Pernah merasa memiliki gejala corona setelah membaca berita? Bisa jadi hal ini disebabkan oleh reaksi psikosimatik.

reaksi psikosomatik - rumah123.com Sugesti terkena corona bisa jadi datang akibat reaksi psikosomatik - Rumah123.com

Hampir seluruh media baik itu media konvensional maupun online dipenuhi dengan berita seputar COVID-19. 

Virus ini memang menakutkan. Penyebarannya begitu cepat hingga setiap harinya, jumlah orang yang positif terinfeksi virus corona semakin bertambah. 

Belum lagi gejala awalnya mirip dengan gejala flu biasa sehingga susah untuk membedakan keduanya.

Mungkin kamu termasuk salah satu orang yang tak pernah melewatkan untuk memantau perkembangan informasi seputar COVID-19 di Indonesia.

Tapi, pernahkah kamu tiba-tiba merasa tenggorokan gatal, tubuh nyeri, kepala pusing, dan meriang?

Padahal ketika dicek, suhu tubuh masih normal dan tidak demam.

Ternyata, ada alasan di balik kondisi ini.

Reaksi psikosomatik bisa muncul akibat stres karena menghadapi pandemi virus corona

Membaca berita tentang seseorang yang didiagnosa positif corona atau pasien corona yang meninggal dunia, jika hal ini dilakukan terus-terusan dalam waktu lama, bisa memengaruhi kondisi mental.

Rasa takut, stres, dan cemas yang menjadi satu bisa menimbulkan reaksi psikosomatik, sehingga membuat kita merasa memiliki gejala virus corona, walaupun kenyataannya kondisi tubuh sehat-sehat saja.

Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa, Andri, menjelaskan mengenai hal ini melalui akun Twitternya, @mbahandi.

Masa saat ini ketika kita membaca berita atau cerita tentang gejala virus #corona atau #COVID19 dan tiba2 kita merasa tenggorokan kita agak gatal, nyeri dan merasa agak sedikit meriang walaupun suhu tubuh normal...

ITU WAJAR...

Reaksi psikosomatik tubuh saat ini memang terasa.

Baca juga: Panduan Disinfeksi Rumah Secara Efektif agar Terhindar dari Virus Corona

Hal yang menyebabkan reaksi psikosomatik muncul

Lalu apa yang menyebabkan reaksi psikosomatik terjadi?

Masih dari cuitan dr. Andri, seperti inilah penjelasannya:

Salah satu yg membuat reaksi ini bisa timbul adalah KECEMASAN kita yang dipicu oleh berita-berita yang terus menerus terkait #COVID19 ini.

Amygdala atau pusat rasa cemas sekaligus memori kita jd terlalu aktif bekerja, akhirnya kadang dia tidak sanggup mengatasi kerja berat itu

Amygdala yg bekerja berlebihan ini juga mengaktifkan sistem saraf otonom secara berlebihan, kita jd selalu dalam kondisi FIGHT or FLIGHT atau siaga terus menerus. Ketidakseimbangan ini yg membuat gejala psikosomatik muncul sbg suatu reaksi untuk siap siaga menghadapi ancaman.

Hal ini pun senada dengan apa yang dijelaskan oleh situs Verywellmind.com. 

Dalam situs tersebut dijelaskan bahwa penyakit psikosomatik berasal atau diperburuk oleh stres emosional dan bermanifestasi dalam tubuh sebagai rasa sakit fisik dan gejala lainnya. 

Depresi dapat berkontribusi pada penyakit psikosomatik, terutama ketika sistem kekebalan tubuh telah melemah oleh stres berat atau kronis.

Selain depresi, stres juga bisa memicu melemahnya sistem kekebalan tubuh.

Beberapa orang mengaku bahwa ketika mereka stres, mereka lebih mungkin terserang flu atau flu. 

Orang dalam keadaan stres juga mendapatkan lebih banyak infeksi dan butuh waktu lebih lama untuk sembuh.

Baca juga: Jangan Dibawa Stres, Ini 5 Cara Berpikir Positif di Tengah Wabah Corona

Bagaimana cara mengatasi reaksi psikosomatik?

Dokter Andri menyebutkan bahwa untuk mengurangi gejala psikosomatik, hal inilah yang bisa dilakukan:

Salah satu cara kita untuk mengurangi gejala psikosomatik akibat amygdala kita yg terlalu aktif ini adalah mengurangi dan membatasi informasi terkait dgn #COVID19 ini. Lakukan hal lain selain browsing, lakukan hobi yg menyenangkan&sebarkan optimisme kita bisa lewati semua ini.

Sedangkan menurut Centers for Disease Control and Prevention, berikut sejumlah hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi cemas berlebih akibat virus corona;

1. Istirahatkan diri dari menonton, membaca, atau mendengarkan berita, dan juga membuka media sosial. Mendapatkan informasi tentang pandemi berulang kali kerap berlebihan dan hanya membuat stres.

2. Jaga kesehatan tubuh. Ambil napas dalam-dalam, regangkan badan. Cobalah untuk makan makanan yang sehat dan seimbang, berolahraga secara teratur, banyak tidur, dan hindari alkohol.

3. Luangkan waktu untuk bersantai. Coba lakukan beberapa aktivitas lain yang kamu sukai. Baca buku favoritmu, belajar alat musik baru, dan masih banyak hal lainnya.

4. Pastikan untuk tetap terhubung dengan orang lain. Berbincang lah dengan orang yang kamu percaya. Bicarakan tentang kekhawatiran dan perasaanmu.

Menghadapi pandemi COVID-19 memang tak mudah, tetap lakukan tindakan preventif dan berdoa untuk menghindarinya!

Takut, stres dan, cemas jadi sesuatu yang normal terlebih masa-masa menghadapi pandemi virus corona.

Lakukan tips-tips di atas jika kamu mulai mengalami gejala psikosomatik.

Namun, jangan sampai keliru dalam membedakan mana gejala yang nyata, dan mana yang hanya menjadi sugesti.

Minum vitamin, cuci tangan, hindari kontak dengan orang lain, cek suhu tubuh secara rutin, dan tentunya jangan pergi ke luar rumah kecuali dalam keadaan darurat.

Untuk yang  #UdahDiRumah, buktikan kalau kamu ikut berkontribusi memutus rantai penyebaran wabah COVID-19.

Upload foto kamu di rumah, mention akun Instagram @rumah123com dengan hashtag #UdahDiRumah.

Jangan lupa ajak temanmu sebanyak-banyaknya!

Bagikan:
3477 kali