OK
Dijual
Disewa
Properti Baru
Panduan

Khotbah Kaum Ibu tentang Pengharapan untuk Melampaui Segala Kesulitan

09 Mei 2023 · 8 min read Author: Gadis Saktika

khotbah kaum ibu tentang pengharapan

sumber: shutterstock.com

Menyampaikan khotbah kaum ibu tentang pengharapan bisa membuat umat Kristen menjadi lebih mawas diri. Nah, kali ini Rumah123.com telah menghimpun beragam teks khotbah kaum ibu tentang pengharapan pada artikel ini!

Meskipun telah menjadi seorang ibu, umat Kristen tetaplah menjadi anak-anak Allah yang ingin menjadi perempuan yang penuh pengharapan.

Dengan begitu, khotbah kaum ibu tentang pengharapan haruslah sering disimak agar hati bisa dipenuhi dengan kebajikan.

Khotbah kaum ibu tentang pengharapan tentu luas sekali bahasannya.

Tentu saja perlu sesuai makna yang ada pada kitab suci umat Kristen, Alkitab.

Adapun contoh teks khotbah kaum ibu tentang pengharapan bisa kamu lihat pada uraian di bawah ini.

Khotbah Kaum Ibu tentang Pengharapan

khotbah kaum ibu

sumber: shutterstock.com

1. Khotbah Kaum Ibu

Siapa yang Terbesar?

(Luk 9:46-48)

Ibu-ibu yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, orang yang pantas mendapat label atau predikat “terbesar” menurut ukuran dunia, adalah mereka yang punya kedudukan, punya banyak uang, punya kekuasaan yang besar, atau yang punya banyak anak buah atau pengawal. Tidak jarang kita lihat atau mungkin alami, seseorang dipuja dan dituruti segala kemauannya karena posisinya yang tinggi dalam perusahaan, masyarakat, atau bahkan gereja. Atau orang yang menuntut untuk dihormati, dituruti segala perintahnya, ditanya pendapatnya karena posisinya. Tapi hari ini, firman Tuhan menunjukkan bahwa orang yang “terbesar” menurut Allah tidaklah sama dengan criteria dunia. Orang yang terbesar dalam Kerajaan Allah adalah mereka yang rela menjadi yang terkecil diantara sesama (ay. 48). Bagaimana ciri orang yang rela menjadi yang terkecil itu? Lukas mencoba menerangkan lewat 3 peristiwa di 3 perikop selanjutnya.

Pertama, mereka adalah orang yang tidak melawan Allah (ay. 50). Saat itu murid-murid Yesus sedang sibuk meributkan siapa yang terbesar di antara mereka yang layak memangku sebuah jabatan penting saat Yesus memerintah sebagai Mesias. Karena mereka berpikir, kalau Yesus adalah Mesias, maka Yesus akan mengusir penjajah romawi dari Israel, dan membangun kerajaan baru. Dan kalau Yesus jadi raja, pastilah akan ada yang jadi perdana menteri, dan orang ini tidak mungkin dari luar kelompok murid. Pasti dari antara mereka.

Karena itu, murid-murid Yesus merasa superior, lain dari yang lain, paling benar, dan istimewa. Karena superioritas itu, murid2 Yesus merasa perlu untuk mencegah orang lain melayani pengusiran setan sekalipun dengan nama Yesus. Mungkin sewaktu mereka lapor sama Yesus kalau mereka mencegah orang lain di luar murid2 untuk mengusir setan, mereka mengharapkan pujian dari Yesus. tapi ternyata jangankan dipuji, mereka justru ditegur oleh Yesus. “Barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu”. Seringkali kita seperti murid-murid.

