suku bunga acuan LTV- rumah123.com Bank Indonesia Telah Menurunkan Suku Bunga Acuan Tiga Kali Sejak Juli 2019. Selain Itu, Bank Sentral Telah Menaikan Rasio LTV Sehingga Uang Muka Rumah Pun Turun (Foto: Rumah123/Getty Images)

Bank Indonesia telah melakukan penurunan suku bunga acuan untuk ketiga kali dan juga menaikkan rasio LTV. Siapa yang diuntungkan investor atau end user?

Seperti diketahui, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan atau BI 7 Day Reverse Repo Rate atau BI7DRRR jelang akhir September 2019. Suku bunga turun sebesar 25 bps (basis point). Suku bunga turun dari 5,50 persen menjadi 5,25 persen.

Dalam tiga bulan terakhir, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga tiga kali. Penurunan suku bunga dimulai pada Juli 2019.

Baca juga: Suku Bunga Acuan BI Sudah Turun 3 Kali, Tapi Kok Bunga KPR Masih Tinggi?

Bank sentral melakukan penurunan sebesar 25 bps setiap melakukannya. Secara keseluruhan, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan hingga 75 bps. Suku bunga turun dari 6,00 persen menjadi 5,25 persen.

Penurunan suku bunga itu tentu menjadi stimulus terhadap dunia properti. Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia akan diikuti oleh penurunan suku bunga KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dan KPA (Kredit Pemilikan Apartemen).

Saat menurunkan suku bunga acuan pada September, Bank Indonesia juga menaikkan rasio LTV (Loan To Value) dan FTV () untuk properti dan juga Financing To Value kendaraan bermotor.

Baca juga: BI Turunkan Lagi Suku Bunga Acuan Jadi 5,25 Persen, Pasar Properti Bangkit?

Naiknya rasio LTV berarti konsumen membayar uang muka atau down payment (DP) menjadi lebih rendah. Sebelumnya, konsumen harus membayar DP sebesar 20 persen.

Sekarang, konsumen hanya perlu membayar uang muka sebesar 15 persen. Bahkan, jika konsumen membeli hunian berwawasan lingkungan, konsumen hanya perlu membayar uang muka sebesar 5 persen.

End User Diuntungkan Oleh Penurunan LTV dan Suku Bunga Acuan BI

Penurunan suku bunga acuan dan juga naiknya rasio LTV tentunya menguntungkan bagi end user yang ingin membeli apartemen atau rumah. Mereka tidak perlu membayar uang muka dengan jumlah besar.

Selain itu, konsumen juga membayar cicilan KPR atau KPA lebih murah lantaran bunga sudah turun. Hal ini diungkapkan oleh General Manager Marketing Skandinavia Apartment, Hene Putro.

“Bagi developer, tentu hal ini mendongkrak penjualan untuk end user,” kata Hene. Sementara bagi investor, saatnya untuk mengalihkan dana investasi.

Baca juga: Suku Bunga Acuan BI Turun Dua Kali, Saatnya Investasi Properti

Menurut Hene, para investor akan beralih instrumen investasi. Sebelumnya, mereka mendapatkan imbal hasil yang baik dari deposito.

Saat perbankan menurunkan suku bunga, tentunya deposito tidak lagi menawarkan hasil yang menarik. Sementara properti bisa memberikan hasil yang lebih baik.

Kalau investor membeli apartemen, maka dia bisa mendapatkan rental yield yang cukup tinggi. Investor bisa memperoleh uang sewa bulanan yang baik.

Saatnya Pasar dan Industri Properti Bangkit

Turunnya suku bunga dan juga pembayaran uang muka diharapkan bisa membangkitkan lagi industri dan pasar properti. Dalam beberapa tahun belakangan, para pelaku merasa ada perlambatan.

Pasar properti mengalami perlambatan yang cukup lama, sejak 2014. Jelang akhir 2019 dan memasuki awal 2020, para pelaku berharap bisa ada kebangkitan pasar properti.

Sejumlah perusahaan pengembang tetap berupaya bertahan dengan mengeluarkan sejumlah produk properti yang disesuaikan dengan kemampuan konsumen. Rumah dan apartemen memiliki ukuran yang semakin kecil sehingga harganya bisa terjangkau.

Baca juga: BI Kembali Turunkan Suku Bunga Acuan, Bakal Berdampak Positif ke Properti?

Bagikan: 776 kali