Masjid Raya Baiturrahman di Aceh Sudah Berdiri Sejak Era Sultan Iskandar Muda. Setelah Sempat Terbakar, Masjid Ini Dibangun Pada Masa Kolonial Belanda (Foto: Rumah123/Kumparan)

Masjid Raya Baiturrahman menjadi salah satu bangunan ikonik di Aceh. Masjid ini juga menjadi simbol religiusitas, kebudayaan, semangat, kekuatan, perjuangan, dan nasionalisme masyarakat Aceh.

Salah satu buktinya adalah saat tsunami menerjang Aceh pada 26 Desember 2004. Banyak orang yang memilih untuk mengungsi ke masjid ini. Masjid ini juga selamat dari tsunami meski banyak bangunan di sekitarnya yang rusak.

Baca juga: Desain Maha Karya Arsitektur Islam Bisa Dilihat di Masjid Ini, Penasaran?

Masjid yang berada di ibu kota provinsi Aceh, Banda Aceh ini dibangun pada 1612. Saat itu, masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Ada juga yang menyatakan kalau masjid ini dibangun beberapa abad sebelumnya.

Saat terjadi perang antara Belanda dengan Kesultanan Aceh, masjid ini sempat terbakar. Pemerintah kolonial Belanda membangun lagi masjid ini pada 1879.

Baca juga: Hmm, Ini Dia Masjid Ramah Lingkungan Pertama di Dunia

Arsitek asal Belanda, Gerrit Bruins mendesain Masjid Raya Baiturrahman. Dia terinspirasi dari gaya arsitektur Mughal Revivalism.

Gaya desain bangunan ini dipakai oleh arsitek Inggris di daerah jajahannya pada akhir abad ke-19 atau 1800-an. Bangunan berdesain ini banyak terdapat di India, Pakistan, Bangladesh, Malaysia, dan Sri Lanka.

Baca juga: Katanya, Keramik Iznik yang Percantik Masjid Biru. Kayak Apa Sih?

Makanya, masjid ini memiliki kubah dan menara yang khas Mughal. Masjid Raya Baiturrahman memiliki 7 kubah, 8 menara, dan 32 tiang.

Pembangunan masjid ini memakan waktu dua tahun dan selesai pada 1881. Kapasitas masjid ini bisa menampung 30.000 jamaah.

Bagikan: 538 kali