OK
Dijual
Disewa
Properti Baru
Panduan

10 Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono yang Terkenal dan Legendaris. Menyentuh Hati!

16 Mei 2023 · 4 min read Author: Gadis Saktika

puisi sapardi djoko damono

puisi sapardi djoko damono | sumber: shutterstock.com

Sapardi Djoko Damono dianggap sebagai salah satu maestro Indonesia yang telah menciptakan karya sastra berupa novel dan puisi. Bahkan, oleh sastrawan masa kini, puisi Sapardi Djoko Damono dijadikan sebagai inspirasi karya sastra yang memiliki nilai tinggi.

Bagi masyarakat Indonesia, Sapardi Djoko Damono merupakan sosok yang membanggakan.

Meski karya-karyanya telah terkenal dan begitu fenomenal, sosok penyair Tanah Air ini selalu terlihat bersahaja.

Sapardi lahir di Surakarta, 20 Maret 1940.

Masa mudanya dihabiskan di Surakarta hingga lulus SMA pada tahun 1958. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Rajin menulis sejak duduk di bangku sekolah, membuat Sapardi menulis banyak karya puisi yang ia kirimkan ke beberapa majalah.

Adapun karya puisi Sapardi Djoko Damono yang terkenal, antara lain

  • Duka-Mu Abadi (1969);
  • Mata Pisau (1974);
  • Perahu Kertas (1983);
  • Sihir Hujan (1984);
  • Hujan Bulan Juni (1994);
  • Arloji (1998);
  • Ayat-ayat Api (2000);
  • Mata Jendela (2000); dan masih banyak lagi.

Buat kamu yang penasaran dengan puisi Sapardi Djoko Damono, yuk lihat referensinya pada uraian di bawah ini.

Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono

Puisi Karya Sapardi Djoko Damono

1. Hujan Bulan Juni (1989)

tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

2. Aku Ingin (1989)

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

3. Pada Suatu Hari Nanti (1991)

Pada suatu hari nanti

jasadku tak akan ada lagi

tapi dalam bait-bait sajak ini

kau takkan kurelakan sendiri

 

Pada suatu hari nanti

suaraku tak terdengar lagi

tapi di antara larik-larik sajak ini

kau akan tetap kusiasati

 

Pada suatu hari nanti

impianku pun tak dikenal lagi

namun di sela-sela huruf sajak ini

kau takkan letih-letihnya kucari

4. Yang Fana Adalah Waktu (1978)

Yang fana adalah waktu.

Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga

sampai pada suatu hari

kita lupa untuk apa

“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.

Kita abadi.

Puisi Sapardi Djoko Damono

puisi sapardi djoko damono

sumber: shutterstock.com

5. Duka-Mu Abadi (1969)

Dukamu adalah dukaku.

Air matamu adalah air mataku

Kesedihan abadimu

Membuat bahagiamu sirna

Hingga ke akhir tirai hidupmu

Dukamu tetap abadi.

 

Bagaimana bisa aku terokai perjalanan hidup ini

Berbekalkan sejuta dukamu

Mengiringi setiap langkahku

Menguji semangat jituku

Karena dukamu adalah dukaku

Abadi dalam duniaku!

 

Namun dia datang

Meruntuhkan segala penjara rasa

Membebaskan aku dari derita ini

Dukamu menjadi sejarah silam

Dasarnya ‘ku jadikan asas

Membangunkan semangat baru

Biar dukamu itu adalah dukaku

Tidakanku biarkan ia menjadi pemusnahku!

6. Kuhentikan Hujan (1980)

Kuhentikan hujan

Kini matahari merindukanku, mengangkat kabut pagi perlahan

Ada yang berdenyut dalam diriku

Menembus tanah basah

Dendam yang dihamilkan hujan

Dan cahaya matahari

Tak bisa kutolak

Matahari memaksaku menciptakan bunga-bunga

7. Hanya

Hanya suara burung yang kau dengar

dan tak pernah kaulihat burung itu

tapi tahu burung itu ada di sana

Hanya desir angin yang kaurasa

dan tak pernah kaulihat angin itu

tapi percaya angin itu di sekitarmu

Hanya doaku yang bergetar malam ini

dan tak pernah kaulihat siapa aku

tapi yakin aku ada dalam dirimu

8. Menjenguk Wajah di Kolam

Jangan kau ulang lagi

menjenguk

wajah yang merasa

sia-sia, yang putih

yang pasi

itu.

Jangan sekali-

kali membayangkan

Wajahmu sebagai

rembulan.

Ingat,

jangan sekali-

kali. Jangan.

Baik, Tuan.

Sapardi Djoko Damono Puisi

9. Sajak Kecil tentang Cinta

Mencintai angin harus menjadi siut

Mencintai air harus menjadi ricik

Mencintai gunung harus menjadi terjal

Mencintai api harus menjadi jilat

Mencintai cakrawala harus menebas jarak

Mencintai-Mu harus menjelma aku

10. Sajak Tafsir

Kau bilang aku burung?

Jangan sekali-kali berkhianat

kepada sungai, ladang, dan batu.

Aku selembar daun terakhir

yang mencoba bertahan di ranting

yang membenci angin.

Aku tidak suka membayangkan

keindahan kelebat diriku

yang memimpikan tanah,

tidak mempercayai janji api yang akan menerjemahkanku

ke dalam bahasa abu.

Tolong tafsirkan aku

sebagai daun terakhir

agar suara angin yang meninabobokan

ranting itu padam.

Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat

untuk bisa lebih lama bersamamu.

Tolong ciptakan makna bagiku,

apa saja — aku selembar daun terakhir

yang ingin menyaksikanmu bahagia

ketika sore tiba.

***

Semoga artikel ini bermanfaat untukmu ya, Property People.

Pantau terus artikel menarik lainnya hanya di artikel.rumah123.com

Cek juga Google News Rumah123.com untuk dapatkan informasi terbaru sehari-hari.

Apakah kamu sedang mencari rumah impian?

Lihat pilihan terbaiknya hanya di www.rumah123.com karena kami selalu #AdaBuatKamu.


Tag: , ,


Gadis Saktika

Content Writer

Gadis Saktika adalah Content Writer di 99 Group yang sudah berkarier sebagai penulis dan wartawan sejak tahun 2019. Lulusan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI ini senang menulis tentang etnolinguistik, politik, HAM, gaya hidup, properti, dan arsitektur.
Selengkapnya