
Dalam kumpulan contoh cerpen 300 ini, tersaji beragam tema yang relevan bagi pelajar.
Mulai dari perjuangan memahami pelajaran di kelas, ikatan persahabatan yang diuji keadaan, hingga proses menemukan jati diri di masa remaja.
Contoh Cerpen 300 Kata
Cerpen 300 Kata Tentang Pendidikan: “Kertas Kuning untuk Bu Guru”

Bel sekolah baru saja berbunyi ketika Dira mendapati selembar kertas kuning tergeletak di atas mejanya. Tulisan di ujungnya miring, seolah ditulis terburu-buru: “Tolong bantu aku belajar Matematika. Jangan bilang siapa-siapa.” Tidak ada nama. Tidak ada tanda tangan. Hanya pesan itu, kecil namun terasa berat, seolah membawa kegelisahan seseorang.
Sepulang sekolah, Dira mencoba menebak siapa pengirimnya. Mungkin Rafi, yang sering menunduk saat pelajaran pecahan dan pura-pura mencari pensil di tas untuk menghindari pertanyaan. Atau mungkin Sela, yang selalu tampak gugup ketika maju ke papan tulis, apalagi jika Bu Mira meminta menjelaskan langkah-langkah pengerjaan soal. Namun esok paginya, kertas kedua muncul, kali ini diselipkan di buku catatannya. Tulisan itu lebih rapi, tetapi tetap tampak ragu-ragu: “Aku takut nilai ulanganku jelek lagi. Aku ingin berubah, tapi aku malu.”
Dira akhirnya memutuskan bercerita pada Bu Mira, guru kelas mereka. Ia khawatir jika membiarkan pengirim pesan itu sendirian, malah membuatnya semakin tertekan. Bu Mira membaca kedua kertas itu dengan tenang. “Kadang, keberanian bukan tentang bisa mengerjakan soal sulit,” katanya sambil tersenyum lembut. “Keberanian adalah mau meminta tolong.”
Malam itu, Bu Mira mengirim pesan di grup kelas: “Besok setelah pulang sekolah, saya buka kelas belajar tambahan Matematika untuk siapa pun yang butuh. Tidak perlu malu.”
Keesokan hari, Dira terkejut melihat siapa yang datang pertama: Rafi… lalu Sela… lalu Fadil… bahkan beberapa teman lain yang selama ini tampak percaya diri. Mereka duduk berdekatan, membawa buku pecahan yang sama, dengan wajah yang sama-sama ingin berusaha. Tidak ada yang saling mengejek, tidak ada yang merasa lebih pintar.
Bu Mira menatap mereka satu per satu. “Kalian tidak sendirian.”
Dan saat itulah Dira menyadari sesuatu: mungkin pengirim kertas itu tidak hanya satu orang. Mungkin itu adalah suara diam banyak teman yang takut terlihat lemah.
Di hari itu, kelas kecil mereka menjadi tempat baru untuk keberanian, bukan keberanian mendapatkan nilai sempurna, melainkan keberanian untuk belajar bersama.
Baca juga:
5 Contoh Cerpen 200 Kata, Cerita Singkat dan Menarik
Cerpen 300 Kata Tentang Pengalaman Pribadi: “Sepatu Baru untuk Lari Pertama”

Pagi itu, aku datang ke sekolah dengan langkah yang agak canggung. Sepatuku yang baru, hadiah ulang tahun dari Ayah, masih terasa kaku di kaki. Warnanya biru tua dengan garis putih di sampingnya, membuatnya terlihat lebih cepat daripada diriku sendiri. Teman-teman banyak yang memuji, tetapi justru itu membuatku makin gugup. Hari ini ada lomba lari antar-kelas, dan aku belum pernah ikut sebelumnya. Aku takut mengecewakan tim, dan lebih takut lagi terlihat bodoh di depan semua orang.
Saat istirahat, aku mencoba berlatih di lapangan. Napasku cepat habis, dan kakiku terasa berat seolah menolak diajak berlari. Seno, sahabatku sejak kelas dua, menghampiri sambil membawa botol minum. “Tenang saja,” katanya sambil menepuk bahuku. “Yang penting kamu coba dulu. Kita satu tim, ingat?” Kata-kata itu membuatku sedikit lega. Setidaknya aku tidak sendiri.
Ketika bel perlombaan berbunyi, semua peserta berbaris di garis start. Aku bisa mendengar sorakan siswa lain, juga degup jantungku sendiri yang terdengar lebih keras daripada peluit guru olahraga. “Siap… mulai!”
