Perumahan Griya Setia Nusa di Riau, tergolong perumahan subsidi. Foto: Rumah123/Dok. Biro Komunikasi Kementerian PUPR
 

Rumah subsidi harganya bakal naik tahun depan (2019). Formula kenaikan harganya sedang diproses oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahaan Rakyat (PUPR). Usulan dari pengembang sekitar 10%, lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya yang bisa 5%. Di 3 daerah yang harga tanahnya sangat tinggi (Bali, Jogja, Batam) diusulkan kenaikannya lebih tinggi lagi.

"Sistem kenaikannya harga tahun 2018 sebesar 5 persen. Sangat baik karena hanya memperhitungkan inflasi. Walaupun inflasi 3,8 persen, tetapi masih dikasih ruang kenaikan 1,2 persen. Sementara tahun depan, banyak faktor yang harus diperhatikan. Selain inflasi, biaya konstruksi juga naik karena material bangunan akan mengalami kenaikan dengan penguatan dollar," kata Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Soelaeman Soemawinata, seperti dikutip Kontan.co,id, Senin (1-10-2018).

Menurutnya, usulan kenaikan rumah subsidi sekitar 10% dari pengembang sudah memperhitungkan overhead pengembang seperti biaya marketing, bunga bank, dan lain-lain. Untuk daerah yang harga tanahnya sudah sangat mahal (Bali, Yogyakarta, dan Batam) kenaikan harganya diusulkan 20%. Aceh juga diusulkan yang mengalami kenaikan harga 20%. Pasalnya, biaya konstruksi untuk membangun rumah di sana jauh lebih mahal karena harus berstandar tahan gempa.

Baca juga: Rumah Subsidi Tambah Oke, Ada Hibah PSU dari Pemerintah Lho!

Soelaeman juga mengatakan, pemerintah harus memperhatikan margin yang didapat pengembang. Sebab, jika tidak, keberlangsungan bisnis pengembang terancam, apalagi dengan harga tanah yang sudah semakin mahal. "Pengembang perlu ada kenaikan margin agar mereka bisa mencari lahan baru untuk mereka kembangkan ke depannya," katanya.

Kalau harga rumah subsidi naik? Bagaimana dengan para peminatnya? Apakah mereka jadi kesulitan beli? REI menilai, kenaikan yang mereka usulkan tersebut tak akan mengganggu minat masyarakat untuk membeli rumah. Sebab, di sisi lain, upah minimum regional (UMR) juga naik setiap tahunnya.

REI juga mengusulkan ada penambahan zonasi untuk daerah-daerah tertentu dan penyatuan zonasi untuk dua atau lebih wilayah yang berbatasan, tapi memiliki perkembangan infrastruktur yang sama.

Baca juga: Rumah Subsidi Rp100 Jutaan di Cileungsi, Khusus Buat Kamu Nih!

"Untuk wilayah Padang dan Mentawai itu tidak bisa menggunakan satu zonasi. Sebab, biaya membangun rumah di Mentawai lebih mahal ketimbang di Padang karena angkutan material ke pulau itu tidak bisa dilakukan setiap hari. Sementara di wilayah Maja yang terbagi ke dalam tiga wilayah Bogor, Tangerang, dan Banten, disatukan saja karena infrastrukturnya sama," kata Soelaeman.

Kalau harga rumah subsidi yang sekitaran Rp100 jutaan (Rp140-180 juta) saja bakal naik, gimana dengan rumah non-subsidi? Makanya, sebelum harganya benar-benar naik, jangan tunda lagi untuk beli rumah. Beli sekarang! Mumpung harga rumah belum naik!

Bagikan: 2528 kali