OK
Dijual
Disewa
Properti Baru
Panduan

5 Contoh Cerpen Panjang tentang Persahabatan hingga Kehidupan. Bermakna Mendalam!

01 Februari 2024 · 16 min read Author: Gadis Saktika · Editor: M. Iqbal

contoh cerpen panjang

contoh cerpen panjang | sumber: shutterstock.com

Menulis cerpen dengan isi yang panjang dan tema menarik memang tidak mudah. Apakah kamu juga mengalami hal yang sama? Jangan khawatir, kali ini Rumah123 telah menghadirkan contoh cerpen panjang yang bisa kamu lihat pada uraian di bawah ini.

Menurut KBBI, cerita pendek atau cerpen adalah sejenis tulisan yang menceritakan suatu kisah dengan panjang teks tidak lebih dari 10 ribu kata, dan berfokus pada satu tokoh.

Pendapat lain datang dari Sumardjo dan Saini yang mendefinisikan cerpen sebagai cerita yang bersifat imajiner dan tidak berdasar pada kenyataan dalam dunia nyata, memiliki narasi singkat dan padat.

Namun begitu, cerpen juga bisa dibuat panjang untuk memenuhi suatu kebutuhan, lo.

Nah, cerpen panjang dinilai menjadi teks prosa yang memiliki struktur naratif lebih kompleks daripada cerita pendek biasa.

Teks cerpen ini sering kali mencakup konflik yang rumit, penceritaan yang mendalam, serta karakter-karakter yang kompleks.

Mengingat ukurannya lebih besar, cerpen panjang juga dapat melibatkan beberapa alur cerita dan memperluas latar belakang cerita.

Jenis-Jenis Cerpen

Adapun cerita pendek (cerpen) dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis berdasarkan jumlah katanya:

  • Cerpen pendek memiliki jumlah kata antara 500–700 diksi. Cerpen jenis ini sering disebut juga dengan ficlet.
  • Cerpen sedang memiliki jumlah diksi antara 700–1000 kata.
  • Cerpen panjang memiliki jumlah diksi lebih dari 1000 kata. Bahkan, ada juga yang mencapai 5000–10.000 kata.

Untuk mengetahui lebih jauh soal cerpen panjang, tentunya kamu perlu tahu contohnya, dong.

Berikut Rumah123 hadirkan contoh cerpen panjang yang bisa kamu lihat pada uraian di bawah ini.

5 Contoh Cerpen Panjang Berbagai Tema

1. Cerpen Panjang tentang Persahabatan

Contoh Cerpen Panjang: “Sahabat Sejati Tak Terpisahkan”

Sejak kecil Lulu dan Natasya adalah sahabat dekat yang selalu bermain bersama. Mereka bertemu pada satu sekolah yang sama, saat itu usia mereka masih berumur 7 tahun, hari pertama sekolah dasar, Lulu menyapa Natasya dan mengajaknya duduk bersebelahan. Sejak hari itu pun mereka tidak pernah terpisahkan.

Mereka sering belajar bersama juga. Ayah Natasya adalah seorang pekerja yang mengharuskan dirinya untuk pergi dan menetap di Negara atau kota tertentu, saat ini keluarga Natasya tinggal di Surabaya, namun ia tidak pernah tahu kapan mereka akan pindah karena kadang pekerjaan itu datang tiba-tiba, bisa seminggu sebelum keberangkatan atau pun beberapa hari sebelum keberangkatan. Saat ini Natasya tinggal sudah satu tahun di Surabaya, sebelumnya Natasya tinggal di Jakarta. Lulu adalah anak satu-satunya, orangtuanya sangat sibuk, jadi terkadang Lulu sering menginap di rumah Natasya.

Lulu senang sekali saat ia bertemu Natasya, karena Lulu kerap merasa kesepian karena sering sendiri di rumah, namun kehadiran Natasya di hidupnya sangat merubah Lulu menjadi anak yang lebih bahagia. Pada suatu hari saat Lulu dan Natasya sedang berada dalam kelas IPA, mereka sedang membicarakan pelajaran sampai akhirnya Natasya mengganti topik.

“Nat, kata ayahku, dia akan pindah kerja ke luar negeri.” Kata Natasya. “Yang benar? Kapan?” Tanya Lulu dengan bingung.

“Aku tidak tahu kapan pastinya, namun tidak lama dari sebulan.” Jawab Natasya.