Aku berlari sekuat yang kubisa, tapi beberapa anak langsung melesat jauh di depan. Nafasku memburu, dan aku hampir ingin menyerah ketika menyadari Seno berlari di sampingku. “Ayo, jangan berhenti! Kita selesaikan bareng!” katanya tanpa memperlambat langkah.
Entah dari mana, semangatku muncul. Aku mencondongkan badan, mengayunkan tangan lebih cepat, dan mulai mengejar. Ketika mendekati garis finis, kakiku gemetar, tetapi aku tidak memperlambat. Aku tidak menang. Aku berada di posisi keenam dari sepuluh peserta. Tapi anehnya, aku tidak merasa kalah.
Saat aku berhenti, napas terengah, Guru olahraga menepuk pundakku. “Kamu berlari sampai akhir. Itu lebih penting daripada juara.”
Aku melihat sepatu baruku berdebu, kusut, tapi terasa menyatu dengan langkahku. Di hari itu, aku belajar bahwa pengalaman pertama tidak harus sempurna. Yang penting, aku berani memulai.
Dan ketika pulang sekolah, aku justru ingin memakai sepatu itu lagi untuk berlari, bukan untuk dipuji.
Baca juga:
5 Contoh Cerpen 500 Kata Beragam Tema Penuh Makna
Contoh Cerpen 300 Kata Tentang Sekolah: “Hari Ketika Kelas Menjadi Kebun Rahasia”
Aku tidak pernah menyangka bahwa hari Senin bisa menjadi hari paling menyenangkan di sepanjang semester. Biasanya, Senin identik dengan kantuk, PR menumpuk, dan antrean panjang di depan kantin. Namun pagi itu, sesuatu berbeda. Ketika kami masuk kelas, Bu Siska berdiri di depan papan tulis dengan sebuah kotak besar berwarna hijau di meja guru.
“Mulai minggu ini,” katanya sambil membuka kotak itu, “kita akan membuat proyek kelas: Kebun Mini.”
Semua langsung bersorak. Di dalam kotak itu ada plastik kecil berisi tanah, pot mungil, dan beragam biji tanaman: cabai, tomat, kangkung, bahkan bunga matahari. Bu Siska menjelaskan bahwa tugas kami adalah menanam, merawat, dan mencatat perkembangan tanaman setiap hari. Kelompok yang tanamannya tumbuh paling sehat akan mendapatkan hadiah buku cerita.
Aku ditempatkan di kelompok yang terdiri dari lima orang: aku, Rehan, Lila, Muti, dan Fardan. Kami memutuskan menanam bunga matahari karena bentuknya yang cerah dan mudah dirawat. Saat menabur tanah ke pot, tiba-tiba Rehan bersin keras hingga tanahnya tumpah ke meja. Semua tertawa, termasuk Rehan sendiri, yang wajahnya langsung merah.
Selama beberapa hari, kelas berubah seperti kebun kecil. Setiap pagi, kami berebut melihat apakah benih sudah tumbuh. Lila selalu mencatat dengan teliti tinggi tanaman kami, Muti rajin menyiram, sementara Fardan bertugas memastikan pot tidak terkena sinar matahari langsung terlalu lama. Aku sendiri menjaga jadwal rotasi tugas agar tidak ada yang malas-malasan.
Tiga minggu kemudian, bunga matahari kami menjadi yang pertama merekah. Warnanya kuning terang, kelopaknya besar dan menghadap ke jendela seolah menyapa pagi. Ketika Bu Siska mengumumkan bahwa kelompok kami menang, kami saling bersorak dan berpelukan.
Namun hadiah sebenarnya bukan buku cerita itu. Hadiah terbaik adalah pengalaman bekerja sama, tertawa bersama, dan melihat sesuatu tumbuh karena usaha kami sendiri.
Dan pada hari itu, aku mulai menyukai hari Senin.
Cerpen 300 Kata Tentang Persahabatan: “Rahasia di Balik Pohon Mangga”

Setiap jam istirahat, aku dan Arman selalu pergi ke halaman belakang sekolah, tempat sebuah pohon mangga tua berdiri megah. Pohon itu seperti markas kecil kami. Di sana kami menggambar, bercerita, bahkan membuat rencana-rencana aneh yang hampir selalu gagal. Tapi minggu itu, Arman berubah. Ia sering menyendiri, datang terlambat, dan jarang tertawa. Bahkan ketika aku mengajak ke pohon mangga, ia hanya berkata singkat, “Nanti saja.”
