OK
Dijual
Disewa
Properti Baru
Panduan

Contoh Naskah Drama Tradisional dari Keong Mas hingga Jaka Tarub

06 Februari 2024 · 7 min read Author: Gadis Saktika · Editor: M. Iqbal

papermoon puppet

naskah drama tradisional | sumber: shutterstock.com

Melestarikan budaya Indonesia yang kaya tak bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah menampilkan naskah drama tradisional. Buat kamu yang juga ingin menampilkannya, tapi tak tahu cara membuat naskah yang benar, yuk pantengin artikel ini sampai habis. Pasalnya, Rumah123 telah menghadirkan referensinya untukmu!

Di tengah gempuran modernitas saat ini, warisan budaya leluhur tak henti memancarkan pesonanya.

Adapun salah satu permata budaya yang tak lekang oleh waktu adalah naskah drama tradisional.

Lebih dari sekadar teks tertulis, naskah drama tradisional merupakan jendela untuk mengintip nilai-nilai luhur, tradisi, dan kearifan lokal bangsa.

Memang, menelusuri lembaran-lembaran naskah drama tradisional bagaikan menjelajahi lorong waktu.

Kita diajak untuk merasakan atmosfer kehidupan masyarakat di masa lampau, dengan segala suka dan dukanya.

Alur cerita yang dikemas dengan penuh makna, dialog yang sarat dengan nilai-nilai moral, serta karakter yang unik dan beragam, menjadikan naskah drama tradisional sebagai sebuah karya seni yang tak ternilai harganya.

Terkait itu, berikut kami hadirkan contoh naskah drama tradisional dari beragam latar cerita rakyat yang bisa kamu lihat pada uraian di bawah ini.

Contoh Naskah Drama Tradisional

bawang merah dan bawang putih

sumber: shutterstock.com

1. Contoh Drama Tradisional Bawang Putih dan Bawang Merah

Tokoh

  • Narator
  • Bawang Putih
  • Bawang Merah
  • Ibu Tiri
  • Pangeran
  • Nenek
  • Pengawal 1
  • Pengawal 2

Babak 1: Kehidupan yang Berbeda

Narator: Dahulu kala, hiduplah seorang gadis cantik dan baik hati bernama Bawang Putih. Ia tinggal bersama ayah dan ibu tirinya yang jahat dan memiliki seorang anak perempuan bernama Bawang Merah. Bawang Merah selalu iri dengan kecantikan dan kebaikan hati Bawang Putih. Ia sering menyiksa dan memperlakukan Bawang Putih dengan buruk.

Bawang Merah: (Menjambak rambut Bawang Putih) Dasar anak sialan! Kamu tidak pantas hidup bersama kami! Pergi sana dan cari makan sendiri!

Bawang Putih: (Menangis) Tolong, Kakak. Aku tidak bersalah.

Ibu Tiri: Diam kau, Bawang Putih! Dasar anak pembawa sial! Pergi kau dari sini!

Bawang Putih: (Terisak) Baiklah, Bu. Aku akan pergi.

Narator: Bawang Putih pun pergi meninggalkan rumah dengan hati yang sedih. Ia bekerja keras untuk bertahan hidup. Ia membantu orang lain dengan ikhlas dan selalu bersyukur atas apa yang ia miliki.

Babak 2: Pertemuan dengan Nenek

Narator: Suatu hari, Bawang Putih bertemu dengan seorang nenek tua yang sedang kelaparan. Ia pun dengan ikhlas memberikan makanannya kepada nenek tersebut.

Nenek: Terima kasih, Nak. Kamu anak yang baik hati. Aku akan membalas kebaikanmu.

Nenek: (Memberikan sebuah kotak ajaib kepada Bawang Putih) Kotak ini berisi sebuah gaun indah. Pakailah gaun ini saat pesta kerajaan nanti.

Bawang Putih: Terima kasih, Nek. Aku akan selalu mengingatnya.

Babak 3: Pesta Kerajaan

Narator: Di kerajaan, Pangeran sedang mengadakan pesta untuk mencari seorang permaisuri. Semua gadis diundang untuk datang ke pesta tersebut.

Bawang Merah: (Memamerkan gaunnya) Lihatlah, Bawang Putih! Gaunku ini jauh lebih indah daripada gaunmu yang lusuh itu!

Bawang Putih: (Tersenyum) Aku tidak apa-apa. Aku yakin Pangeran akan melihat hati seseorang, bukan hanya penampilannya.

