sewa kantor jakarta

Pandemi covid-19 berdampak pada sewa kantor Jakarta dengan adanya pasokan yang banyak, serapan yang berkurang, dan harga sewa yang turun. 

Bisnis dan pasar properti khususnya sektor perkantoran di Jakarta merasakan efek dari penyebaran virus corona atau covid-19. 

Seluruh indikator kinerja sektor perkantoran di ibukota ternyata negatif lantaran penyewaan yang terkendala terutama pada periode April hingga Juni 2020. 

Situs berita online Kompas.com melansir laporan riset konsultan properti Cushman and Wakefield Indonesia

Pandemi covid-19 semakin memburuk di Indonesia, apalagi jumlah yang positif terinfeksi semakin bertambah. 

Perusahaan memilih untuk mengurangi operasional kantor dan memutuskan para karyawan bekerja dari rumah. 

Ada juga pembatasan perjalanan yang diterapkan di Jakarta untuk mencegah penyebaran virus corona. 

Cushman and Wakefield menyatakan tidak ada transaksi baru yang terjadi pada nyaris seluruh perkantoran antara April hingga Mei. 

Peningkatan aktivitas baru mulai terlihat pada Juni yang ditandai dengan permintaan ruang kerja dengan luas di bawah 200 meter persegi. 

Selain itu, aktivitas inspeksi bangunan lebih sering dilakukan lantaran pembatasan operasional kantor mulai dilonggarkan. 

Kontrak sewa kantor Jakarta memang masih terbatas, hanya ada satu perusahaan di bidang jasa yang menyewa ruang lebih dari 10.000 meter persegi. 

Hal ini diungkapkan oleh Executive Director Commercial Cushman and Wakefield Indonesia Nonny Subeno.

Nonny melanjutkan untuk pertama kalinya sejak krisis finansial Asia pada 1999, tingkat serapan umum pada kuartal 2 2020 tercatat negatif seluas 44.300 meter persegi. 

Tentunya ini menurunkan jumlah tingkat serapan bersih hingga saat ini yang mencapai negatif 12.700 meter persegi. 

Baca juga: Nama Apartemen, Kantor, Hotel, Hingga Perumahan Wajib Memakai Bahasa Indonesia

sewa kantor jakarta

Pasokan Sewa Kantor Jakarta Mengalami Koreksi 

Jumlah total pasokan baru sewa kantor Jakarta ternyata mengalami koreksi dibandingkan dengan proyeksi. 

Sebelumnya, proyeksi pasokan baru kantor mencapai 320.000 meter persegi pada akhir 2020 mendatang. 

Namun, jumlah total pasokan baru gedung perkantoran di Jakarta yang diperkirakan selesai pada akhir 2020 hanya pada angka 237.000 meter persegi. 

Pada kuartal 2 2020 ini, pasokan baru untuk sewa kantor di Jakarta berasal dari Lippo Thamrin seluas 22.500 meter persegi. 

Hal ini terjadi lantaran pertimbangan untuk mengurangi kebutuhan ruang kantor yang dibutuhkan. 

Perusahaan juga berusaha menyeimbangkan kebutuhan protokol manajemen yang aman di area kerja. 

Baca juga: Mitos Lantai 4 dan 13 | Kenapa Dua Lantai Ini Tidak Ada di Apartemen dan Kantor?

sewa kantor jakarta

Penyerapan Sewa Kantor Jakarta dan Tingkat Okupansi 

Adanya pengurangan area kerja, relokasi, hingga menutup kantor bisa terlihat pada perkantoran grade B dan C. 

Tingkat penyerapan bersih pada gedung perkantoran yang masuk level grade A ternyata masih positif. 

Okupansi atau tingkat hunian gedung perkantoran di kawasan niaga terpadu atau CBD (central business district) di Jakarta menurun. 

Tingkat hunian ini untuk seluruh grade yaitu A, B, dan C yang memang menurun ke posisi 74,2% (persen).

Untuk okupansi gedung perkantoran yang masuk grade B malah menurun paling tajam pada kuartal 2 2020 ini sebesar 5,3% menjadi 70,7%. 

Baca juga: Kantor Masa Depan yang Modern, Ramah Lingkungan, dan Punya Akses Publik

sewa kantor jakarta

Harga Sewa Kantor Jakarta dan Peluang Negosiasi Kontrak Sewa 

Menurunnya okupansi atau tingkat hunian ini ternyata berimbas pada harga sewa dasar dalam Rupiah. 

Ada penurunan harga sewa dalam Rupiah sebesar 5,5% dari kuartal sebelumnya menjadi Rp198 ribu per meter persegi per bulan. 

Sementara harga sewa dalam USD malah menunjukkan peningkatan lantaran penguatan nilai tukar Rupiah.

Turunnya harga sewa membuat penyewa juga berupaya mencari potongan harga sewa apalagi aktivitas bisnis juga melambat.

Cushman and Wakefield Indonesia memperkirakan rendahnya okupansi perkantoran ini akan terus berlanjut. 

Sejumlah pemilik gedung sudah bersiap untuk memberikan diskon harga sewa mulai dari 10% hingga 50%.  

Proyeksi pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan juga dunia masih melambat sebagai dampak pandemi. 

Dampaknya gedung kantor dengan lokasi bagus dan biaya terjangkau diproyeksikan akan menjadi tren. 

Hal lain yang terjadi adalah pemilik gedung akan menghadapi tantangan berupa penyewa yang kesulitan membayar. 

Penyewa bisa saja mengajukan penundaan pembayaran hingga meminta pemotongan biaya sewa dan biaya layanan. 

Sebenarnya, bagi penyewa merupakan peluang untuk berkantor di gedung grade A karena pasokan banyak dan harga sewa yang menurun. 

Artikel ini merupakan kerjasama antara situs properti Rumah123.com dengan laman berita online Kompas.com.

Baca juga: Panduan New Normal di Kantor, Kerja Tetap Nyaman Tanpa Khawatir

Bagikan:
1143 kali