
Puisi 4 bait sering menjadi bentuk karya sastra yang paling digemari karena singkat, padat, namun tetap mampu menyampaikan emosi dan makna yang mendalam.
Melalui empat bait saja, seorang penyair bisa menggambarkan kisah kehidupan, cinta, alam, hingga renungan pribadi dengan indah.
Dalam artikel ini, kamu akan menemukan 20 contoh puisi 4 bait berbahasa Indonesia yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari.
Puisinya akan cocok untuk tugas sekolah, inspirasi menulis, atau sekadar menikmati keindahan kata.
Contoh Puisi 4 Bait tentang Beragam Tema

1. Bahagia di Alam Raya
Berikut adalah puisi tentang alam dengan panjang empat bait:
Setiap kali menatap langit-Mu,
Yang membentang indah membiru,
Disertai sapuan awan gemawan,
Lapang pulalah rasa dadaku.
Tiba-tiba berlaksa bahagia,
Memenuhi telaga dalam hatiku,
Karena aku tahu Tuhanku Maha Indah.
Hari ini,
Aku merindukan pertemuan dengan-Mu,
Dan esok aku mengharapkan perjumpaan.
Aku tahu, dunia ini begitu indah,
Tapi keindahan abadi hanya di surga.
Maka ke sanalah jiwaku menuju
Melepaskan diri dari hiruk pikuk dunia.
2. Pantai Cinta
Berikut adalah contoh puisi cinta yang menarik dengan panjang empat bait:
Ini pantai cinta
Saksi bisu asmara
Kisah kita berdua
Ikrarkan akad setia
Hamparan pasir putih menggoda
Berhiaskan pelangi mengecup semesta
Butiran kasih menggenggam rasa
Usia kita muda
Puncak asa bergelora
Dunia milik berdua
Problema seakan sirna
Putih biru cinta pertama
Kembang gula serta bunga
Bukti hati telah terpesona
3. Sajak Cintaku Galau
Kalau hati sedang galau
Pikiran ini selalu kacau
Siang malam selalu resah
Hidup terasa dirundung masalah
Karena cinta semuanya berubah
Memikirkan dia hingga lelah
Membalas cintaku dia tak pernah
Bagaimana hati tidak gelisah
Ingin rasanya cintaku diterima
Tentu dalam hati akan bahagia
Merangkai bahtera rumah tangga
Setia selamanya hingga tua
Namun itu semua hanya impian
Bahagia hanya sebatas angan
Dia kini sudah menerima pinangan
Besok tentu aku menerima undangan
4. Pemandangan Indah
Wahai Tuhan
Aku memendam kagumku pada-Mu
Dari malam hingga ketemu malam
Tak pernah padam api pesonaku
Hembusan angin gunung
Indahnya tarian tumbuhan
Rasanya nyaman
Bagai taman surga di bumi
Sempurnalah alam ini
Terpesona aku
Terpana aku
Harus dijaga selalu
Agar tak pernah sirna
Terjangan laut pun adalah kebiasaan alam
Batu karang dipecahnya
Aneka fauna terhempas
Dari dasar laut paling dalam
5. Guru Sang Pelita
Rautmu tak pernah terlihat lelah
Panas dan hujan pun engkau tetap mengajar
Demi semua anak didikmu
Demi masa depan semua anak didikmu
Wahai guru
Kau adalah pelita yang bersinar
Terang benderang kala gelap
Kau adalah pahlawan tanpa tanda jasa
Tuk memajukan bangsa
Kau telah mengajarkari kami banyak pengetahuan
Ilmu, kepatuhan, dan kedisiplinan
Kau ajari kami lewat lisan juga sikapmu
Kau adalah teladan bagi kami semua
Terima kasih
Wahai guru
Jasamu kan kuukir
Dalam hati pun pikiranku
6. Kakak Perempuan Si Penyayang
Aku mempunyai seorang kakak perempuan
Tak pernah sehari pun tak mengomel
Selalu memberikan siraman rohani di pagi hari
Membuat hari-hari tak lagi sunyi
Kakak perempuan adalah manusia yang paling menyebalkan
Selalu mengatur dan memberikan perintah
Tak pernah mau sedikitpun mengalah
Padahal, jelas-jelas dia yang salah
Kakak perempuan selalu mengajak bertengkar
Hal ringan pun bisa menjadi bahan keributan
Selalu memancing kemarahan dan kemurkaan
Tak pernah sekalipun diam dengan tenang
Meskipun kakak perempuan adalah makhluk menyebalkan
Tetapi, dia adalah si paling penyayang
Selalu memberikan perhatian
Tak pernah meninggalkan adik sendirian
7. Sahabat Sejati
Berikut adalah contoh puisi 4 bait dengan judul Sahabat Sejati:
