kompleks perumahan

Sebuah kompleks perumahan kecil di Jepang didesain agar para penghuni bisa mengenal satu sama lain. Arsitek ingin ada interaksi dari para penghuni.

Saat ini, kehidupan kota besar memang membuat orang tidak lagi mengenal tetangga, mungkin kamu salah satu di antaranya. 

Interaksi dengan tetangga biasanya terjadi kalau ada peluang dan juga hanya jadi pilihan terakhir.

Mungkin kamu hanya menyapa tetangga basa basi dengan menanyakan kabar atau mau pergi ke mana. 

Biasanya ada orang yang tidak mengetahui nama lengkap tetangga, bekerja di mana, atau memiliki anak berapa. 

Hal yang sama terjadi ketika kamu memiliki kerabat, kamu tidak mengetahui banyak hal termasuk hubungan kekerabatan. 

Berbeda halnya dengan teman nongkrong, biasanya kamu bisa hapal apa pun mengenai sahabat akrab. 

Dalam beberapa riset, generasi milenial malah enggan bergaul dengan tetangga. Mereka lebih suka berteman via media sosial.

Padahal kalau terjadi sesuatu di rumah seperti kebakaran atau perampokan, tetangga yang menolong kamu pertama kali. 

Bukan teman-teman kantor, teman-teman satu komunitas, atau juga teman yang dikenal di media sosial. 

kompleks perumahan

Kompleks Perumahan yang Bikin Penghuninya Akrab

Biro arsitektur asal Jepang Studio Velocity mendesain sebuah kompleks hunian yang terbilang kecil. 

Jumlah rumah yang ada di klaster ini hanya sepuluh dengan ukuran rumah yang juga tidak terlalu besar. 

Arsitek mendesain ruang tamu memiliki pintu kaca geser yang terhubung dengan dek yang terbuat dari material kayu. 

Dek ini juga berfungsi sebagai beranda dan menghadap ke rumah lain. Semua rumah memiliki desain yang nyaris sama.

Pintu dan dek setiap rumah hanya selangkah dari dek rumah lainnya. Hal ini cukup efektif untuk membaurkan ruang privat dan ruang komunal.

Gaya pengaturan ini mungkin tidak cocok untuk semua orang. Namun, arsitek mengklaim kalau para penghuni menyukai.

“Seorang wanita bermain bersama anak balita yang merupakan anak tetangganya,” Studio Velocity kepada situs properti Curbed.

“Dua keluarga yang terdiri dari dua ibu dan tiga anak sekolah berkumpul, makan siang bersama,” lanjutnya

“Salah satu dari ibu ini ditanya oleh ibu yang lain. Dia membawa makanan yang dia masak di rumah untuk dimakan bersama keluarga tetangga,” katanya lagi

Hmm, asyik juga ya kalau kompleks perumahan didesain seperti ini. Kalau kamu sendiri bergaul akrab dengan tetangga nggak?

kompleks perumahan

Hanya 16 Persen Generasi Milenial yang Mau Bergaul dengan Tetangga 

Sebuah riset mengungkapkan perilaku generasi milenial yang ternyata tidak mau bergaul dengan tetangga. 

Hal ini berbeda dengan dua generasi di atasnya yaitu Gen X (lahir era 1960-an dan 1970-an) dan Baby Boomers (lahir era 1950-an dan 1960-an). 

Laman gaya hidup Apartment Therapy melansir hasil riset dari Safe Home yang mengadakan riset terhadap 1.000 orang di Amerika Serikat. 

Riset ini ingin mengungkapkan berapa dekat orang dengan mereka yang hidup di sekitarnya alias tetangga. 

Safe Home menanyakan kepada responden untuk menjawab sepuluh pertanyaan mengenai aktivitas bertetangga.

Pertanyaannya mulai dari yang sepele seperti tersenyum hingga nongkrong bareng bersama tetangga di tempat yang jauh dari rumah.

Hasilnya adalah generasi milenial menjadi contoh tetangga yang buruk dan mendapatkan skor paling rendah. 

Generasi milenial hanya mendapatkan angka 44 persen, Gen X memperoleh 50 persen, dan Baby Boomers meraih poin tertinggi 59 persen. 

Temuan riset ini adalah hanya 16 persen dari generasi milenial yang mau bergaul dengan tetangga di tempat yang jauh dari rumah. 

Mungkin maksudnya adalah kamu dan tetangga pergi ke suatu tempat untuk nongkrong, ngopi bareng, berwisata, dan lainnya.

Hasil yang tidak mengherankan lantaran generasi kakek nenek (Baby Boomers) dan orang tua (Gen X) memang masih suka bertetangga. 

Gen X dan Baby Boomers tidak hanya sekadar menyapa, tetapi juga melakukan aktivitas bersama bahkan berwisata.

kompleks perumahan

44 Persen Generasi Milenial Lebih Suka Berinteraksi Lewat Media Sosial 

Sementara itu menurut riset Cancer Research UK yang dilakukan terhadap responden di Inggris mengungkapkan fakta lain soal milenial dan tetangga. 

Sebanyak 44 persen dari generasi milenial merasa lebih nyaman berbicara dengan orang yang baru dikenal melalui media sosial atau aplikasi pesan. 

Cuma 37 persen dari kaum milenial yang merasa lebih nyaman bicara dengan orang yang tidak dikenal secara tatap muka. 

Tentu saja hal ini berbanding terbalik dengan Baby Boomers dengan persentase dua pertiga atau lebih dari 66 persen. 

Baby Boomers masih merasa nyaman bicara orang yang tidak dikenal atau baru dikenal secara tatap muka. 

Generasi milenial memang lebih suka berinteraksi melalui media sosial atau aplikasi percakapan. 

Kedua riset dilakukan di Amerika Serikat dan Inggris, namun sepertinya bisa memberikan gambaran serupa di Indonesia.

kompleks perumahan

Baca juga: Kompleks Hunian Komunitas Mikro yang Tetap Punya Privacy

Bagikan:
67327 kali