Ilustrasi Foto: Rumah123/Getty
 

Sektor properti lesu? Tunggu dulu! Kata siapa itu? Memang betul dalam waktu 4 tahun belakangan ini sektor properti dalam kondisi seperti itu. Tapi, selalu ada the bright side pada hal apa aja, bukan?

Sektor properti yang lesu malah memunculkan peluang baru, yakni ‘bantingan’ harga hunian kelas menengah ke atas. Harganya menjadi menguntungkan buat calon pembeli properti saat ini, baik di pasar sekunder (rumah bekas) maupun pasar primer yang rumahnya sudah tersedia (bukan rumah inden).

Baca juga: Hapernas, Waktu Tepat Mikirin Soal Rumah!

"Ini sangat menarik. Karena harganya atraktif, untuk tidak dikatakan kompetitif. Mereka yang jual apartemen ini sebagian besar butuh uang atau istilahnya BU," kata Direktur Riset Savills Indonesia, Anton Sitorus, dikutip dari Kompas.com, Rabu (29-8-2018).

Menurut Anton, para pemilik properti dalam kondisi BU karena punya bisnis di luar sektor properti yang harus dibiayai. Hasil dari penjualan properti mereka ini, kata Anton, akan diputar kembali oleh pemilik properti untuk membiayai operasional bisnisnya.

Baca juga:2018 Waktu Tepat Beli Properti, Sebelum…

Bayangkan, sebagian besar dari investor tersebut, punya 2-10 unit apartemen. Coba aja hitung, kalau biaya operasional satu unit atau service charge-nya Rp1 juta per bulan, maka kalau 10 unit, jumlah yang harus mereka bayarkan tiap bulan ya Rp10 juta. Banyak juga kan? Kata Anton, itu belum termasuk biaya-biaya lainnya, semisal listrik dan air.

Hitung-hitungan tersebut untuk harga unit apartemen di pusat Kota Jakarta yang harganya Rp20-25 juta per meter persegi. Jadi, paham kan kenapa mereka ingin menjualnya sekarang. Maka itu, "Sekaranglah saatnya, betul-betul saat yang tepat, bukan gimmick, buat beli properti," kata Anton.

Bagikan: 1186 kali