Narator: Bawang Putih datang ke pesta dengan mengenakan gaun indah pemberian nenek. Ia terlihat sangat cantik dan anggun. Pangeran langsung jatuh hati saat melihat Bawang Putih.

Pangeran: (Menghampiri Bawang Putih) Perkenalkan, namaku Pangeran. Kamu adalah wanita tercantik yang pernah aku lihat.

Bawang Putih: (Tersipu) Terima kasih, Pangeran. Namaku Bawang Putih.

Babak 4: Kejahatan Terungkap

Narator: Bawang Merah merasa sangat iri melihat Pangeran yang jatuh cinta kepada Bawang Putih. Ia pun berusaha untuk menyingkirkan Bawang Putih.

Bawang Merah: (Menjebak Bawang Putih ke dalam sumur) Hahahaha! Kau tidak akan bisa keluar dari sini, Bawang Putih!

Narator: Untungnya, Pangeran dan pengawalnya datang tepat waktu untuk menyelamatkan Bawang Putih.

Pangeran: (Menangkap Bawang Merah) Bawang Merah, kau telah melakukan kejahatan yang besar! Aku akan menghukummu!

Bawang Merah: (Menangis) Maafkan aku, Pangeran! Aku tidak bermaksud jahat.

Pangeran: Kau telah menipu dan berusaha membunuh Bawang Putih. Kau tidak pantas dimaafkan!

Babak 5: Akhir yang Bahagia

Narator: Pangeran dan Bawang Putih akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya. Bawang Merah dihukum atas kejahatannya dan ia berjanji untuk tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Sumber: PEMBELAJARAN SENI BUDAYA SD karya Arina Restian, dkk.

2. Naskah Drama Tradisional Jaka Tarub

Tokoh:

  • Jaka Tarub: Pemuda desa yang tampan dan baik hati
  • Mbok Randa: Ibu Jaka Tarub
  • Nawang Wulan: Bidadari yang cantik dan jelita
  • Dewi Indraswari: Ibu Nawang Wulan
  • 6 Bidadari lainnya: Saudara Nawang Wulan
  • Raja Bintara: Raja yang ingin menikahi Nawang Wulan
  • Prajurit

Adegan 1

Lokasi: Hutan

Jaka Tarub sedang berburu di hutan. Dia merasa lelah dan haus. Dia melihat sebuah telaga dan memutuskan untuk beristirahat di sana.

Jaka Tarub: (Duduk di tepi telaga) Ah, lelahnya. Untunglah ada telaga di sini. Bisa minum dan beristirahat sejenak.

Tiba-tiba, Jaka Tarub mendengar suara tawa dari balik pepohonan. Dia mengintip dan melihat 7 bidadari yang sedang mandi di telaga. Mereka sangat cantik dan jelita.

Jaka Tarub: (Terpesona) Wah, cantik sekali bidadari-bidadari itu.

Jaka Tarub melihat sebuah selendang tersangkut di dahan pohon. Dia diam-diam mengambil selendang itu.

Jaka Tarub: (Berbisik) Aku akan ambil selendang ini. Mungkin salah satu bidadari itu akan mencarinya.

Adegan 2

Lokasi: Kahyangan

Dewi Indraswari dan para bidadari sedang bersiap-siap untuk kembali ke kahyangan.

Dewi Indraswari: Ayo, anak-anakku. Kita harus segera kembali ke kahyangan.

Nawang Wulan: (Mencari selendangnya) Ibu, selendangku hilang!

Dewi Indraswari: Astaga! Bagaimana bisa? Carilah selendangmu nak. Kita tidak bisa kembali tanpa selendangmu.

Para bidadari mencari selendang Nawang Wulan di sekitar telaga, tetapi tidak menemukannya.

Nawang Wulan: (Menangis) Bagaimana ini? Aku tidak bisa kembali ke kahyangan.

Adegan 3

Lokasi: Rumah Jaka Tarub

Jaka Tarub membawa selendang bidadari ke rumahnya. Dia kagum dengan keindahan selendang itu.

Jaka Tarub: (Memandang selendang) Selendang ini benar-benar indah. Aku ingin sekali bertemu dengan bidadari yang memilikinya.

Tiba-tiba, Nawang Wulan datang ke rumah Jaka Tarub.

Nawang Wulan: (Mengetuk pintu) Permisi, ada orangkah?

