat itu tikus melihat hal tersebut dan langsung mengigit kaki Pemburu.

“Argggh!” teriak pemburu kesakitan.

Akibatnya, tembakannya pun meleset dan kacil bisa kabur setelah menyadari bahaya yang mengintai.

“Aku sangat berterimakasih kepadamu tikus,” kata kancil.

“Sama-sama, ayo kita harus secepatnya pergi dari sini,” sahut tikus.

6. Dongeng Pendek Kancil dan Siput

Dongeng si Kancil dan Siput 

Si kancil merasa kalau dirinya paling hebat. Kancil yakin paling cerdik dan pandai di antara semua binatang hutan. Saking yakinnya, suatu hari Kancil menyombongkan diri di depan binatang lainnya.

“Kalian tidak akan menemukan binatang secerdik dan sepintar aku!” serunya sambil melompat-lompat di depan teman-temannya yang sedang mencari makan.

Si Kancil berseru-seru terus dengan penuh semangat menyombongkan diri. Semua temannya merasa kesal dengan kelakuan Kancil yang mendadak jadi sombong. Mereka memang mengakui kecerdikan si Kancil, tapi tidak suka dengan tingkahnya hari ini.

Siput juga mendengar tentang kesombongan Kancil. Ia menunggu-nunggu Kancil lewat di depannya.

“Hai, Kancil. Kamu kelihatan senang sekali hari ini,” tegur Siput ketika Kancil lewat.

Kancil menghampiri Siput dengan penuh percaya diri. “Tentu saja, kawan. Karena aku adalah binatang paling cerdik!” serunya.

Siput mendengus kesal. “Kamu salah, Kancil! Akulah yang paling cerdik!” bantah Siput tegas. “Untuk membuktikannya aku menantangmu lomba lari,” ucap Siput.

Kancil tertawa keras. “Mana mungkin kamu lebih cerdik dari aku. Mana mungkin juga kamu yang sekecil itu menang lomba lari,” hinanya sambil tertawa.

Tapi Siput bersikeras untuk lomba lari. Akhirnya Kancil menyanggupi tantangan itu sambil tak henti tertawa. Si Siput membiarkan Kancil tertawa senang. Padahal ia telah merencanakan sesuatu yang cerdik. Siput mengumpulkan saudara dan teman siputnya. Kemudian ia meminta agar besok mereka berbaris sepanjang jalur lomba lari.

“Ingat. Setiap Kancil memanggil aku, kalian yang harus menjawab!” perintahnya pada semua siput.

Keesokan harinya si Kancil berlomba dengan senang hati. Pada saat hitungan ketiga diteriakkan oleh wasit, si Kancil dan siput langsung berlari kencang. Tentu saja larinya siput tidak akan mungkin kencang. Kancil pun meyakini hal itu. itu sebabnya ia berlari kencang dengan gembira.

Kancil berhenti ketika yakin sudah jauh meninggalkan Siput. “Hei, Siput kamu di mana?” teriaknya ke arah belakang.

“Aku di sini!” jawab Siput dari arah depan.

Kancil terkejut ketika mendengar jawaban Siput dari arah depan. Kemudian bergegas berlari secepat mungkin lagi. Padahal ia yakin kalau Siput ada di belakangnya tadi. Setelah berlari cukup jauh, si Kancil berhenti lagi.

“Hei, Siput! Kamu pasti di belakang, ‘kan?” teriaknya memanggil-manggil.

“Tidak. Aku di depan!” jawab Siput lagi.

Kancil terkejut, bagaimana mungkin Siput ada di depannya terus? Kancil lalu berlari lagi sekuat tenaga. Ia sama sekali tidak menyadari kalau yang menjawab adalah siput-siput yang lain. Kejadian itu berulang beberapa kali, sampai akhirnya garis finish terlihat.

Kancil berlari sekencang mungkin untuk melewati garis finish. Ia yakin Siput telah kalah.

“Lihat aku menang!” Si Kancil berseru-seru kegirangan.

Tiba-tiba terdengar suara Siput yang membuat Kancil jatuh terduduk karena kaget. “Kamu salah! Aku sudah dari tadi di sini.” Si Siput menghampiri Kancil yang tengah terkejut.

