
Cerpen 200 kata semakin diminati pembaca karena formatnya yang ringkas, mudah dipahami, dan tetap mampu menghadirkan cerita yang hidup.
Meski pendek, cerpen jenis ini tetap bisa memuat konflik, emosi, dan pesan moral yang kuat, sehingga cocok untuk bahan bacaan cepat, tugas sekolah, maupun inspirasi menulis.
Artikel Rumah123 menghadirkan kumpulan cerpen 200 kata dengan tema beragam (sekolah, persahabatan, hingga pengalaman pribadi) yang semuanya ditulis secara orisinal dan menarik.
Contoh Cerpen 200 Kata
Contoh Cerpen 200 Kata Tentang Sekolah: “Keyakinan Pagi Itu”

Pagi itu, halaman sekolah masih basah oleh embun ketika Raka tiba paling awal. Ia sengaja datang lebih cepat karena hari ini adalah hari presentasi kelompok, dan hanya dia yang belum benar-benar siap. Ruang kelas masih kosong, kecuali suara kipas angin yang berdecit pelan.
Raka membuka buku catatannya, mencoba menghafal poin-poin penting. Namun pikirannya justru melayang pada komentar Bu Mira minggu lalu: “Kamu pintar, Rak, tapi terlalu sering ragu.” Kalimat itu menempel seperti stiker yang sulit dilepas.
Beberapa menit kemudian, teman-temannya berdatangan. Sinta, ketua kelompok, langsung duduk di sampingnya. “Kamu siap?” tanyanya. Raka menelan ludah, mengangguk setengah yakin.
Ketika bel berbunyi, seluruh kelas menjadi riuh. Kelompok mereka dipanggil pertama. Raka berdiri, tangannya sedikit gemetar. Tapi ketika matanya menyapu ruangan, melihat Sinta memberi isyarat semangat, melihat Bu Mira tersenyum kecil, ia merasakan sesuatu berubah dalam dirinya.
Ia mulai berbicara. Perlahan, suaranya menguat, ritmenya stabil, dan penjelasannya mengalir lebih jernih daripada saat ia berlatih sendirian. Bahkan ketika teman-temannya menambahkan bagian mereka, Raka tetap tegak, merasa lebih ringan.
Usai presentasi, Bu Mira bertepuk tangan. “Sekarang kamu terlihat yakin,” katanya. Raka tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia percaya itu benar.
Baca juga:
5 Contoh Cerpen 500 Kata Beragam Tema Penuh Makna
Cerpen 200 Kata Tentang Persahabatan: “Senyap di Bawah Pohon Kenari”

Sore itu, taman belakang sekolah sepi, hanya suara dedaunan kenari yang bergesekan. Adit duduk di bangku kayu, menatap bola basket yang retak di tangannya. Hari itu ia bertengkar dengan Danu, sahabat sejak kelas dua. Masalahnya sepele, operan yang salah saat latihan, tetapi emosi keduanya meledak begitu saja.
Adit menghela napas. Biasanya, Danu sudah mengirim pesan minta maaf duluan. Namun hari ini, ponselnya sunyi.
Langkah kaki terdengar. Danu muncul, menenteng dua es lilin. “Aku nggak jago minta maaf,” katanya sambil mengangkat satu es lilin di udara, “tapi aku bawa upeti.”
Adit hampir tertawa. “Harusnya kamu latihan operan, bukan beli es.”
Danu duduk di sampingnya. Sejenak mereka diam, hanya mendengar suara angin. Lalu Danu berkata pelan, “Kita boleh salah, tapi jangan berhenti main bareng.”
Adit menatap bola yang retak, lalu menyerahkannya pada Danu. “Besok kita beli bola baru. Patungan.”
Danu mengangguk mantap. Ketika es lilin mulai mencair di sela-sela jari mereka, keduanya tertawa, melelehkan sisa-sisa kesal di hati.
Di bawah pohon kenari itu, mereka tahu: persahabatan bukan tentang selalu akur, tetapi selalu kembali.
Baca juga:
8 Contoh Cerpen 1000 Kata tentang Persahabatan, Remaja, Liburan, dan Motivasi
Cerpen 200 Kata Tentang Pengalaman Pribadi: “Lima Menit Terakhir Sebelum Bel Pulang”