Setelah beberapa hari yang normal, tiba suatu hari yang mereka sangat hindari, yaitu hari dimana Natasya harus berpisah dengan Lulu. Natasya pergi tanpa sepengetahuan Lulu, tanpa perpisahan. Lulu mencari keberadaan Natasya di hari Senin itu. Mereka tidak mempunyai telepon genggam karena mereka masih kelas 1 SD, jadi mereka tidak mempunyai jalur komunikasi untuk memberi kabar. Hari senin itu Lulu mencari Natasya namum dia tidak ada di sekolah.

Lalu, Lulu menanyakan kabar Natasya lewat wali kelas Natasya, ternyata Lulu dikabarkan bahwa Natasya telah pergi mengikuti ayahnya yang harus kerja di luar negeri, Lulu tidak tahu pasti Natasya pergi kemana wali kelas Nat juga tidak tahu keberadaannya. Bertahun-tahun telah terlewati, Lulu pun sudah lupa tentang Natasya, ia sudah kehilangan kontak dan kabar dari Natasya. Lulu akhirnya lulus SMA, ia sangat bahagia untuk meneruskan kuliahnya di Amerika. Lulu bercerita pada orangtuanya tentang keberangkatannya ke Amerika dalam kurun waktu yang tidak panjang. “Aku sangat gugup, bu. Aku tidak tahu nanti di sana aku akan bagaimana.

Tadi malam aku bermimpi tentang Natasya, mimpinya kurang jelas namun seperti saat dulu kita pertama bertemu.” Kata Lulu dengan bingung.

“Mungkin itu suatu pertanda, ya ibu tidak tahu sih. Kamu jangan khawatir, ini kan yang kamu inginkan dari dulu.” Jelas Ibu.

“Ya sudahlah, aku tidak akan memikirkan lagi. Hanya sebuah mimpi kan.” Kata Lulu Lulu akan berangkat meraih cita-citanya esok hari. Ia sangat gugup namun juga senang karena bisa meneruskan kuliahnya di universitas favoritnya. Pikiran Lulu pun bercampur aduk.

Keesokannya Lulu diantar oleh beberapa sahabatnya dari SMA dan tentunya orangtuanya ke bandara. Lulu akan menetap di sana untuk beberapa tahun. Mereka semua bersedih karena akan berpisah dengan Lulu untuk waktu yang lama, apalagi Lulu adalah seorang yang sangat mudah dikangenin. Sesampainya di Amerika, Lulu naik taksi untuk pergi ke universitas tersebut. Sesampainya di sana, banyak sekali murid-murid lainnya, mereka sedang sibuk mengurus kedatangan mereka dan lain hal. Mereka juga mendapatkan kamar mereka masing-masing di asrama.

Setelah Lulu selesai menguruskan urusan penting setelah kedatangan, Lulu mengambil kunci kamar asramanya untuk menaruh barang bawaannya. Dalam satu kamar terdapat dua orang, Lulu tidak tahu siapa yang akan menjadi teman sekamarnya. Di sana banyak sekali orang-orang dari berbagai macam Negara, termasuk dari Indonesia, Lulu bukanlah satu-satunya orang Indonesia di sana.

Lulu pun menemukan kamarnya, ia langsung membuka kamarnya dan merapikan barang-barangnya, memasukan baju ke lemari dan lain hal. Setelah beberapa menit membersihkan barangnya, teman sekamar ia pun datang. “Hi, we’re going to be a roommate for 4 years, hope it’ll be fun! My name is Natasya.” Ujar teman sekamar itu.

“Hah! Natasya! aku Lulu ingat kah aku, dulu kita sering bermain bersama saat masih kecil!” Teriak Lulu yang kaget bahwa ia ternyata sekamar dengan Natasya.

“Yang benar saja! tentu aku ingat dengan kamu. Apa kabarnya Lu? Aku tidak menyangka kita dipertemukan di satu universitas yang sama!” Tanya Natasya yang masih tidak habis pikir.

“Aku baik-baik saja. Kita tidak pernah ada kabar lagi ya Nat, aku sangat kangen sama kamu. Mengapa waktu itu kamu tidak mengabarkan aku saat kamu ingin pergi? aku nyariin kamu seharian!” Tanya Lulu yang ingin tahu tentang alasan Natasya.

