penembakan misterius (Sumber: Tribunnews Manado)

Kasus penembakan misterius alias Petrus merupakan kejadian yang menghebohkan publik di era pemerintahan Soeharto. Simak sejumlah faktanya.

Dalam kurun waktu 1983 hingga 1985 merupakan masa kelam bagi dunia hak asasi manusia (HAM) di Indonesia.

Demi memberantas pelaku kriminal seperti preman dan perampok, pemerintah Orde Baru ketika itu menjalankan sebuah misi penembakan misterius.

Melansir dari laman Kompas.com, praktik operasi ini berawal dari Yogyakarta, karena melihat tren kejahatan kala itu.

Bagi pemerintahan Soeharto, para pelaku kriminal yang bertato dan melawan, harus dihabisi dengan cara ditembak mati.

Kala itu, operasi tersebut dilakukan bulan Maret 1983, oleh Komandan Garnisun Yogyakarta, Letnan Kolonel M Hasbi.

Menurut informasi, memang angka kejahatan dan kekerasan di Yogyakarta menurun drastis dari 57 kasus menjadi 20.

Berkat keberhasilan operasi Petrus ini, pemerintah terus melanjutkan misi tegas tersebut kepada para preman.

Intejilen polisi memberi komandan garnisun berupa daftar orang-orang yang termasuk jadi tersangka kejahatan di berbagai daerah.

Korban-Korban Berjatuhan dalam Operasi Penembakan Misterius

(Sumber: haykakan.top)

Operasi Petrus yang dijalankan Pemerintahan Soeharto kala itu, memang masih menjadi perdebatan dan kontroversi hingga kini.

Para preman yang menjadi korban penembakan misterius sengaja dibiarkan tergeletak di tengah jalan.

Hal ini sengaja dilakukan sebagai shock therapy bagi para pelaku kejahatan di Indonesia.

Menukil dari buku otobiografi Soeharto berjudul Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, dijelaskan soal praktik petrus tersebut.

Suami Siti Hartinah itu mengatakan, bahwa operasi penembakan misterius merupakan metode pendisiplinan kejahatan yang efektif.

Tercatat, di tahun 1983 sebanyak 532 orang tewas. 367 korban di antaranya tewas akibat luka tembak.

Setahun berselang, ada 107 tewas dan pada tahun 1985 tercatat 74 orang tewas, 28 di antaranya mati karena ditembak.

Bila ditotal selama dua tahun misi pemberantasan preman itu, telah memakan korban hingga 713 jiwa.

Banyak negara menganggap operasi tersebut telah melanggar hak asasi manusia, karena membunuh seseorang tanpa diadili melalui jalur hukum.

Bahkan, Amnesti Internasional juga mengirimkan surat untuk menanyakan kebijakan pemerintah Indonesia.

Itulah kisah kelam dari operasi penembakan misterius, yang terjadi di era pemerintahan Presiden Soeharto.

Baca juga cerita menarik terkait kerjasama Presiden Kedua RI itu dengan Israel, hanya di artikel.rumah123.com.

Kalau kamu sedang cari apartemen studio di Tangerang, yuk telusuri rekomendasinya di Rumah123.com.

Bagikan:
271 kali