Jaka Tarub: (Membuka pintu) Ada apa?

Nawang Wulan: (Menunduk) Maaf, apakah Anda melihat selendang saya?

Jaka Tarub: (Terkejut) Selendang?

Nawang Wulan: Ya, selendang berwarna merah. Saya kehilangannya di telaga.

Jaka Tarub: (Mengangkat selendang) Apakah selendang ini?

Nawang Wulan: (Bergegas) Ya, itu selendang saya! Terima kasih banyak!

Jaka Tarub: Sama-sama. Tapi, siapa kamu?

Nawang Wulan: Saya Nawang Wulan. Saya seorang bidadari.

Jaka Tarub: Bidadari?

Nawang Wulan: Ya. Saya dan saudara-saudari saya sedang mandi di telaga tadi. Selendang saya hilang dan saya tidak bisa kembali ke kahyangan.

Jaka Tarub: Saya mengerti. Saya senang bisa membantu.

Nawang Wulan: Terima kasih. Sebagai tanda terima kasih, saya ingin membantu pekerjaan rumah tangga Anda.

Jaka Tarub: Terima kasih. Saya senang sekali.

Adegan 4

Lokasi: Rumah Jaka Tarub

Jaka Tarub dan Nawang Wulan hidup bahagia bersama. Nawang Wulan yang cantik dan rajin membantu pekerjaan rumah tangga membuat Jaka Tarub semakin sayang padanya.

Adegan 5

Lokasi: Kahyangan

Raja Bintara yang ingin menikahi Nawang Wulan mencari Nawang Wulan di bumi. Dia menemukan Nawang Wulan di rumah Jaka Tarub.

Raja Bintara: Nawang Wulan, kau harus kembali ke kahyangan denganku.

Nawang Wulan: Maaf, Raja Bintara. Saya tidak ingin kembali ke kahyangan

Raja Bintara: Tapi, kau adalah calon istriku. Kau harus kembali ke kahyangan.

Nawang Wulan: Maaf, Raja Bintara. Saya sudah menikah dengan Jaka Tarub dan saya bahagia di sini.

Raja Bintara: (Marah) Kau tidak bisa menolakku! Aku adalah raja kahyangan!

Jaka Tarub: (Menantang) Raja Bintara, Nawang Wulan adalah istriku. Dia bebas memilih kehidupannya.

Raja Bintara: (Menggebrak tongkat) Baiklah, Jaka Tarub. Jika kau ingin menikahi Nawang Wulan, kau harus bertarung denganku!

Jaka Tarub: Aku siap!

Adegan 6

Lokasi: Arena Pertarungan

Jaka Tarub dan Raja Bintara bertarung dengan gagah berani. Jaka Tarub menggunakan kekuatannya yang diperoleh dari selendang bidadari.

Raja Bintara: (Terluka) Kau memang kuat, Jaka Tarub. Aku mengakui kekalahanku.

Jaka Tarub: Terima kasih, Raja Bintara. Saya mohon maaf atas pertarungan ini.

Raja Bintara: Tidak apa-apa. Aku ikhlas menerima kekalahanku. Nawang Wulan, kau boleh tinggal bersama Jaka Tarub.

Nawang Wulan: Terima kasih, Raja Bintara.

Adegan 7

Lokasi: Rumah Jaka Tarub

Jaka Tarub dan Nawang Wulan hidup bahagia selamanya. Mereka dikaruniai banyak anak dan hidup dengan sejahtera.

Sumber: id.scribd.com

3. Naskah Drama Tradisional Keong Mas

***

Nah, itulah ragam naskah drama tradisional yang bisa kamu ketahui.

Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk kamu, ya.

Cek artikel menarik lainnya, seperti naskah drama modern hanya di artikel.rumah123.com.

Kalau kamu ingin ngobrolin properti dengan ahlinya, coba deh kunjungi ke Teras123!

Nantinya, kami akan memberi jawaban yang komprehensif soal pertanyaan yang kamu ajukan, lo.

Tak lupa, kunjungi Rumah123 untuk menemukan hunian impian karena #SemuaAdaDisini.


Tag: , ,


Gadis Saktika

Content Writer

Gadis Saktika adalah Content Writer di 99 Group yang sudah berkarier sebagai penulis dan wartawan sejak tahun 2019. Lulusan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI ini senang menulis tentang etnolinguistik, politik, HAM, gaya hidup, properti, dan arsitektur.
Selengkapnya