“Lu, aku ini tidak tahu kalau aku akan pergi pada hari itu dulu. Benar-benar mendadak, ayahku baru ngasih tahu hari itu! Lu aku masih tidak percaya. Maafin aku ya Lu dulu udah ninggalin kamu. Sekarang aku janji bakal ada bareng kamu terus selama kuliah ini!” Kata Natasya.

“Tentu Lu, aku maafin. Yang penting sekarang kita dipertemukan lagi ya. Oh ya, kita kan abis ini bakal ada acara hari pertama, ayo kita siap-siap ya Nat.” Kata Lulu.

“Ok Lu!” Kata Natasya dengan singkat.

Mereka pun akhirnya dipertemukan lagi, dalam situasi yang tidak diduga sama sekali oleh mereka. Mereka pun akan melanjutkan meraih mimpi mereka bersama-sama. Karena sahabat sejati takkan terpisahkan.

2. Contoh Cerpen Panjang tentang Anak Sekolah

contoh cerpen panjang

sumber: shutterstock.com

Contoh Cerpen Panjang: “Jangan Menuduh Orang Sembarangan”

Jantungku berdegup kencang karena panik bukan main. Bagaimana tidak, flashdisk yang berisikan data-data penting selama kuliah, termasuk skripsi, hilang di dalam perpustakaan.

Rasa takut dalam diri kemudian membuncah lantaran aku tak mempunyai back up data skripsi. Aku mencari di seluruh sudut perpustakaan sampai bertanya sana-sini juga ke petugas. Hasilnya nihil, flashdisk berisi data penting tak jua ditemukan.

Di hari yang sama ketika flashdisk milikku hilang, ada beberapa teman yang juga ikut ke perpustakaan. Satu di antaranya ialah Reza. Mantan teman dekatku yang beberapa bulan terakhir ini aku sering cekcok dan perang dingin dengannya.

Perasaanku tertutup dan akal sehatku menuduh Reza sebagai dalang hilangnya flashdisk di perpustakaan. Ketika aku berada di kelas saat hendak memulai perkuliahan tanpa tedeng aling-aling aku menuju ke tempat duduk Reza.

“Kamu ke manakah flashdisk milikku, Za?” cetusku.

“Apa maksudmu?” Reza menimpali bingung.

“Jangan pura-pura tak tahu, kamu pasti yang mengambil flashdisk punyaku ketika kita berada di perpustakaan tempo hari,” desakku.

“Ha?” Reza berdiri, terpancing.

“Jangan asal nuduh, aku sama sekali tak tahu,” nada suaranya mulai ikut naik.

Sadar ada keributan di kelas, semua mata orang di kelas tertuju pada kami.

Kini, aku dan Reza saling berhadapan berdiri. Bagai dua orang yang siap berkelahi.

Temanku Boy lalu berdiri mencoba menengahi.

“Ada apa ini ribut-ribut?”

“Ini si Reza maling flashdisk di perpustakaan,” ungkapku.

Tak terima disebut maling, Reza kemudian mulai menarik kerah kaosku.

“Jangan omonganmu, hati-hati kalau bicara!” ujar Reza marah.

Ketika di ujung tanduk dan hampir terjadi perkelahian, Pak Sony kemudian masuk kelas.

Ia kaget karena melihat pemandangan kelas yang sudah memanas. Pak Sony lalu bertanya setengah bingung.

“Ada apa ini? Sudah jangan ribut di kelas,” ungkapnya hendak melerai.

Kemudian Boy menceritakan apa yang sedang terjadi. Pak Sony lantas mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya.

“Tadi ada petugas perpustakaan menghampiri bapak memberikan FD ini. Si petugas ngomong kalau FD ini terjatuh di tangga perpus. Setelah di cek ternyata ini punya kamu, Marsel,” jelas Pak Sony.

Hatiku bergetar kencang, antara senang dan malu. Senang FD milikku ditemukan, malu karena sudah menuduh Reza tanpa bukti kuat. Pak Sony pun kemudian mencoba mendamaikan aku dan Reza.

Lantara salah, aku langsung meminta maaf kepada Reza karena sudah menuduhnya sembarangan. Mulanya Reza enggan untuk menerima maaf sebab ia kesal bukan main sudah dituduh sembarangan.

Namun, Pak Sony dan teman di kelas mencoba mencairkan suasana dan menjelaskan ini cuma salah paham. Sebagai gantinya aku pun berjanji akan memberikan Reza makan siang.

Pak Sony juga memberikan petuah agar tak main tuduh ke orang, meski orang itu sedang punya masalah denganku. Apa pun yang terjadi, kita harus berpikir jernih.