Aku mulai khawatir. Arman bukan tipe yang diam tanpa alasan. Suatu sore, aku memutuskan mengikutinya pulang dari kejauhan. Ia berhenti di depan sebuah rumah kontrakan kecil. Di halaman, ada banyak kardus yang belum dibuka. Ibu Arman keluar, wajahnya lelah. Dari percakapan mereka, aku baru tahu: keluarga Arman baru pindah, dan ayahnya kehilangan pekerjaan.
Keesokan harinya, Arman tetap datang dengan wajah datar. Aku tidak langsung menanyakan apa pun. Sebaliknya, aku mengajaknya kembali ke pohon mangga. “Aku punya ide,” kataku sambil mengeluarkan kertas karton. “Kita buat mading mini pohon mangga. Semua orang boleh ikut nulis pesan penyemangat.”
Arman mengangkat alis, ragu. Tapi akhirnya ia membantu. Dalam hitungan hari, mading kecil itu penuh warna. Ada gambar lucu, puisi pendek, cerita teman-teman, bahkan ucapan terima kasih karena pohon mangga sudah memberi teduh setiap hari. Banyak siswa yang ikut mengisi tanpa tahu siapa yang memulainya.
Suatu siang, Arman duduk di bawah pohon itu lebih lama dari biasanya. “Terima kasih,” katanya pelan. “Aku kira aku sendirian.”
Aku menepuk bahunya. “Kita sahabat. Sahabat itu tempat pulang, meski rumah sedang berantakan.”
Arman tersenyum, senyum pertamanya setelah berminggu-minggu.
Dan sejak hari itu, pohon mangga bukan hanya markas kecil kami, tetapi juga simbol bahwa persahabatan bisa menjadi tempat bernaung ketika hidup terasa terlalu berat.
Cerpen 300 Kata Tentang Masa Remaja: “Suara dari Ruang Musik”
Sejak awal masuk SMP, aku selalu iri pada anak-anak yang punya bakat jelas. Ada yang jago basket, ada yang pintar menggambar, ada juga yang suaranya merdu seperti penyanyi sungguhan. Aku? Aku hanya merasa biasa saja. Tidak buruk, tapi juga tidak menonjol. Sampai suatu hari, Bu Yulia, guru musik, meminta seluruh kelas mencoba bermain alat musik secara bergantian.
Aku duduk di bangku paling belakang, berharap giliranku tidak tiba. Namun nama-nama terus dipanggil, dan akhirnya, “Nara!” suara Bu Yulia menggema. Aku terpaksa maju.
Di hadapanku ada keyboard elektronik. Aku bahkan tidak tahu tombol mana yang harus ditekan dulu. Tangan kiriku dingin, jantungku berdetak keras. Tapi Bu Yulia tersenyum, seolah mengerti ketakutanku. “Tekan satu nada saja. Tidak apa-apa jika salah.”
Aku mengangkat jari pelan-pelan dan menekan satu tuts. Suaranya lembut, nyaris bergetar. Aneh sekali, justru suara kecil itu membuatku ingin mencoba lagi. Aku menekan nada lain, lalu dua nada sekaligus. Tiba-tiba aku merasa seperti sedang berbicara lewat suara yang bukan milikku. Teman-teman berhenti berbisik, beberapa mulai memperhatikan.
“Bagus, Nara,” kata Bu Yulia. “Kamu punya rasa. Tinggal dilatih.”
Sore itu, aku tinggal lebih lama di ruang musik. Bu Yulia mengajariku pola sederhana, dan aku memainkannya berulang-ulang sampai jari-jariku tidak terlalu kaku. Saat nada-nada itu akhirnya terdengar lancar, ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan, campuran bangga, lega, dan seakan-akan aku menemukan bagian diriku yang selama ini hilang.
Esoknya, Ardi dan Siska, dua teman sekelasku, mengajakku bergabung untuk tampil di acara pentas seni bulan depan. “Kamu main keyboard, ya? Kamu cocok,” kata mereka.
Untuk pertama kalinya, aku merasa punya tempat. Masa remaja ternyata bukan tentang sudah hebat sejak awal, tetapi tentang berani mencoba sampai kita menemukan suara kita sendiri.
*
Semoga bermanfaat, ya.
Temukan artikel contoh cerpen lainnya hanya di artikel.rumah123.com.
Cari rumah yang terjamin aman dan murah? Langsung cek Rumah123 karena apapun yang kamu #SemuaAdaDisini.

