spedagi-spedagi

Desainer produk Singgih Karto Susilo mulai mendesain sepeda bambu bermerek Spedagi ketika mulai didiagnosa menderita kolesterol tinggi.

Sepeda bambu ini mulai dirancangnya. Apalagi kemudian Singgih menemukan kalau ada orang Amerika Serikat yang sudah mendesain sepeda bambu meski negeri itu tidak memiliki bambu.

Baca juga: Wah, Ini Nih Pentingnya Revitalisasi dan Restorasi Bangunan Tua

Sama seperti saat memulai merintis Radio Magno, Singgih kembali memanfaatkan material alam. Kalau radio menggunakan material kayu, maka Spedagi memakai bambu.

Hanya bedanya, Singgih lebih memilih jalan berbeda. Dia lebih ingin memberdayakan masyarakat desa dengan spedagi ini.

Baca juga: Muhammad Thamrin, Arsitek yang Selektif Memilih Klien

“Kegiatan saya sekarang ini adalah menjadi sebuah movement, proyek revitalisasi desa. Sepeda bambu itu metafora dari revitalisasi desa. Materialnya orang sudah tidak suka, orang desa tidak bangga, material yang dianggap murah. Ketika saya ubah menjadi sepeda bambu, ternyata orang melihat dari bambu yang disepelekan itu,” ujar Singgih Susilo Kartono kepada Rumah123 saat dijumpai di Gedung Olveh, Jakarta Barat pada Kamis (24/11).

Singgih terpilih menjadi salah satu dari tiga talenta kretif dalam acara Olveh Flagship. Singgih menjadi talenta kreatif di bidang desain. Pameran ketiga talenta kreatif ini juga diselenggarakan di Gedung Olveh hingga 10 Januari 2017.

Baca juga: Selfie-Nomics, Potensi Ekonomi di Balik Bangunan Tua

Singgih pun memulai proyek Spedagi dengan tagline bamboo bike for village revitalization. Proyek ini juga sudah mulai dirintis di Yamaguchi dan Tokyo, Jepang.

Kebetulan Jepang memiliki masalah sama dengan Indonesia yaitu tidak ada lagi orang muda di Indonesia, hanya ada orang tua. Menurut Singgih, apalagi di Indonesia ada masalah lagi kalau tidak ada orang pintar yang tinggal di desa.

Baca juga: Desainer Produk Ini Membuat Radio yang Eco-Friendly

 “Sepeda itu fokusnya tidak ke produksi. Sepeda itu mengajak orang ke desa. Dan salah satu aktivitasnya adalah membuat sepeda bambu di sana. Orang Jepang belajar di tempat saya untuk membuat sepeda bambu,” lanjut Singgih.

“Nah, sepeda bambu itu tidak saya ekspor sebagai produk, tetapi sebagai movement. Sepeda bambu harus dibuat di tempat masing-masing. Tetapi tetap menggunakan spedagi. Materialnya menggunakan yang ada di sana. Kalau di jepang, bisa menggunakan bambu karena materialnya ada. Kalau di Eropa , tidak ada bambu maka bisa pakai kayu dan material lain yang mereka punya,” kata Singgih lagi.

Baca juga: Spedagi, Sepeda Bambu Keren Ini Produksi Indonesia Lho

Hal inilah yang membedakan Radio Magno dan Sepeda Spedagi. Singgih ingin ada pemberdayaan yang lebih punya dampak lebih bagus bagi masyarakat desa.

Bagikan: 2796 kali