pondasi cakar ayam Ilustrasi. Pondasi Cakar Ayam Telah Diakui Dunia. Sedyatmo, Insinyur Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) Mulai Mendesain dan Membuatnya Pada 1962 untuk Pembangunan Tiang Listrik Tegangan Tinggi PLN (Foto: Rumah123.com/Freepik.com)

 

Pondasi cakar ayam sudah pasti terkait dengan Prof. Dr. Ir. Sedyatmo. Yuk, cari tahu seperti apa sih sejarah pondasi telah mendunia. 

Prof. Dr. Ir. Sedyatmo adalah sosok yang mencetuskan ide sistem pondasi cakar ayam. Pondasi ini cocok diaplikasikan di tanah yang lunak. 

Kalau bicara nama Sedyatmo, bagi kamu yang tinggal di Jakarta dan sering wira wiri ke Bandara Internasional Soekarno Hatta pasti melalui tol. 

Tol ini bernama Tol Sedyatmo. Pemerintah memberikan penghargaan dengan memberikan nama jalan bebas hambatan. 

Sedyatmo memperkenalkan pondasi ini pada 1962. Setelah itu, sistem ini dipatenkan di level nasional dan juga internasional. 

Sistem pondasi cakar ayam telah dikenal di sejumlah negara. Setidaknya, ada banyak negara yang memberikan paten. 

Negara-negara tersebut di antaranya adalah Indonesia, Jerman, Inggris, Prancis, Italia, Belgia, Kanada, Amerika Serikat, Belanda, dan Denmark. 

Bentuk Pondasi Cakar Ayam 

Seperti juga namanya, pondasi cakar ayam memang sepintas mirip cakar ayam. Pondasi ini tersusun dari plat beton bertulang tipis.

Plat ini didukung oleh buis-buis beton bertulang yang dipasang secara vertikal. Plat disatukan secara monolit dengan plat beton pada jarak 200-250 centimeter (cm). 

Ketebalan plat beton berkisar antara 10-20 cm. Sementara diameter pipa buis beton bertulang sekitar 120 cm, ketebalannya sekitar 8 cm dan panjang 150-250 cm. Buis-buis beton ini berguna sebagai pengaku pelat. 

Untuk mendukung beban konstruksi bangunan, pelat buis beton dan tanah yang terkurung di dalam pondasi menjadi saling mendukung. 

Hal ini menciptakan sebuah sistem komposit yang di dalam bekerja secara keseluruhan. Sistem ini mirip dengan pondasi rakit raft foundation

Pondasi Cakar Ayam Berawal Dari Pembangunan Menara PLN

Awal mula pondasi cakar ayam ini bermula saat tenaga pelaksana konstruksi kesulitan untuk membangun di atas tanah yang lunak. 

Untuk membuat pondasi di atas lahan lunak memang sulit dilaksanakan. Sedyatmo mengalaminya pada 1962. 

Saat itu, Sedyatmo menjadi salah satu pejabat di PLN (Perusahaan Listrik Negara). Dia mendapatkan tugas memimpin proyek pembangunan tujuh menara. 

Tujuh menara listrik bertegangan tinggi ini dibangun di daerah rawa-rawa di kawasan Ancol, Jakarta Utara. 

Tenaga ahli dan pelaksana proyek mengalami kesulitan untuk membangun menara listrik tegangan tinggi. 

Mereka hanya bisa membangun dua menara listrik tersebut dengan susah payah dan penuh kerja keras dengan menggunakan pondasi konvensional. 

Untuk membangun lima menara lainnya, pelaksana proyek tidak bisa melakukannya lantaran tanah yang labil. 

Pembangunan menara ini memang harus dilakukan cepat mengingat keberadaannya diperlukan untuk menyalurkan listrik. 

Rencananya, listrik akan dialirkan dari pusat tenaga listrik di Tanjung Priok, Jakarta Utara ke Gelanggang Olahraga Senayan, Jakarta Pusat. 

Saat itu, Indonesia menjadi tuan rumah pesta olahraga bangsa-bangsa Asia yaitu Asian Games 1962 Jakarta. 

Akhirnya, Sedyatmo melahirkan ide membuat pondasi cakar ayam. Pembangunan lima menara tersisa bisa dilakukan tepat waktu. Menara listrik ini berdiri kokoh. 

Penemuan pondasi ini bisa menjadi solusi untuk pembangunan di tanah lahan yang labil. Sistem ini cocok untuk konstruksi gedung, jalan, dan juga landasan pesawat terbang. 

Penemu Pondasi Cakar Ayam Ternyata Anggota Keluarga Mangkunegara

Sedyatmo lahir di Karangpandan, Jawa Tengah pada 24 Oktober 1909. Nama kecilnya adalah Raden Mas Sarwanto. 

Dia adalah putra ketiga dari pasangan Raden Mas Panji Hatmo Hudoyo dan Raden Ayu Sarsani Mangunkusumo. 

Ayah Sedyatmo merupakan cucu dari Mangkunegara III. By the way, trah Mangkunegara adalah Raja yang berkuasa di Solo, Jawa Tengah. 

Saat kecil, Sedyatmo sering sakit. Dia harus berganti nama dari Sarwanto menjadi Sedyatmo. Soal ganti nama dalam masyarakat Jawa adalah hal biasa. 

Sedyatmo menempuh pendidikan MULO (setingkat SMP) di Surakarta dan AMS (setingkat SMA) di Yogyakarta. 

MULO dan AMS adalah sekolah menengah yang didirikan oleh pemerintah penjajah Hindia Belanda.

Kemudian dia melanjutkan pendidikan di THS di Bandung. Saat ini, THS menjelma menjadi Institut Teknologi Bandung. 

Dia meraih gelar insinyur pada 1934. Sedyatmo menjadi insinyur perencanaan di sejumlah instansi pemerintahan. 

Sedyatmo menikah dengan Raden Ajeng Hoesniah Pardani yang merupakan putri sulung Mangkunegara VII. Pasangan ini memiliki beberapa anak. 

Pada 1974, Sedyatmo mendapatkan penghargaan Doctor Honoris Causa dari almamaternya ITB. 

Sedyatmo meninggal pada 15 Juli 1984 di Jakarta. Dia dimakamkan di Karang Anyar, Jawa Tengah.

Baca juga: Rio de Janeiro Jadi Ibu Kota Arsitektur Dunia, Jakarta Kapan Ya

Baca juga: Arsitektur yang Kaya Warna, Ekspresif, dan Energik

Bagikan:
1705 kali