
Namun, di balik besarnya jumlah tersebut, mimpi memiliki rumah sendiri bagi generasi muda ini sering kali terasa semakin sulit diwujudkan.
Pasalnya, kenaikan harga properti, tekanan ekonomi, serta pola pengeluaran menjadi sejumlah tantangan utama yang membuat kepemilikan hunian terasa seperti “misi yang sulit”.
Apalagi, berdasarkan berbagai data pasar properti, harga rumah dalam tiga tahun terakhir tercatat meningkat rata-rata sekitar 10%.
Masalahnya, kenaikan ini tidak diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan generasi muda yang rata-rata masih berada di bawah Rp2,5 juta per bulan.
Akibatnya, kesenjangan antara harga hunian dan daya beli semakin melebar.
Apa Faktor Utama Penyebab Kesulitan Gen Z Membeli Rumah?
1. Harga Properti yang Terus Naik
Inflasi bahan baku konstruksi, pertumbuhan infrastruktur yang meningkatkan nilai lahan, serta kenaikan angka harapan hidup yang mendorong permintaan hunian menjadi pendorong utama.
Di kawasan penyangga Jakarta, misalnya, lonjakan harga rumah bisa mencapai 10-15% per tahun, sementara kenaikan gaji rata-rata hanya sekitar 5-7%.
2. Persaingan Ketat di Pasar Kerja
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ratusan ribu pencari kerja baru setiap tahun.
Kondisi ini membuat Upah Minimum Regional (UMR) sering kali tidak cukup untuk mengejar harga rumah termurah sekalipun.
3. Gaya Hidup dan Pengaruh Teknologi
Faktor lain yang membuat Gen Z kesulitan membeli rumah adalah gaya hidup dan pengaruh teknologi.
Contohnya penggunaan media sosial yang dapat mendorong pengeluaran impulsif untuk fesyen, gadget, dan hiburan.
Belum lagi, kemudahan akses fintech dan layanan paylater yang tidak diimbangi literasi keuangan memadai dapat semakin memperburuk siklus utang di kalangan generasi muda.
4. Tantangan Cicilan dan Prioritas
Survei menunjukkan sebagian Gen Z dan milenial belum mampu membayar cicilan KPR secara rutin atau bahkan belum memprioritaskan kepemilikan rumah di usia muda.
Di sisi lain, Associate Director Research and Consultancy Department PT Leads Property Services Indonesia, Martin Samuel Hutapea, mengamati pergeseran pola berpikir generasi muda.
“Ketimbang membeli mobil yang tenor cicilannya maksimal 6 tahun, mereka cenderung memilih mencicil rumah yang tenor cicilannya bisa mencapai 20 tahun,” katanya dikutip dari investor.id.
Langkah Praktis yang Dapat Dilakukan Gen Z agar Bisa Punya Rumah

Simak tips Gen Z agar bisa beli rumah berikut ini:
- Menetapkan target tabungan yang realistis dengan mempertimbangkan kenaikan harga properti tahunan.
- Disiplin menabung dengan rekening terpisah.
- Melunasi utang-utang terlebih dahulu.
- Menghindari pola hidup konsumtif.
- Mencari penghasilan tambahan untuk mempercepat akumulasi dana.
Memiliki hunian di usia muda bukanlah hal yang mustahil bagi Gen Z.
Namun, untuk mewujudkannya, Gen Z diharapkan dapat lebih bijak dalam mengelola keuangan, kesadaran yang semakin meningkat, dan dukungan ekosistem pembiayaan yang terus berkembang.
Wujudkan Rumah Impian Kamu Sekarang!
Nah, bagi yang ingin mengetahui solusi hunian dan simulasi pembiayaan yang sesuai untuk Gen Z, kamu dapat mengakses platform balé properti.
Dapatkan penawaran menarik dari BTN berupa promo suku bunga KPR mulai dari 2,65% untuk mendukung kamu wujudkan hunian impian dengan cicilan yang lebih terjangkau.
Yuk, simak informasi selengkapnya melalui platform balé properti sekarang juga!