Aku kemudian meminta maaf ke Reza, Pak Sony, dan teman-teman di kelas.

3. Cerita Panjang tentang Binatang

Contoh Cerpen Panjang: “Hutan Merah”

Matahari bersinar terik di Lampung. Sinarnya terhalang rimbunnya pepohonan, sehingga hanya menyisakan berkas tipis. Burung-burung berkicau seolah sedang menyanyikan lagu untuk alam. Bunyi riak jernih sungai beradu dengan batu kali berpadu dengan sahutan dari beberapa penghuni hutan yang lainnya. Ya, inilah tempat tinggal Bora, si anak gajah Lampung yang sekarang tengah asyik bermain bersama teman-temannya di sebuah sungai.

Ketika Bora menyemprotkan air ke arah Dodo—anak gajah lainnya—dengan belalainya, ia pun memekik nyaring. Sampai akhirnya, kegembiraan mereka terpecah oleh bunyi bising dari sebelah utara hutan. Bunyi bising itu bercampur dengan deru sesuatu yang sama sekali tidak Bora kenal.

“Hei, lihat itu!”

Semua serentak menghentikan kegiatan mereka dan menengok ke langit yang ditunjuk Dodo. Asap hitam tebal yang membumbung tinggi dari sana. Asap itu semakin tebal dan terus menebal. Itu merupakan fenomena aneh yang baru pertama kali mereka saksikan. Selama ini yang mereka tahu, langit selalu berwarna biru cerah dengan awan putih berarakan.

Keheningan hutan itu kemudian pecah saat Teo tiba-tiba saja datang sambil memekik nyaring, “Hutan terbakar! Hutan terbakar!”

Semua ikut memekik ketakutan. Hutan terbakar! Tempat tinggal mereka terbakar!

“Bora! Apa yang kau lakukan!? Cepat pergi!” Pipin berteriak sambil menarik belalai Bora dengan belalainya..

Suasana hutan yang tadinya damai tenteram, seketika menjadi neraka bagi semua hewan. Asap hitam pekat yang mulai menyelimuti seluruh hutan ini. Suhu udara mulai panas, membuat para hewan makin berteriak nyaring.

Bora panik bukan main. Sambil mengikuti langkah Pipin, matanya bergerak ke sana-ke mari, mencari sosok ibunya.

“Pipin! Di mana ibuku?” tanya Bora.

“I-ibu … ibumu ….” Pipin tidak bisa menjawab karena sama-sama tidak tahu di mana ibu Bora berada.

“Aku harus kembali ke sarang!” Bora melepaskan belalainya dari belalai Pipin, lalu berbalik untuk kembali ke sarangnya.

Namun, sebelum Bora melancarkan niatnya itu, Pipin sudah menarik kembali belalainya. “Ibumu pasti sudah berada di depan. Bersama gajah dewasa lainnya.”

Bora menghiraukan ucapan Pipin, lalu kembali meloloskan belalainya dan berlari sekuat mungkin menuju sarangnya.

“Bora!” Pipin berteriak di belakangnya.

Bora sampai di dekat sarangnya berada dengan napas terengah. Ia langsung membelalakkan mata begitu melihat sosok ibunya sedang bersusah payah keluar dari sarang. Api sudah menjalar di setiap pohon di dekat sarangnya itu.

“Ibu!” teriak Bora sekuat tenaga.

“Sedang apa kamu?! Cepat pergi dari sini!” teriak ibu Bora sambil menggerakkan belalainya, menyuruh Bora menjauh dari tempat ini.

“Tidak! Aku tidak mau!” balas Bora keras kepala. Kenapa ibunya masih bisa berkata seperti itu? Padahal jelas-jelas ia dalam keadaan terjebak api?

“Cepat pergi, Bora!”

“Bora! Ayo pergi!” Tiba-tiba saja Pipin datang ke tempatnya dan langsung menarik belalai Bora.

“Tidak mau!” Bora menyentak belalai Pipin keras. “Ibu! Aku akan menyelamatkanmu!”

“Jangan, Bora!” bentak Pipin

Kraaak! Braaak!

“IBU!! IBU!!” Bora terus meraung memanggil ibunya. Pohon yang sedang terbakar itu jatuh dan kemudian menimpa tubuh payah ibu Bora.

“Ayo, Bora, kita harus pergi,” lirih Pipin sambil menarik Bora.