Sahabat
Bukan tentang berapa banyak jumlahnya
Atau tentang berapa harga yang dipunya
Tapi tentang berapa pedulinya mereka
Sahabat
Bukan tentang seberapa cantik paras mereka
Atau seberapa tampan rupanya
Tapi tentang kerendahan hatinya
Sahabat
Bukan tentang makan di restoran mewah
Atau tentang tarian di tengah malam
Tapi tentang waktu yang dihabiskan bersama
Waktu untuk saling mengenal
Waktu untuk saling memahami
Waktu untuk saling berbagi
Waktu untuk saling mengasihi
8. Rumah Pencetak Akhlak
Berikut adalah puisi 4 bait tentang sekolah berjudul Rumah Pencetak Akhlak karya Putu Surya Nata:
Sekolahku pencetak akhlak
Tempat panduan jejak demi jejak
Menjadi tumpuan untuk berpijak
Dalam liku dunia yang penuh gejolak
Sekolahku pencetak akhlak
Tempat mengasah jiwa dan otak
Agar sikapmu pandai bertindak
Dalam hidup yang sulit ditebak
Sekolahku pencetak akhlak
Rumah yang indah semulia pajak
Tempat naungan para guru bijak
Mengajar dengan kasih yang banyak
Sekolahku pencetak akhlak
Menumbuhkan semangat tuk bergerak
Mendorongku tuk kuat menanjak
Agar masa depan bersinar kelak
9. Hujan Bawa Kenangan
Baca contoh puisi 4 bait tentang hujan berjudul Hujan Bawa Kenangan yang satu ini:
Hujan yang turun deras membasahi
Bangkitkan kenangan dalam hati
Kenangan indah ketika bersama
Melalui suka dan duka
Tahukah kamu
Jauh di lubuk hatiku terdalam
Tersimpan kenangan kita bersama
Yang masih tersimpan rapi dan bersih
Hujan yang datang
Membawa kembali kenangan
Sedikit demi sedikit
Seperti hujan yang basahi daun bersemi
Kala kusentuh tetes hujan ini dengan jemari
Kurasakan kenangan membuncah di hati dan pikiran
Kenangan indah tentang kita
Tentang masa kita bersama
10. Puisi tentang Guru 4 Bait
Ini adalah contoh puisi guru dengan panjang empat bait:

11. Pagi di Beranda
Mentari muncul di ufuk timur,
Menyapa lembut dedaunan basah,
Burung bernyanyi tanpa gusar,
Mengantar hari penuh gelisah.
Aroma kopi menyapa hangat,
Ibu tersenyum di ruang tamu,
Suara ayam menjadi syahdu penat,
Menyambut hidup yang baru.
Anak berlari menuju sekolah,
Dengan semangat dan harapan,
Langkah kecil penuh cerah,
Menjemput mimpi dalam perjalanan.
Hari pun mulai berputar pelan,
Menulis kisah dalam diam,
Seperti pagi yang tak bosan,
Menyapa dunia dengan salam.
12. Di Balik Jendela
Hujan turun dengan lembut,
Menyapa kaca di tepi ruang,
Aku duduk termenung senyap,
Menatap waktu yang berjalan tenang.
Air menetes dari genting tua,
Mengingatkan akan masa lalu,
Tentang tawa, juga lara,
Yang pernah singgah begitu kalbu.
Aroma tanah memenuhi udara,
Menyapa hati yang tenang,
Seakan dunia berkata mesra,
“Beristirahatlah, jangan bimbang.”
Di balik jendela aku mengerti,
Hidup tak selalu cerah,
Namun di setiap hujan yang pergi,
Selalu ada pelangi yang indah.
13. Langkah di Trotoar Kota
Langkah kaki bersahutan cepat,
Kota berdenyut tanpa henti,
Orang-orang menatap singkat,
Mengejar waktu yang tak peduli.
Di trotoar, pedagang tersenyum,
Menawarkan harap dalam jualan,
Satu senyum, seribu makna,
Tentang hidup yang bertahan.
Lampu merah menahan laju,
Motor dan mobil berbaris rapi,
Namun di hati mereka yang lalu,
Ada mimpi yang tak pernah mati.
Kota adalah panggung terbuka,
Tempat kisah terus ditulis,
Di antara lelah dan tawa,
Hidup berjalan tanpa tanding.
14. Senja di Halaman Rumah
Senja datang membawa damai,
Langit jingga berarak lembut,
Burung pulang ke sarang ramai,
Hari menutup dengan hangat salut.
Ibu duduk di kursi bambu,
Menatap sawah yang menguning,
Angin sore menyapa syahdu,
Menyapu letih yang meninggi.
Ayah tersenyum menatap langit,
Dengan rokok di tangan kanan,
Katanya, “Hari ini cukup baik,”
“Besok kita mulai lagi, pelan.”
