Selain membeli properti dalam wujud bangunan, membeli tanah kosong juga banyak dipilih orang.

Jual beli tanah kosong berbeda dengan jual beli rumah - rumah123.com Jual beli tanah kosong berbeda dengan jual beli rumah (Rumah123.com/Getty Images)

Alasannya pun beragam. Untuk mereka yang membeli tanah untuk ditinggali, biasanya memilih tanah kosong karena bisa membangun rumah sesuai seleranya. Sedangkan mereka yang mau berinvestasi, merasa lebih untung karena tak perlu keluar biaya maintenance seperti membeli rumah yang tak ditempati. 

Apabila kamu salah satu orang yang tertarik untuk membeli tanah, maka ada hal yang harus betul-betul diperhatikan. Sebab, berbeda dengan membeli rumah jadi dimana segala halnya sudah diurus oleh developer, membeli tanah dilakukan langsung kepada si penjualnya. Untuk itu, jangan sampai kamu kena tipu karena tak tahu prosedur berikut ini. 

Memastikan legalitas tanah aman dan bebas dari sengketa

Banyak orang yang merasa dirugikan ketika membeli tanah. Permasalahannya pun beragam. Mulai dari surat tanah palsu, ada sengketa di tanah yang dibeli, luas asli tanah tak sesuai dengan yang tertera pada surat tanah, dan masih banyak alasan lainnya. Untuk itu, pastikan legalitas tanah aman, bebas dari sengketa, tak digunakan untuk kegiatan lain, dan ukuran serta batas-batasnya tepat seperti yang tertera di sertifikat.

Dalam proses ini, sebaiknya kamu menggunakan jasa notaris PPAT. Sebab, mereka berperan penting untuk mengecek kondisi sertifikat dengan tanah apakah sesuai serta tidak ditemukannya permasalahan pada sertifikat sebagai surat hak milik sebelum proses jual beli. Pihak PPAT bisa mengecek juga keaslian sertifikat tersebut di badan pertanahan untuk menghindari permasalahan atau sengketa pemalsuan sertifikat.

Baca juga: Mau Ikut Program Sertifikat Tanah Gratis dari Pemerintah? Ini Syarat & Caranya

Membuat Akta Jual Beli

Setelah melakukan tahapan di atas, maka hal selanjutnya adalah membuat Akta Jual Beli (AJB). AJB didibuat untuk mengukuhkan bahwa ke depannya tanah tersebut telah dipindahtangankan. Beberapa persyaratan yang wajib dibawa oleh penjual dan pembeli antara lain:

Pihak Penjual

-  Sertifikat tanah asli

-  KTP penjual suami/istri

-  Jika penjual suami/istri meninggal, maka perlu membawa serta akta kematian

-  Bukti PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) 10 tahun terakhir

-  Surat persetujuan suami/istri

-  KK (Kartu Keluarga)

Pihak Pembeli

-  KTP

-  KK (Kartu Keluarga)

-  Keduanya lalu mengunjungi kantor PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) untuk pengajuan AJB.

Pastikan (PPAT) yang dipilih berada di wilayah kewenangan kerja. Apabila penjualan disertai pemberian tanda jadi atau uang muka berdasarkan kesepakatan untuk dilunasi dalam jangka waktu tertentu, diperlukan pembuatan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PBJB) di hadapan Notaris. Hal ini dilakukan untuk memastikan proses jual beli benar-benar akan terjadi. 

Penjual harus membayar pajak penghasilan (PPh) dan pembeli harus membayar Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Pembeli dan Penjual kemudian juga membayar pembuatan AJB di PPAT. Biasanya biaya pembuatan AJB ditanggung bersama. 

Baca juga: Apa Itu Tanah Girik dan Bagaimana Proses Jual Belinya?

Proses terakhir di BPN

Selesai AJB dibuat, langkah terakhir adalah menyerahkan AJB asli ke kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) setempat, paling lama 7 hari setelah AJB ditandatangani. Penyerahan AJB juga turut menyertakan surat permohonan balik nama dengan tanda tangan pembeli, sertifikat hak atas tanah, KTP penjual dan pembeli, bukti lunas Pph, serta bukti lunas BPHTB. Setelah sampai di BPN, kamu akan mendapat tanda bukti surat balik nama yang menjadi kewajiban si pembeli untuk menyimpannya.

Setelah itu, nama penjual dalam buku tanah dan sertifikat akan dicoret dengan tanda tangan kepala kantor pertanahan. Pada halaman dan kolom ada nama pemegang hak yang baru (pembeli), disertakan pula tanggal pencatatan dan tanda tangan kepala kantor pertanahan.

Bagikan: 1184 kali