Sekali lagi Bora menoleh ke belakang saat dirinya sudah cukup jauh dari sarangnya. Tidak ada lagi hutan hijau dengan tumbuhan rindang di sekitarnya. Hutan hijau yang selalu ia kagumi sudah berubah menjadi hutan merah yang sangat panas.

4. Cerpen Panjang tentang Cinta

Cerpen Panjang: “Cinta di Antara Teman Sekelas”

Pagi itu, matahari bersinar cerah di langit Kota Bandung. Angin semilir berhembus, membawa kesejukan. Di sebuah SMA negeri di kota itu, para siswa dan siswi tengah sibuk bersiap-siap untuk memulai pelajaran.

Di antara para siswa yang sedang sibuk itu, ada dua orang yang tampak berbeda. Mereka adalah Bintang dan Rara, dua orang siswa kelas XII IPA 1. Bintang adalah seorang siswa laki-laki yang tampan dan cerdas. Ia selalu menjadi juara kelas sejak SD hingga SMA. Rara adalah seorang siswi perempuan yang cantik dan pintar. Ia juga selalu menjadi juara kelas di setiap mata pelajaran.

Bintang dan Rara telah menjadi teman sekelas sejak kelas X. Sejak awal, mereka sudah saling mengenal dan berteman baik. Mereka sering belajar bersama dan mengerjakan tugas bersama. Mereka juga sering mengobrol dan berbagi cerita.

Semakin lama, Bintang mulai menyadari bahwa ia memiliki perasaan yang lebih dari sekadar teman kepada Rara. Ia mulai menyukai Rara. Namun, Bintang tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada Rara. Ia takut ditolak.

Rara juga mulai menyadari bahwa ia menyukai Bintang. Namun, ia juga tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada Bintang. Ia takut jika Bintang tidak memiliki perasaan yang sama.

Hari-hari pun berlalu. Bintang dan Rara terus menyimpan perasaan mereka masing-masing. Mereka tidak berani mengungkapkan perasaan mereka karena takut ditolak.

Suatu hari, Bintang dan Rara sedang belajar bersama di perpustakaan sekolah. Mereka sedang mengerjakan tugas matematika yang sulit. Bintang dan Rara saling membantu mengerjakan tugas tersebut. Mereka saling berdiskusi dan saling berbagi ide.

Setelah selesai mengerjakan tugas, Bintang dan Rara masih duduk di meja yang sama. Mereka masih saling bercerita dan tertawa. Bintang merasa sangat bahagia bisa bersama Rara. Ia ingin terus bersama Rara.

Tiba-tiba, Bintang memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya kepada Rara. Ia berkata, “Rara, aku menyukaimu.”

Rara terkejut mendengar perkataan Bintang. Ia tidak menyangka bahwa Bintang menyukainya. Rara pun berkata, “Aku juga menyukaimu, Bintang.”

Bintang dan Rara saling tersenyum. Mereka akhirnya bisa mengungkapkan perasaan mereka masing-masing. Mereka senang bisa menjadi sepasang kekasih.

Hubungan Bintang dan Rara semakin hari semakin dekat. Mereka selalu bersama di mana pun dan kapan pun. Mereka selalu saling mendukung dan saling menyayangi.

Pada hari kelulusan SMA, Bintang dan Rara saling berjanji untuk tetap bersama. Mereka berjanji untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.

Bintang dan Rara lulus SMA dengan nilai yang memuaskan. Mereka diterima di universitas yang sama. Mereka pun melanjutkan hubungan mereka di bangku kuliah.

Hubungan Bintang dan Rara semakin kuat seiring berjalannya waktu. Mereka saling mendukung dan saling menyayangi. Mereka akhirnya menikah dan hidup bahagia bersama.

Cinta Bintang dan Rara adalah cinta yang tulus. Mereka saling mencintai tanpa pamrih. Mereka saling mendukung dan saling menyayangi dalam suka dan duka.

5. Contoh Cerpen Panjang tentang Keluarga

contoh cerpen panjang

sumber: shutterstock.com

Cerpen Panjang: Serumpun Kasih

Hari itu, mentari senja menyinari sebuah rumah sederhana yang terletak di pinggiran kota. Rumah itu menjadi saksi bisu kebahagiaan dan liku-liku perjalanan hidup sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota. Mereka adalah Ayah, Ibu, Kakak bernama Rizki, dan Adik yang bernama Maya.

