tips beli rumah tanpa riba Ilustrasi. Tips Beli Rumah Tanpa Riba Adalah Membeli Rumah Secara Tunai. Solusinya Tidak Hanya Menabung, Tetapi Juga Investasi, Memiliki Pekerjaan Sampingan, dan Lainnya (Foto: Rumah123.com/Unsplash.com)

Ada sejumlah orang yang menghindari riba dalam membeli rumah. Berikut ini, tips beli rumah tanpa riba. Bisa kok beli rumah secara tunai atau cash.

Tren hijrah di kalangan masyarakat beragama Islam di Indonesia memang ramai terjadi belakangan ini. 

Mereka tidak hanya mengikuti pengajian atau mengubah penampilan terutama bagi perempuan yang mengenakan hijab syari. 

Namun, mereka juga meninggalkan gaya hidup yang tidak sesuai dengan syariah Islam, salah satunya soal riba. 

Mereka mulai meninggalkan pembiayaan konvensional yang bersifat riba dan melirik pembiayaan syariah. 

Tidak sedikit dari mereka yang memutuskan tidak lagi meneruskan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB). 

Atau juga menghentikan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari bank konvensional lantaran bersifat riba. 

Namun, ada juga yang tidak melirik pembiayaan syariah karena dianggap tidak sepenuhnya murni syariah. 

Bagaimana dengan mereka yang ingin membeli rumah, adakah solusi selain KPR dan KPR syariah? 

Sebenarnya, ada tiga cara pembayaran rumah yaitu membayar tunai, tunai bertahap, dan juga cicilan ke developer. 

Sejumlah pengembang syariah memang memberikan kemudahan kepada konsumen berupa cicilan langsung ke developer. 

Mungkinkah membeli rumah bisa dilakukan secara tunai? Jawabannya mungkin saja dan bukan hal mustahil. 

Ada sejumlah tips beli rumah tanpa riba yang bisa dilakukan. Saatnya kamu hijrah dan tidak lagi riba. 

Situs properti Rumah123.com pernah berbincang dengan sejumlah perencana keuangan (financial planner). 

Rumah123.com menanyakan mungkinkah seseorang bisa membeli rumah secara tunai alias cash? Jawabannya bisa. 

1. Melakukan Perencanaan Keuangan 

Hal yang dilakukan pertama kali adalah melakukan perencanaan keuangan terhadap kamu dan pasangan. 

Kamu harus menghitung berapa penghasilan sebulan dan juga berapa jumlah pengeluaran dalam waktu yang sama. 

Apakah kamu memiliki cicilan seperti Kredit Tanpa Agunan (KTA), KKB, atau cicilan kartu kredit? 

Jika iya, maka sebaiknya seluruh cicilan itu harus dilunasi agar tidak ada lagi yang menjadi beban pengeluaran.

2. Menghitung Harga Rumah dan Waktu Menabung 

Berapa jumlah penghasilan kamu selama satu bulan? Misalnya, kamu dan pasangan sama-sama memiliki penghasilan Rp5 juta. 

Berarti joint income kamu adalah Rp10 juta, bisakah kamu menyisihkan minimal 30 persen atau malah 40 persen. 

Jika diambil jalan tengah, maka bisakah kamu berdua menyisihkan 35 persen dari gaji per bulan Rp10 juta alias Rp3,5 juta. 

Kalau kamu ingin membeli rumah dalam waktu 10 tahun, maka perhitungannya seperti ini Rp3,5 juta x 12 bulan x 10 (tahun).

Hasilnya adalah Rp420 juta. Apakah ini cukup untuk membeli rumah tapak pada 2030 mendatang? 

Sudah pasti tidak mencukupi lantaran harga rumah yang sama pada 2020 ini, bisa melambung hingga dua kali lipat dalam jangka waktu sepuluh tahun. 

Namun, jika durasi waktunya dikurangi menjadi lima tahun, maka perhitungannya adalah Rp3,5 juta x 12 bulan x 5 tahun. 

Hasilnya adalah Rp210 juta. Kamu bisa menemukan rumah seharga ini tentunya di pinggiran Jakarta dengan luas terbatas. 

Kamu memang harus menghitung berapa harga rumah yang diinginkan dan juga jangka waktu menabung. 

Jika kamu melirik harga rumah Rp400 jutaan di Cilebut, Cikarang, atau Maja pada 2020, maka perhitungkan kenaikan harganya pada 2025 atau 2030. 

Perhitungan sederhananya adalah jika kenaikan harga rumah 5 persen per tahun, maka kenaikan selama lima tahun adalah 25 persen. 

Maka harga rumah yang kamu lirik pada 2025, nanti adalah Rp400 juta + (Rp400 juta x 25 persen) = Rp500 juta. 

Ini hanya sekedar ilustrasi ya. Bisa jadi kenaikan harga rumah lebih dari 25 persen, untuk itu kamu harus bersiap. 

3. Melirik Instrumen Investasi 

Jika menggunakan skema tabungan, maka jumlah tabungan kamu selama lima tahun adalah Rp210 juta (lihat perhitungan di atas). 

Pernah membayangkan kalau kamu membeli emas, reksadana, obligasi, atau saham setiap bulannya? 

Emas sudah pasti termasuk instrumen investasi yang aman meski dengan kenaikan yang relatif tidak terlalu besar. 

Ada juga reksadana syariah, obligasi syariah, hingga saham syariah yang bisa menjadi pilihan investasi. 

Jadi kamu tidak hanya mengumpulkan uang Rp210 juta selama lima tahun atau Rp420 juta selama 10 tahun. 

Namun, bisa lebih dari itu lantaran dimasukkan ke dalam instrumen investasi sehingga jumlah dana bisa berkembang. 

4. Memikirkan Sumber Pemasukan Lain 

Kalau kamu ingin membeli rumah secara tunai, menabung tidak bisa menjadi pilihan satu-satunya. 

Begitu juga dengan investasi yang juga harus dipikirkan untuk memperbanyak dana membeli rumah. 

Sebenarnya, kamu juga harus memikirkan sumber pemasukan lain untuk menambah jumlah tabungan dan investasi per bulan. 

Misalnya kamu dan pasangan memiliki pekerjaan sampingan yang bisa dilakukan saat akhir pekan. 

Atau malah kamu dan pasangan mempunyai bisnis kecil-kecilan yang bisa memperbanyak pemasukan. 

5. Meminjam Uang dari Orang Tua dan Mertua 

Jika kamu menemukan ingin membeli rumah secara tunai, mungkin kamu bisa meminjam uang ke orang tua dan mertua. 

Tentunya kalau orang tua dan mertua memiliki dana lebih sehingga kamu bisa meminjam dana dalam jumlah besar.

Kamu bisa langsung membeli rumah secara tunai, sementara besar cicilan bisa disesuaikan dengan pendapatan. 

Lantaran meminjam dari orang tua atau mertua, maka tentunya tidak ada bunga yang dikenakan.

Baca juga: 7 Tips Beli Rumah Bersama Pasangan, Apa Saja Sih?

Bagikan:
1974 kali