Hari itu, aku duduk gelisah di bangku paling belakang. Bu Rani sedang menjelaskan tentang pecahan, tetapi pikiranku malah terpaku pada kotak kecil di laci mejaku: bekal kue cokelat buatan Ibu yang sengaja kusimpan untuk dimakan saat pulang sekolah. Aromanya tadi pagi saja sudah membuatku sulit fokus.
Bel istirahat sudah lewat, tapi aku tidak sempat memakannya karena harus piket. Sekarang, menjelang bel pulang, perutku mulai keroncongan seperti protes keras.
“Latihan soal nomor tiga silakan dikerjakan,” kata Bu Rani. Semua teman menunduk, menulis cepat. Aku mencoba ikut, tetapi laci mejaku terasa seperti memanggil-manggil.
Akhirnya, dengan hati-hati aku menggeser laci sedikit. Aroma manis itu langsung melompat keluar. Sayangnya, Rafi melihatku dan berbisik, “Eh, bagi dong nanti!”
Aku panik dan menutup laci dengan cepat. Detik-detik terakhir terasa panjang. Jam dinding berdetak seperti menertawakan kegelisahanku.
Saat bel pulang akhirnya berbunyi, aku menghela napas lega. Namun sebelum berlari keluar, aku membuka kotak kue itu dan memotong sepotong kecil untuk Rafi.
Entah kenapa, membaginya membuat kue itu terasa lebih enak. Mungkin karena hari itu aku belajar satu hal sederhana: kebahagiaan kadang muncul dari berbagi hal kecil.
Contoh Cerpen 200 Kata Tentang Sekolah: “Kursi Kosong di Baris Tengah”
Sejak awal semester, ada satu kursi kosong di baris tengah kelas kami. Kursi itu seharusnya milik Rendra, teman yang terkenal jago menggambar komik. Namun ia sudah dua minggu tidak masuk karena sakit. Awalnya, kami mengira ia hanya flu biasa. Lama-lama, suasana kelas berubah.
Setiap pelajaran Seni Budaya, Bu Lilis selalu melirik kursi kosong itu. “Anak yang berbakat biasanya kembali dengan karya lebih besar,” katanya, mencoba mencairkan suasana. Tapi kami tahu ia cemas.
Pada suatu Senin pagi, Bu Lilis membawa kabar bahwa Rendra sudah membaik dan mungkin masuk minggu depan. Untuk merayakannya, ia meminta kami membuat satu halaman komik bertema persahabatan. “Kita sambut Rendra dengan bahasanya sendiri,” ujarnya.
Aku yang biasanya kesulitan menggambar mencoba serius. Aku membuat karakter sederhana: dua anak yang saling menarik tangan agar tidak tersesat di lorong sekolah. Saat melihat hasilnya, aku tersenyum kecil. Tidak sempurna, tapi jujur.
Seminggu kemudian, Rendra masuk. Ketika ia melihat dinding kelas yang penuh komik buatan kami, matanya berkaca-kaca. Ia menatap kursi kosongnya, lalu berkata, “Kalian bikin aku ingin cepat sembuh.”
Saat ia duduk kembali, kursi itu akhirnya terasa penuh lagi, bukan hanya oleh kehadirannya, tapi oleh rasa rindu yang diam-diam kami bawa setiap hari.
Cerpen 200 Kata Tentang Persahabatan: “Janji di Balik Lapangan Futsal”
Setiap Jumat sore, aku dan Bayu selalu menjadi orang terakhir meninggalkan lapangan futsal sekolah. Kami bukan pemain terbaik, tapi kami paling betah. Entah karena angin sore yang enak, atau karena itu satu-satunya waktu kami bisa bercerita tanpa terganggu siapa pun.
Suatu hari, Bayu datang dengan wajah lebih pucat dari biasanya. “Aku mungkin pindah sekolah,” katanya pelan, seolah takut kata-katanya bisa pecah di udara. Ayahnya dipindahkan kerja ke kota lain, dan mereka harus ikut.
Aku terdiam, menendang bola kecil di kakiku tanpa arah. Rasanya seperti ada pintu besar yang tiba-tiba menutup. Kami tumbuh bersama sejak kelas tiga; bayangkan saja hari-hari tanpa Bayu di sampingku.
Sore itu, kami bermain hanya berdua, tanpa aturan, tanpa skor. Setiap tawa terasa sedikit getir. Ketika senja mulai menelan lapangan, Bayu berhenti dan berkata, “Kalau aku pindah, kamu harus tetap main tiap Jumat. Kita anggap saja aku masih di sini.”
Aku mengangguk. “Tapi kamu janji balik suatu hari.”
Bayu tersenyum dan mengangkat jempolnya. “Itu wajib.”
Beberapa minggu kemudian ia benar-benar pergi. Namun tiap Jumat sore, aku tetap datang ke lapangan. Dan entah bagaimana, setiap kali angin lewat, rasanya seperti Bayu masih berlari di sampingku.
*
Semoga kumpulan cerpen di atas dapat menjadi hiburan, inspirasi menulis, atau referensi bagi siapa pun yang mencari cerita singkat namun bermakna.
Temukan artikel contoh cerpen lainnya hanya di artikel.rumah123.com.
Cari rumah yang terjamin aman dan murah? Langsung cek Rumah123 karena apapun yang kamu #SemuaAdaDisini.