Senja pun turun perlahan-lahan,
Menitip pesan dalam cahaya,
Bahwa hidup bukan sekadar berjalan,
Tapi juga menikmati jedanya.
15. Sepotong Roti di Pagi Hari
Di meja kayu yang sederhana,
Ada sepotong roti dan teh hangat,
Tak mewah, tapi penuh makna,
Cinta keluarga terasa lekat.
Anak tertawa kecil ceria,
Ayah sibuk membaca berita,
Ibu tersenyum tanpa banyak kata,
Bahagia hadir dengan cara sederhana.
Tak perlu pesta, tak perlu harta,
Hanya kebersamaan yang nyata,
Setiap gigitan membawa rasa,
Bahwa syukur itu tak bercela.
Pagi pun menjadi sempurna,
Dengan cinta yang tak bersyarat,
Sepotong roti jadi cerita,
Tentang hidup yang bersahabat.
16. Di Warung Pinggir Jalan
Warung kecil di sudut kota,
Tempat penat mencari jeda,
Aroma kopi dan gorengan,
Menemani hari yang biasa-biasa.
Tukang ojek bercanda ringan,
Buruh tertawa lepas tanpa beban,
Meski hidup tak selalu mudah,
Tawa mereka tak pernah padam.
Uang receh berpindah tangan,
Antara harap dan perjuangan,
Setiap teguk kopi hangat,
Adalah bentuk rasa bertahan.
Warung itu bukan sekadar tempat,
Tapi ruang kecil penuh cerita,
Tentang hidup yang bersahabat,
Dalam kesederhanaan yang nyata.
17. Tentang Waktu
Waktu berjalan tanpa suara,
Menyapu jejak di setiap langkah,
Ia tak menunggu siapa pun juga,
Namun meninggalkan banyak makna.
Kita berlari mengejarnya,
Kadang lupa untuk berhenti,
Padahal di sela detiknya,
Ada hidup yang perlu dihargai.
Waktu adalah guru yang diam,
Mengajarkan arti kehilangan,
Dan betapa berharganya,
Setiap momen yang terlewatkan.
Jangan hanya mengejar esok,
Lihatlah hari ini yang indah,
Sebab waktu yang telah lewat,
Takkan pernah kembali lagi.
18. Lampu di Jalan Desa
Satu lampu tua menyala terang,
Menyinari jalan tanah berdebu,
Anak-anak berlarian senang,
Di bawah langit biru yang syahdu.
Ibu-ibu duduk sambil bercerita,
Tentang masa kecil dan cinta lama,
Suara jangkrik jadi irama,
Dalam malam yang begitu ramah.
Tak ada kemewahan di sana,
Hanya tawa yang sederhana,
Namun dalam damainya desa,
Hati terasa penuh makna.
Lampu itu seakan berkata,
“Terang tak harus besar sinarnya,”
Asal cukup untuk menerangi,
Langkah-langkah dalam gelapnya dunia.
19. Surat untuk Diri Sendiri
Halo diriku di masa depan,
Apakah kau masih suka senja?
Masihkah kamu berjalan pelan,
Menikmati hidup apa adanya?
Jangan lupa mimpi kecilmu,
Yang dulu sering kau tulis diam,
Tentang bahagia sederhana,
Dan hati yang tetap tenang.
Kalau lelah, tak apa istirahat,
Hidup bukan perlombaan cepat,
Yang penting langkahmu tulus,
Meski jalannya penuh liku hangat.
Aku di sini akan terus menulis,
Tentang hari, tentang rasa,
Agar kau nanti bisa membaca,
Bahwa kita pernah berusaha.
20. Hujan dan Kenangan
Hujan turun di sore kelabu,
Membawa aroma masa lalu,
Suara rintik mengetuk kalbu,
Mengingatmu tanpa ragu.
Payung tua masih tersimpan,
Basah dan lusuh oleh waktu,
Namun setiap tetes hujan,
Masih menyebut namamu.
Aku duduk di tepi jendela,
Mendengar lagu dari masa remaja,
Tentang cinta yang sederhana,
Namun abadi di dada.
Hujan pun reda perlahan,
Menyisakan jejak di jalan,
Seperti kenangan yang bertahan,
Di hati yang enggan dilupakan.
FAQ tentang Puisi 4 Bait
Tidak ada batasan panjang puisi dalam bahasa Indonesia. Kamu dibolehkan menulis puisi dengan jumlah bait berapapun, termasuk 4 bait.
Apakah puisi harus 4 baris dalam satu bait?
Umumnya satu bait terdiri dari empat baris, tetapi kamu dibebaskan untuk menulis puisi sesukamu.
***
Semoga puisi empat bait di atas bermanfaat, ya.
Jika sedang mencari hunian nyaman dan aman, segera kunjungi www.rumah123.com.
Terdapat banyak pilihan hunian yang pastinya selalu #AdaBuatKamu!