Karena kita aktif dalam pelayanan, atau kita punya talenta, atau kita punya kedudukan dalam masyarakat atau bahkan gereja. Kita mulai melarang orang lain untuk melayani Tuhan. Kita mulai menghakimi gereja A sesat, persekutuan B sesat, dll. Waktu kita lakukan itu mungkin kita merasa kita benar, tapi lihatlah murid2 Yesus, bukan pujian yang mereka dapat, melainkan teguran. Kalau kita mau jadi yang terbesar dalam kerajaan Allah, jangan lawan orang yang melayani demi nama Tuhan Yesus, karena bisa jadi kita melawan Tuhan sendiri, tetapi bekerjasamalah membangun kerajaan Allah.

Kedua, orang yang terbesar dalam Kerajaan Allah adalah mereka yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan (ay. 54-55). Dalam perjalanan ke Yerusalem untuk disalib, Tuhan Yesus beserta murid-muridNya harus melewati daerah Samaria. Orang Samaria dan orang Israel bermusuhan karena orang Samaria kawin campur dan menyembah allah lain. Sebelum Tuhan Yesus sampai di desa Samaria, utusan-utusan yang dikirim oleh Yesus, kembali dan memberitahu bahwa mereka ditolak oleh orang Samaria.

Secara manusia, wajar kalau kemudian murid-murid Yesus murka dan mau mengirim api dari langit. Karena mereka teringat kisah Elia yang meminta api dari langit untuk membakar 2 orang perwira dan 100 anak buah mereka yang diutus raja Ahazia untuk menolak Elia sebagai hamba Tuhan. Lagi-lagi, bukannya dipuji karena keinginan mereka untuk membela Yesus, Yesus berpaling dan menegur murid2Nya. Bagaimana dengan kita ? bukankah kita juga sering mengutuk orang lain yang menolak kita? Mungkin bukan dengan terus terang bilang “saya kutuk kamu…bla..bla…bla” Tapi mungkin kutukan itu keluar dari mulut kita dalam bentuk doa. Familier dengan bunyi doa begini? “Tuhan saya mengampuni si A, biar Tuhan saja yang balas perbuatannya sama saya.” Ibu-ibu, itu adalah kutukan yang tersamar. Tapi tetap saja kutuk. Orang yang terbesar dalam kerajaan Allah tidak boleh seperti itu. Melainkan harus mengampuni dan mengasihi sepenuh dan setulus hati.

Orang yang terbesar dalam kerajaan Allah yang ketiga adalah orang yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi (ay. 58, 60, 62). Dalam perikop terakhir pasal 9 ini ada 3 orang yang mau mengikut Tuhan tapi terkendala dengan berbagai hal. Orang pertama, mau mengikut Tuhan tapi pikir2 tentang untung rugi meninggalkan kenyamanan hidup dan segala materi yang mengikutinya. Orang kedua, mau mengikut Tuhan tapi pikir2 tentang bakti kepada orang tua. Orang ketiga, mau mengikut Tuhan tapi masih pikir2 tentang masa lalunya.

Untuk ketiga orang ini, teguran Tuhan sangat jelas. “Orang yang mau mengikut Tuhan tapi masih sering lihat2 dan membanding2kan hidup sebelum dan sesudah bersama Yesus, tidak pantas untuk ikut Tuhan.” Pertanyaan buat kita hari ini. Apakah dalam mengikut dan melayani Tuhan kita masih sering pikir2 hal-hal lain yang bisa memberatkan kita untuk total ikut Tuhan? Matius 10:37 mengatakan, “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Kalau kita mau jadi yang terbesar dalam kerajaan Allah kasihilah Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi kita.

Jadi ibu-ibu, siapa yang terbesar dalam kerajaan Allah? Dia adalah orang yang tidak melawan pelayan Allah, yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, dan yang mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budinya. Selamat menjadi yang terbesar. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

2. Renungan Singkat Kaum Ibu

Tes. 3:10-13 ,“Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri. Tuhan tidak ingin kita menjadi seorang yang pengangguran walaupun sebagai ibu rumah tangga. Sebagai ibu rumah tangga mempunyai tanggung jawab yang besar. Sukses atau tidaknya seorang anak juga bertanggung pada sikap orang tuanya.

