virus corona industri properti Ilustrasi Pusat Perbelanjaan yang Sepi. Virus Corona Ternyata Memberikan Dampak Terhadap Industri Properti Seperti Menurunkan Tingkat Okupansi Tamu Hotel, Berkurangnya Pengunjung Pusat Perbelanjaan, dan Investor Menunda Membeli Properti (Foto: Rumah123/Freepik.com)

 

Virus corona ternyata berdampak pada seluruh industri termasuk properti dalam hal ini hotel, pusat perbelanjaan, dan pembelian hunian. 

Penyebaran virus corona sudah melanda sebagian besar dunia. Pandemi virus ini telah mengguncang perekonomian dunia. 

Indonesia pun terkena imbasnya. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambyar dan menurun tajam. 

Perdagangan saham di-suspend setiap ada penurunan tajam. Penurunan IHSG memang drastis dibandingkan dengan awal tahun yang masih di angka 6000-an. 

Saat ini, IHSG malah sudah di posisi 3900-an saat perdagangan ditutup pada Jumat (20/3/2020). 

Sementara itu, nilai tukar rupiah juga melemah terhadap USD. Nilai tukarnya sudah menembus Rp15.700-an untuk satu USD. 

Bank Indonesia mengeluarkan relaksasi berupa penurunan suku bunga acuan pada Kamis (19/3/2020). 

Bank sentral menurunkan suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 bps atau basis poin dari 4,75 persen ke 4,50 persen. 

Sementara untuk industri properti, efek yang terlihat adalah berkurangnya jumlah tamu atau okupansi hotel terutama di daerah wisata. 

Selain itu, jumlah pengunjung di pusat perbelanjaan juga berkurang lantaran orang mulai menghindari kerumunan. 

Investor juga kembali wait and see melihat perkembangan virus corona. Apalagi jumlah korban hingga Sabtu (21/3/2020) adalah 450 orang positif corona, 38 meninggal, dan 20 orang sembuh. 

Baca juga: 6 Cara Mencegah Penularan Virus Corona Saat di Angkutan Umum

Akibat Virus Corona, Tingkat Okupansi Hotel Menurun Tajam

Situs berita online Tempo.co melansir pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pada Rabu (18/3/2020).

Luhut menyatakan okupansi atau tingkat keterisian sejumlah hotel di Bali menurun tajam. Bahkan, ada hotel yang okupansinya hanya 10 persen. 

Sedangkan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Putu Astawa menyatakan jumlah kunjungan wisata mancanegara hingga Senin (9/3/2020) turun hingga 30 persen. 

Penurunan ini dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019. Jumlah kunjungan wisata mancanegara pada low season pada Januari-Maret 2019 mencapai 430 ribu. 

Sementara pada periode yang sama pada 2020, jumlah kunjungan turis asing hanya 330 ribu. Putu menyatakan penurunan 100 ribu wisatawan. 

Penurunan okupansi hotel juga terjadi di destinasi wisata lainnya yaitu Yogyakarta. Kota ini menjadi tujuan para turis nusantara. 

Laman berita online CNNIndonesia.com mengutip pernyataan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta Dedy Pranowo Eryono. 

Dedy menyatakan tingkat hunian hotel di Yogyakarta turun antara 17 persen hingga  20 persen. Rata-rata okupansi hotel di Yogyakarta hanya tinggal 20 persen hingga 40 persen. 

Baca juga: 5 Tips Bicara ke Anak Soal Virus Corona

Antisipasi Penyebaran Virus Corona, Jumlah Pengunjung Pusat Perbelanjaan Juga Menurun

Efek lainnya yang dirasakan oleh para pelaku industri properti adalah menurunnya jumlah pengunjung pusat perbelanjaan atau mal. 

Situs berita online Kumparan.com melansir bahwa sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta sepi dan hanya ada segelintir pengunjung. 

Toko, gerai, dan juga area tempat makan sepi. Padahal biasanya pengunjung memadati pusat perbelanjaan untuk makan dan berbelanja. 

Sementara situs berita online Tribunnews.com mewartakan kalau pusat perbelanjaan di Surabaya, Jawa Timur juga mengalami hal serupa. 

Tidak banyak pengunjung yang memadati area makan di pusat perbelanjaan meski saat itu sedang jam makan siang. 

Biasanya, pusat perbelanjaan menjadi sumber pemasukan berulang atau recurring income bagi perusahaan pengembang. 

Baca juga: LRT Jakarta dan LRT Palembang Antisipasi Penyebaran Virus Corona

Virus Corona Juga Pengaruhi Transaksi Properti 

Laman berita online Kompas.com melansir pernyataan Ketua Umum Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Lukas Bong. 

Lukas menyatakan ada dampak virus corona terhadap transaksi jual beli properti. Agen properti atau broker tidak bisa melakukan aktivitas terutama tatap muka. 

Agen properti hanya bisa bekerja dari rumah. Calon pembeli dan investor memilih untuk menunda untuk membeli properti. 

Selain itu, sejumlah perusahaan pengembang juga menunda peluncuran produk baru dan membatalkan sejumlah acara.

Baca juga: Antisipasi Penyebaran Corona, MRT Jakarta Larang Penumpang Demam Untuk Naik

Bagikan:
3874 kali