“Kamu mengalahkanku!” seru Kancil tak percaya.

“Tentu saja. Jadi aku lebih cerdik darimu bukan?” tanya Siput, senang melihat Kancil yang tengah kecewa.

“Iya, kamu lebih cerdik dari aku,” jawab Kancil sedih dan malu.

Kancil kemudian meminta maaf pada Siput karena telah sombong. Siput memaafkannya, dan berkata pasti ada yang lebih cerdik dari mereka berdua. Itu sebabnya sombong itu tidak baik. Karena setiap binatang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

7. Cerita Dongeng si Kancil dan Serigala Pemarah

Cerita si Kancil dan Serigala Pemarah 

Dongeng si kancil ini bermula ketika seekor serigala tengah beristirahat di tepi sungai.

Tiba-tiba, ia mendengar suara ranting patah yang terinjak oleh si kancil.

Serigala yang merasa lapar lantas mencoba menyergapnya, sementara kancil berusaha lari dan sembunyi.

Lelah akibat berlari, kancil lantas berhenti dan menyapa serigala dengan santai, “Ada apa Tuan Serigala? Sudah lama kita tidak bertemu,”.

“Sudah lama aku mencarimu kesana kemari. Sekarang jangan banyak bicara lagi. Hari ini kamu akan menjadi santapanku! Aku adalah raja hutan! Siapa saja harus tunduk padaku!” seru serigala dengan sombong.

“Raja hutan? Siapa? Kau raja hutan ini? Sebelum aku sampai disini, aku bertemu dengan dengan serigala lain yang mengaku sebagai Raja Hutan. Ia juga ingin memangsaku seperti kau saat ini,” ujar kancil.

“Namun, karena aku kehausan, akhirnya aku meminta izin untuk minum dan kembali lagi menemuinya. Jika kamu ingin memangsaku, sebaiknya kamu mengalahkannya karena dagingku terlalu sedikit untuk dibagi dua,” jelasnya lebih lanjut.

“Benarkah? Siapa yang berani mengaku sebagai Raja di hutan ini selain aku? Di mana dia sekarang?” tanya serigala dengan marah.

Kancil lantas membawa si serigala ke sebuah sumur tua di tengah hutan.

“Inilah sumur tua tempat tinggal Raja Serigala gagah perkasa yang aku ceritakan. Aku ragu kau bisa mengalahkannya!” kata kancil memprovokasi serigala.

Serigala yang marah lantas menengok ke bawah dan melihat pantulan wajahnya sendiri di air.

Tanpa berpikir panjang, ia langsung melompat ke dalam sumur untuk menyergap serigala tersebut.

Betapa terkejutnya ia ketika hanya menemukan air di dalam sumur.

Menyadari telah tertipu oleh kancil, serigala hanya bisa pasrah ketika tubuhnya perlahan tenggelam ke dasar.

8. Kisah si Kancil dan Jerapah

Dongeng si Kancil ini bermulai ketika Jerapah berada di sungai bersama tiga binatang lainnya.

“Awas, minggir!” terdengar suara si Jerapah, mengusir tiga binatang – Kambing, Keledai, dan Domba, yang sedang minum di pinggir sungai “Kalian ini mengganggu hakku.”

Tidak hanya kali ini saja, Jerapah seringkali bersikap arogan dan angkuh dengan ketiga binatang itu setiap bertemu.

Binatang itu tidak diizinkan minum air sungai sampai Jerapa selesai meminumnya.

Kambing, “padahal aku sudah sangat haus sekali.”

“Dia selalu menghina dan semena-mena terhadap kita,” bisik Keledai.

Datanglah seekor Kancil. Tanpa izin, dia mendekat lalu menyeruput air sungai, “Aaaah, segar sekali.”

“Hey, apa yang kamu lakukan? Ini sungaiku. Tidak boleh ada yang minum saat aku minum,” Jerapah berkata dengan sewot.

“Hah? Siapa bilang?” sanggah Kancil. “Sungai ini ada di hutan, dan aku tidak melihat papan tulisan jika sungai ini milikmu, jadi semestinya semua boleh minum.”

