OK
503 Service Unavailable | Rumah123.com
Ilustrasi 404

Oops!

Error Code : 503

Halaman yang anda coba akses belum tersedia saat ini. Berikut tautan yang mungkin bisa membantu;

Kembali ke Beranda | Rumah untuk dibeli | Rumah untuk disewa | Cari Agen Properti | Simulasi KPR | Bergabung menjadi Agen

Berbahaya, Kenapa Asbes Masih Dipakai di Atap Rumah Indonesia?

19 September 2023 · 3 min read Author: Maskah Alghofar

Asbes Masih Dipakai di Atap Rumah Indonesia

Sumber: Shutterstock.com

Meskipun sudah dipastikan berbahaya, asbes masih dipakai di atap rumah Indonesia. Ternyata menurut ahli, ini alasannya.

Asbes merupakan salah satu jenis material bangunan yang sudah mulai dilarang penggunaannya.

Bagaimana tidak? Atap bangunan ini bisa memberikan dampak negatif kepada penghuni rumah.

Atap asbes berpotensi menimbulkan efek berbahaya jangka panjang bagi kesehatan, seperti asbestosis, kanker paru-paru, dan mesothelioma.

Meski demikian, rupanya penggunaan asbes di Indonesia sebagai atap masih banyak.

Kira-kira, apa penyebab asbes masih dipakai di atap rumah Indonesia, ya? Simak ulasan selengkapnya.

Kenapa Asbes Masih Dipakai di Atap Rumah Indonesia?

Kenapa Asbes Masih Dipakai di Atap Rumah Indonesia

Kenapa Asbes Masih Dipakai di Atap Rumah Indonesia

Melansir dari YouTube DW Indonesia, Muchamad Darisman, LSM Jaringan Indonesia Larang Asbes, mengungkapkan bahwa atap asbes lebih banyak digunakan oleh masyarakat menengah ke bawah.

Ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab terjadinya hal tersebut, yaitu:

1. Kurangnya Akses Terhadap Material Atap yang Aman

Banyaknya atap asbes yang beredar di masyarakat tersebut karena kurangnya akses mereka terhadap material atap yang lebih aman.

“90% material asbes yang masuk ke Indonesia diproses untuk penggunaan atap semen bergelombang. Jadi, mayoritas itu digunakan oleh masyarakat bawah,” ungkap Darisman saat diwawancarai oleh DW Indonesia, dikutip Rumah123.com, Senin (18/9/2023).

2. Harga Asbes Lebih Terjangkau

Selain itu, atap asbes memiliki harga yang lebih terjangkau alias murah dibandingkan jenis material atap bangunan lainnya.

Maka dari itu, masyarakat menengah ke bawah akan lebih banyak yang tertarik menggunakan atap ini.

“Kenapa sasaran atau pasar dari atap asbes bergelombang ini masyarakat miskin? Karena mereka kurang akses. Dan yang kedua, ini murah,” jelas Darisman.

3. Kurang Aturan dari Pemerintah

Tidak hanya itu saja, Darisman meyakini bahwa ada faktor politik dan ekonomi yang jadi penyebab masih beredarnya asbes di rumah-rumah Indonesia.

Pemerintah dinilai belum serius menangani persoalan dampak asbes bagi masyarakat.

“Jadi, ini ada faktor politik, ekonomi, yang pasti terlibat di sini. Ini ‘kan mayoritas material asbes itu impor. Jadi, dari proses impor, berarti (melibatkan) Bea Cukai, terus masuk ke Kementerian Perdagangan, masuk ke industri. Satu departemen dengan departemen lain itu saling lempar tanggung jawab,” kata Darisman.

LSM Jaringan Indonesia Larang Asbes sendiri telah mendesak pemerintah untuk berhenti mengimpor asbes sejak tahun 2012.

Atap Asbes Dilarang Banyak Negara di Dunia

Meski Indonesia masih banyak yang menggunakan asbes, atap bangunan ini sejatinya sudah dilarang banyak negara di dunia.

Bahkan, sejumlah negara di Uni Eropa sudah melarang peredaran atap asbes sejak tahun 2005.

Selain itu, Australia juga membentuk Badan Keselamatan dan Pemberantasan Asbes  untuk memberikan fokus nasional pada masalah asbes terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

“Di luar negeri juga sebenarnya lebih dari 50 atau 60 negara sudah melakukan pelarangan. Persoalannya, kenapa di Indonesia nggak?” ujar Darisman.

***

Semoga ulasan seputar alasan kenapa asbes masih dipakai di atap rumah Indonesia ini bermanfaat, ya.

Segera cek rekomendasi rumah terbaik di Solo di atas sebelum kehabisan.

Tengok artikel rekomendasi rumah lainnya hanya di artikel.rumah123.com dan Google News kami.

Akses sekarang juga Rumah123.com karena kami pasti #AdaBuatKamu.


Tag: ,


Maskah Alghofar
Maskah Alghofar

Maskah adalah seorang content writer di 99 Group sejak tahun 2022. Lulusan Penerbitan PoliMedia Jakarta ini mengawali karir sebagai jurnalis online. Kini, Maskah rutin menulis tentang properti, gaya hidup, pendidikan, dan kesehatan.

Selengkapnya