Ilustrasi Foto: Rumah123/iStock
 

Penipuan bisa terjadi dalam bidang apa saja. Begitu juga dengan bidang properti. Yang baru saja terjadi adalah kasus penipuan pembelian properti syariah di Bandung. Setidaknya ada 135 korban tergiur harga rumah yang murah dan bisa dicicil hingga bertahun-tahun tanpa bunga karena tanpa melibatkan bank.

Tempat kejadian perkara penipuan tersebut di kawasan Sindanglaya dan Cikadut, Bandung. Kedua properti tersebut dikelola SG yang merupakan kelompok usaha dari tiga perusahaan: PT APC, PT JTA, dan PT BIP.

Salah seorang korban, Teguh Arifin, uangnya ludes Rp300 juta karena mengambil tiga unit rumah sekaligus di Cikadut. "Waktu itu saya tertarik karena promo harga Rp100 juta untuk Tipe 36 bagi pembeli 30 unit pertama, jadi kita tergiur. Apalagi katanya syariah, jadi saya beli 3 unit rumah. Saya juga kaget ini penipuan karena marketing mereka menyakinkan dengan segala dokumen pendukung," kata Teguh seperti dikutip Detik.com, Rabu (19-9-2018).

Baca juga: Tips Beli Hunian Agar Gak Ketipu

Sebulan setelah menyetor uang ke PT APC yang merupakan bagian dari SG, Teguh mengunjungi lokasi perumahan Cikadut. Tapi, tanah di lokasi ternyata di-police line yang kabarnya karena gak ada perizinannya.

Sedangkan korban lainnya, Wildan (36), mengambil rumah di Sindanglaya. Dia tertarik membeli karena selain harganya murah, pembayarannya bisa dicicil tanpa bunga. Kerugian Wildan gak sebanyak Teguh karena ia baru menyetor booking fee Rp5 juta. Saat ia ditagih cicilan pertama, ia lalu mengecek lahan perumahan. Ternyata belum ada pembangunan sama sekali, sehingga ia gak melanjutkan pembayaran.

Nah, supaya kamu gak jadi korban penipuan saat beli rumah, teliti hal-hal berikut ini:

Baca juga: Ada yang Mau Ketipu Saat Beli Rumah?

Jangan tergiur label

Ingat, jangan terkecoh oleh label seperti tercantum kata syariah, halal, atau label apa pun. Boleh aja tertarik dengan label itu, tapi jangan lupa untuk cek dan ricek.

Jangan terpancing harga murah

Boleh-boleh aja sih kamu tertarik harga murah atau diskon besar, itu hal yang manusiawi. Tapi, sekali lagi jangan terbuai. Cek lagi kebenarannya dan telusuri kenapa bisa murah atau didiskon besar.

Cermati sang pengembang

Saat kamu beli rumah, teliti siapa pengembangnya. Apakah pengembang telah memiliki izin resmi dari pihak terkait. Izin resmi tersebut mencakup: izin penggunaan lahan, rencana tata ruang lahan atau wilayah di kabupaten dan kota, termasuk izin mendirikan bangunan. Sebagai konsumen, kamu harus mengecek itu semua.

Waspada sebelum bertransaksi

Beli rumah itu butuh dana ratusan juta rupiah, jadi waspadalah sebelum bertransaksi. Teliti dokumen yang kamu harus tandatangani. Pembayaran dalam jumlah besar semisal untuk uang muka, sebisa mungkin didampingi oleh seorang notaris.

Periksa dan Monitoring Sertifikatnya

Hati-hati memilih perumahan. Khususnya yang terkait sertifikatnya karena biasanya untuk perumahan sertifikatnya adalah sertifikat induk yang melalui proses pemecahan di BPN (Badan Pertanahan Nasional). Prosesnya perlu kamu monitor dengan baik agar si pengembang tidak nakal.

Baca juga: 4 Hal yang Perlu Kamu Perhatikan agar Ga Ketipu Beli Rumah Over-Kredit

Pengembang menjamin keabsahan sertifikat 

Jangan ragu atau malas untuk mencek dan minta jaminan dari pengembang apakah sertifikat induk yang dimaksud memang benar ada atau tidak. Memang butuh extra effort untuk membuktikan sertifikat induk tercatat di BPN.

Teliti Fasilitasnya

Periksa dengan teliti semua sarana yang terdapat di dalam rumah, yakni jumlah kamar, kamar mandi, dan yang lainnya. Juga lingkungan di sekitar rumah, sesuai ga dengan kebutuhanmu dan keluarga?

Cek juga fasilitas umum yang terdapat di sekeliling rumah. Termasuk kondisi dan akses jalan ke rumah, keamanan, dan kualitas air di rumah.

Baca juga: Jangan Ketipu, Pahami Modus-Modus Praktik Mafia Tanah!

Periksa Keaslian dan Kelengkapan Dokumen 

Memeriksa dokumen merupakan langkah penting saat kamu membeli rumah apakah dari pengembang maupun dari pemilik lama. Jangan sampai kamu tertipu dan membeli sebuah rumah yang sedang dalam status sengketa.

Kalau dokumennya masih disimpan di bank, cek lagi. Kamu bisa meminta bantuan notaris atau divisi legal bank untuk memeriksa keaslian dokumen rumah tersebut.

Pastikan juga si pemilik rumah memiliki dokumen lengkap yang biasa digunakan untuk mengajukan kredit, yakni fotokopi perjanjian kredit, fotokopi sertifikat berstempel bank, fotokopi Izin Mendirikan Bangunan (IMB), fotokopi dokumen Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang sudah dibayar.

Bagikan: 3105 kali