3. Tema Khotbah untuk Kaum Ibu

khotbah

sumber: shutterstock.com

Tuhan Satu-satunya Harapan Hamba-Nya

Mazmur 5 mengatakan “Engkaulah Tuhan, yang menjadi harapanku, yang menjadi kepercayaanku sejak semasa muda.”

Saat masalah menimpa seberat apapun, masalah yang membuat diri kita menjadi putus asa, ingat untuk jangan lupakan Tuhan. Siapa lagi kita dapat menggantungkan hidup kalau tidak kepada Kristus? Jangan pernah berharap kepada manusia, karena ia hanya tidak lebih daripada hembusan nafas (Yesaya 22)

Kenikmatan duniawi memang sesaat membutakan mata dan hati manusia. Saat kita dihujani kekayaan, apakah kekayaan itu dapat digunakan sebagai pengharapan untuk beribadah selain kepada Kristus? Tentu saja tidak. Tidak ada dan tak pernah ada yang dapat menggantikan pengharapan manusia kepada Tuhan, karena Ia adalah satu-satunya harapan itu.

Kita tengok kisah dari Daud, dimana ia adalah raja yang sangat berkuasa tapi tetap memiliki ketakutan akan Tuhan. Daud hampir memiliki segalanya, tapi Daud selalu menaruh pengharapannya kepada Tuhan.

Daud menyadari jika manusia memiliki batas ketakutan, tidak selamanya kita bisa menyelesaikan masalah sendiri tanpa ada andil dari Tuhan. Walau kita saat ini masih menganggap kuat dan sanggup untuk menyelesaikannya, tapi ingat semua ada masanya. Ketakutan yang kita rasakan ada batasnya seperti dengan kekuatan dan kekuasaan kita. Tuhanlah satu-satunya yang punya kekuasaan dan kekuatan tanpa batas atas seluruh alam semesta ini dan mahluk ciptaan-Nya.

Itulah alasan mengapa kita tidak boleh hanya mengharapkan Tuhan saat keadaan sedang sulit saja. Tuhan tidak akan meningkalkan anak-Nya sendirian. Ia pasti akan melindungi dan menyertai kita sekeras apapun masalah yang dihadapi.

Maka, janganlah kamu menjauhkan diri dari pada-Nya. Taruhlah hamba kaum ibu seluruhnya kepada Tuhan agar Ia memberikan jalan keluar dan kedamaian bagi hambanya yang selalu dekat kepada-Nya.

Jadi itulah khotbah kaum ibu tentang pengharapan yang dapat FJA bagikan.
Setelah saudara selesai membaca renungan kristen tentang pengharapan untuk kaum ibu ini, maka akhirilah dengan doa agar saudara selalu mengadalkan Tuhan dalam segala perkara yang terjadi di kehidupan saudara.
Kiranya renungan kaum ibu tentang pengharapan ini dapat menjadi berkat bagi saudara sekalian. Terimakasih, Tuhan Yesus Membarkati!

***

Nah, itulah ragam teks khotbah kaum ibu tentang pengharapan yang bisa kamu ketahui.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat untukmu ya, Property People.

Pantau terus artikel menarik lainnya hanya di artikel.rumah123.com

Cek juga Google News Rumah123.com untuk dapatkan informasi terbaru.

Apakah saat ini kamu sedang mencari rumah?

Yuk, cek pilihan terbaiknya di www.rumah123.com karena kami selalu #AdaBuatKamu.


Tag: , ,


Gadis Saktika

Content Writer

Gadis Saktika adalah Content Writer di 99 Group yang sudah berkarier sebagai penulis dan wartawan sejak tahun 2019. Lulusan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI ini senang menulis tentang etnolinguistik, politik, HAM, gaya hidup, properti, dan arsitektur.
Selengkapnya

IKLAN

Tutup iklan
×

SCROLL UNTUK TERUS MEMBACA