“Kamu binatang kecil, jelek, kotor yang menjengkelkan!” seru Jerapah. “Aku bisa menendangmu, atau menaruhmu di dahan pohon yang tinggi dengan kepalaku.”

“Ya, kamu memang tinggi, tapi aku tidak yakin jika kamu bisa berlari cepat untuk menangkapku.”

“Jangan menantang, kau akan menyesal, Kancil!” Jerapah berteriak marah.

“Ayo, buktikan. Kejar aku sekarang,” kata Kancil. Jerapah berjalan mendekati dan Kancil mulai berlari.

Kancil berlari sangat kencang, melewati batu-batu, pohon, ilalang, dengan zigzag.

Meskipun kakinya sangat panjang, namun Jerapah agak kesulitan mengejar Kancil.

Lehernya yang tinggi membuat dia kesulitan melihat ke bawah sehingga ia sering tersandung dan tersangkut di dahan tinggi.

Kancil sampai ke sebuah gua, lalu masuk ke dalam. Jerapah menyusulnya. Semakin dalam, semakin gelap dan sempit. Batuan Stalaktit di atap gua menusuk-nusuk wajah dan kepala Jerapah.

“Aduuuh, kepalaku!” jerit Jerapah. Ia berhenti masuk gua, “Tolong, aku kesakitan”.

Kancil pun berhenti. Ia berbalik mencari si Jerapah.

“Aduh, kau menginjak badanku.” seru Jerapah, karena dia terbaring sementara kepalanya berdarah

“Maafkan aku. Disini gelap sekali,” kata Kancil. “Ayo, aku tolong kau untuk berdiri, dan menuju ke cahaya itu.”

Cahaya kecil itu adalah tempat mereka masuk ke gua. Kancil memapah Jerapah keluar dari gua. Ternyata di luar, sudah ada Domba, Keledai, dan Babi menunggu.

“Teman kalian ini perlu pertolongan pertama, adakah yang bisa?”

“Aku bisa,” kata Keledai.

“Aku akan mengambilkan air untuk membersihkan luka-lukanya,” kata Kambing.

“Dan aku akan mengambilkan bulu domba untuk menutup lukamu dan alat P3K,” kata Domba.

“Kenapa kalian baik sekali?” tanya Jerapah dibalik derai air matanya dan wajahnya yang mengeluarkan darah. “Padahal aku sombong dan semena-mena kepada kalian.”

“Ya, memang kamu sombong terhadap kami,” kata Keledai, “Tapi dalam keadaan luka begini dan kamu membutuhkan pertolongan, tidak mungkin kami tinggalkan jika kami bisa menolongmu.”

“Jika dirimu tinggi, kamu bisa mengambil sesuatu dari tempat lebih tinggi, sementara jika kamu pendek, kamu bisa mudah melihat hambatan di bawah. Setiap makhluk memiliki kelebihan dan kekurangan, jadi kita harus saling bekerja sama, bukan malah menghina,” kata Kancil. “Nah, kamu sudah di tangah yang tepat, Jerapah. Aku pamit pergi dulu, ya.”

“Aku minta maaf atas kesombonganku, ya.” kata Jerapah. “Mulai sekarang, mari kita berteman.”

Domba, Keledai, dan Kambing tersenyum mengiyakan.

***

Nah, itulah ulasan cerita dongeng si kancil yang penuh pesan moral.

Semoga artikel ini bermanfaat ya, Property People!

Cari penawaran rumah terbaik seperti di Citralake Sawangan Depok hanya di Rumah123.com.

Jangan sampai ketinggalan juga untuk membaca informasi terkait dunia properti di Artikel.Rumah123.com

Follow juga Google News Rumah123.com.


Tag: ,


Maskah Alghofar

Content Writer

Maskah adalah seorang content writer di 99 Group sejak tahun 2022. Lulusan Penerbitan PoliMedia Jakarta ini mengawali karir sebagai jurnalis online. Kini, Maskah rutin menulis tentang properti, gaya hidup, pendidikan, dan kesehatan.
Selengkapnya

IKLAN

Tutup iklan
×

SCROLL UNTUK TERUS MEMBACA