Rizki, seorang kakak yang berusia 25 tahun, telah bekerja keras untuk menyambungkan pendidikannya di sebuah universitas terkemuka. Dia adalah sosok yang bertanggung jawab dan penuh dedikasi terhadap keluarganya. Meski kehidupan terkadang menuntutnya untuk bekerja keras, Rizki selalu mencurahkan waktunya untuk membimbing adiknya, Maya, dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan belajar.

Maya, seorang remaja berusia 15 tahun, adalah seorang siswi yang ceria dan penuh semangat. Meski kadang terlihat ceroboh, dia memiliki tekad untuk mengejar mimpinya. Kesehariannya diisi dengan pelajaran sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler yang membuatnya lebih aktif dan percaya diri.

Ayah, seorang pria paruh baya dengan senyum hangat, bekerja sebagai guru di sebuah sekolah dasar. Dia adalah tiang utama keluarga yang selalu memberikan dukungan dan bijaksana dalam menghadapi setiap permasalahan keluarga. Ibu, seorang wanita penyayang dengan senyum lembut, bekerja sebagai pekerja sosial. Ia membantu masyarakat sekitar yang membutuhkan, sekaligus memberikan teladan kebaikan bagi kedua anaknya.

Kehidupan keluarga ini tidak selalu mulus. Mereka mengalami berbagai cobaan, tetapi dengan kebersamaan dan kekompakan, mereka selalu berhasil melewati setiap badai yang datang. Ketika Rizki mengalami kesulitan dalam kuliahnya, keluarga selalu memberikan dukungan moral dan materi. Ketika Maya mengalami masalah di sekolah, mereka bersama-sama mencari solusi dan memberikan semangat agar Maya tidak patah semangat.

Hari-hari mereka penuh dengan tawa, canda, dan berbagi cerita. Setiap malam, keluarga ini berkumpul di meja makan untuk saling berbagi pengalaman hari itu. Mereka menghabiskan waktu untuk mendengarkan satu sama lain, memberikan nasihat, dan saling menyemangati.

Pada suatu ketika, Ayah harus menghadapi masalah kesehatan yang cukup serius. Keadaan ini membuat keluarga ini diuji secara emosional. Namun, mereka tidak pernah menyerah. Rizki yang telah bekerja, Maya yang semakin dewasa, dan Ibu yang penuh kasih sayang, bersatu untuk merawat Ayah. Setiap anggota keluarga memberikan perhatian dan dukungan tanpa pamrih, menciptakan ikatan keluarga yang semakin kuat.

Dengan tekad dan kekuatan cinta, keluarga ini berhasil mengatasi ujian kehidupan mereka. Ayah sembuh dari sakitnya, dan kebahagiaan pun kembali menghiasi rumah mereka. Pengalaman tersebut membuat mereka lebih menghargai arti keluarga dan bersyukur atas kebersamaan yang selalu ada.

Kisah keluarga ini menjadi bukti bahwa dalam liku-liku kehidupan, kasih sayang dan kebersamaan keluarga adalah kekuatan utama yang mampu mengatasi segala rintangan. Serumpun kasih yang terjalin di antara Ayah, Ibu, Rizki, dan Maya adalah pilar kokoh yang mendukung setiap langkah kehidupan mereka, membuat rumah mereka menjadi tempat yang penuh cinta dan kedamaian.

***

Nah, itulah ragam contoh cerpen panjang yang bisa kamu ketahui.

Kamu juga bisa temukan inspirasi contoh cerpen persahabatan lainnya, lo.

Semoga informasi di atas bisa bermanfaat untukmu ya, Property People.

Dapatkan informasi lainnya hanya di laman artikel.rumah123.com.

Yuk, kunjungi juga Teras123 untuk ngobrolin properti bersama expert!

Siapa tahu, kalau kamu ingin beli rumah di Rumah123, tapi belum tahu apa saja persyaratan yang perlu dikumpulkan, langsung tanya-tanya saja karena #SemuaAdaDisini.


Tag: , ,


Gadis Saktika

Content Writer

Gadis Saktika adalah Content Writer di 99 Group yang sudah berkarier sebagai penulis dan wartawan sejak tahun 2019. Lulusan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI ini senang menulis tentang etnolinguistik, politik, HAM, gaya hidup, properti, dan arsitektur.
Selengkapnya

IKLAN

Tutup iklan
×

SCROLL UNTUK TERUS MEMBACA