kisah kampung poligami

Kabar mengenai kampung poligami yang berlokasi di Desa Kedungbanteng, Kabupaten Sidoarjo, sempat menjadi buah bibir.

Merujuk peristiwa masa lalu, tepatnya pada tahun 1990-an, tercatat ada 20 orang pria yang melakukan poligami di desa tersebut.

Kepada detik.com, Sukatib selaku Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat Desa Kedung Banteng memaparkan penjelasan.

“Tidak ada yang sampai melakukan perceraian, kehidupan mereka tetap rukun. Namun, saat ini sudah tidak ada karena banyak yang sudah meninggal,” tuturnya.

Merebaknya kasus poligami di kampung ini terlihat dari adanya nama jalan bernama Jalan Wayo.

Untuk kamu ketahui, Wayo diambil dari kata wayuh yang dalam Bahasa Jawa berarti mempunyai istri lebih dari satu.

Di lain pihak, tokoh masyarakat Desa Kedung Banteng mengatakan jika Jalan Wayo telah ada sejak puluhan tahun lalu.

Menurutnya, pemberian nama Woyo dilakukan secara spontan oleh pemuda desa.

“Memang ada beberapa warga yang menikah lagi, tapi secara diam-diam, istilah Jawanya wayuh,” ucap tokoh masyarakat tersebut.

Ingar Bingar Kampung Poligami

kampung poligami sumber: liramedia.com

Dalam penjelasan lainnya, seorang warga sekitar bernama Sri sempat berujar jika gang atau Jalan Wayo yang kerap dikaitkan dengan kampung poligami hanya bualan belaka.

Ia menambahkan, banyak orang sekitar Gang Wayo yang suka menggosipkan kampungnya.

“Saya orang sini, setahu saya tidak ada yang poligami. Memang ada yang nikah dan ada yang tidak,” kata Sri dikutip dari liramedia.co.id.

Kemudian, Sri juga bercerita bahwa sebutan kampung poligami membuat media massa sering datang ke kampungnya.

Bahkan, ia menyebut ada narasumber palsu yang mengatakan sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga karena praktik poligami di Gang Wayo.

Selain itu, lanjutnya, ada pula narasumber yang mengaku-ngaku dipoligami dan masuk salah satu televisi.

Dalam narasi di stasiun TV itu disebutkan jika gang ini hampir semua warganya mempunyai pasangan atau istri lebih dari satu.

Berita kian ramai lantaran konon ada warga yang memiliki istri 7 orang sampai kampung tersebut disebut sebagai kampung poligami pada tahun 1980 hingga 1990-an.

Asal Usul Nama Jalan Wayo

situasi di desa poligami sumber: bbc.com/nur cholis

Salah seorang warga bernama Mursidan, mengatakan jika kebanyakan pernikahan poligami itu dilakukan secara siri.

Namun, praktik tersebut kini telah menurun.

Alasannya, generasi sekarang, baik laki-laki atau perempuan telah mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi.

“Kalau sekarang, kebiasaan itu sudah tidak ada lagi, hanya namanya saja yang tetap Wayoh,” ucap Tohirin, salah seorang warga lainnya.

Wayoh artinya bermadu atau poligami.

Adapun nama Jalan Wayo dipertahankan lantaran telah berlangsung lama dan terlanjur dikenal.

Padahal, penamaan jalan ini sempat menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat setempat.

***

Semoga informasinya bermanfaat ya.

Baca informasi menarik lainnya di artikel.rumah123.com.

Jangan lupa untuk kunjungi Rumah123.com dan 99.co/id untuk menemukan hunian idaman serta kebutuhan properti lainnya, karena kami selalu #AdaBuatKamu.

Salah satunya seperti Grand Teratai yang berada di Sidoarjo.

Bagikan:
447 kali