rumah bekas sawah

Banyak orang khawatir membangun rumah di lahan gembur. Tetapi, beberapa cara berikut bisa dilakukan untuk mendapatkan rumah bekas sawah yang aman.

Saat membangun rumah baru tentu harus memperhatikan lokasi yang akan digunakan. Pasalnya, ada beberapa lahan yang kurang baik untuk membangun rumah.

Lokasi terbaik untuk membangun sebuah rumah adalah daerah yang memiliki tanah dengan sifat keras dan kering.

Dengan begitu, pondasi rumah yang dibangun bisa kuat dan tidak mudah mengalami pergeseran sehingga rumah aman dalam jangka waktu yang lama.

Tetapi, ada kalanya kita tidak selalu beruntung mendapatkan lahan dengan tanah terbaik seperti itu, bisa jadi kamu mendapatkan tanah bekas sawah atau rawa.

Ada Apa dengan Tanah Bekas Sawah?

Tanah bekas sawah umumnya memiliki sifat yang gembur atau lembek. Tanah jenis tersebut biasanya bisa menyebabkan pondasi rumah yang tidak kuat.

Biasanya, jenis tanah tersebut tidak kuat menahan beban dan mudah bergeser atau melesak ke masuk ke dalam tanah.

Hal inilah yang bisa membuat beberapa efek pada bangunan rumah kamu. Salah satunya dinding atau tembok yang mudah retak.

Paling bahaya, jika tanah terlalu gembur maka bangunan bisa miring atau sewaktu-waktu dapat roboh. Hal ini tentu saja dapat membahayakan penghuni rumah.

Rumah bekas sawah

Cara Membangun Rumah Bekas Sawah

Namun, meskipun agak gembur, bukan berarti kamu tidak bisa membangun rumah di lahan bekas sawah. Berikut beberapa cara membangun rumah bekas sawah.

1. Ukur Kedalaman Tanah

Jika lahan telah mendapat persetujuan untuk membangun, hal yang perlu kamu lakukan adalah mengukur kedalaman dari tanah bekas area persawahan tersebut.

Jika tanah sawah tidak begitu dalam, tanah tersebut dapat dikeruk atau diambil untuk kemudian ditutup kembali dengan menggunakan tanah lain yang bersifat lebih keras.

2. Ratakan Tanah

Cara selanjutnya untuk membangun tanah bekas sawah selanjutnya adalah, meratakan tanah menggunakan metode tradisional dengan cangkul.

Jika area tanah begitu luas, kamu bisa menggunakan alat berat supaya lebih cepat selesai dan mendapatkan hasil yang lebih baik.

Tetapi, menggunakan alat berat membutuhkan biaya yang lebih mahal, meskipun hasilnya lebih maksimal.

3. Mematangkan Tanah

Mematangkan tanah adalah proses untuk membuat tanah siap dibangun. Jadi, setelah diratakan tanah tidak langsung dapat dibangun.

Biasanya, membutuhkan waktu beberapa bulan supaya tanah memiliki tekstur yang benar-benar keras dan matang.

Pasalnya, meski tanah sudah diratakan, tanah bekas sawah masih dapat bergerak ke dalam.

Untuk mengetahuinya kematangan sebuah tanah, adalah melihat dari adanya tanaman yang tumbuh dengan baik di lahan tersebut.

Atau bisa dengan cara menusukkan linggis ke dalam tanah. Jika linggis dapat dengan mudah masuk, diperkirakan tanah tersebut belum padat.

4. Pasang Pondasi

Sebelum masuk ke tahap ini, pastikan tanah benar-benar matang, padat dan keras. Jika sudah keras, kamu sudah bisa memulai untuk membangun.

Tips lain membangun rumah bekas sawah adalah dengan menggunakan pondasi tiang pancang.

Namun, karena pemasangan tiang pancang menimbulkan suara yang mengganggu, jadi baiknya informasikan terlebih dahulu ke masyarakat setempat.

5. Fondasi System Bored Pile

Bagi kamu yang tidak ingin menggunakan fondasi tiang pancang, bisa menggunakan system bored pile.

Cara ini lebih mudah dibandingkan dengan tiang pancang. Dengan bored pile, tanah akan dibuat lubang-lubang pada dengan menggunakan bor pada kedalaman yang disesuaikan.

Setelah melakukan pengeboran, fondasi besi tulang baru akan ditata dan dimasukkan ke dalam tanah.

Itulah beberapa tips yang bisakamu lakukan untuk membangun rumah bekas sawah. Semoga berguna, ya.

Situs properti Rumah123.com selalu menghadirkan artikel dan tips menarik mengenai properti, desain, hukum, hingga gaya hidup.

Saatnya kamu memilih dan mencari properti terbaik untuk tempat tinggal atau investasi properti seperti Kota Deltamas.

Bagikan:
536 kali

Redaksi Rumah123.com

Alamat

Level 37 [email protected]
Jl. Casablanca Kav.88
Jakarta Selatan
Jakarta 12870
Indonesia