Jalan Tol Trans-Sumatera Sumber: Kompas.com

Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio mengungkapkan  sejumlah permasalahan dalam pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). 

Beberapa permasalahan tersebut dapat menghambat pembangunan JTTS serta merugikan masyarakat sekitar. 

Melansir Komps.com, berikut beberapa masalah yang ada di proyek JTTS menurut Agus Pambagio:

1. Pembebasan Lahan yang Tak Kunjung Selesai

Menurut Agus, persoalan pertama ialah terkait pengadaan tanah atau pembebasan lahan yang tak kunjung usai. 

Padahal, JTTS ditargetkan dapat tersambung dan beroperasi seluruhnya pada 2024 mendatang. 

"Pengadaan tanah sampai sekarang masih bermasalah, bahkan PT Hutama Karya (Persero) juga bermasalah di Sumatera, sehingga diprediksi belum bisa tersambung pada 2024," kata Agus.

2. Anggaran Pengadaan Proyek yang Mengandalkan APBN

Kedua, anggaran pengadaan proyek tersebut awalnya dilakukan dengan berbagai pola seperti Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). 

Namun, faktanya malah kembali mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 

"Anggaran pengadaan dilakukan dengan berbagai pola tetapi ujung-ujungnya malah menggunakan APBN juga, melalui Penyertaan Modal Negara (PMN)," jelasnya. 

3. Tidak Melibatkan Antropolog

Ketiga, feasibility study (studi kelayakan) pembangunan JTTS tidak dilakukan dengan melibatkan antropolog. 

Menurut Agus, adanya antropolog akan memberikan kajian komprehensif terkait kondisi masyarakat sekitar. 

Dengan begitu, beroperasinya JTTS nantinya dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. 

"Antropolog itu harus terlibat dalam kajian perencanaan atau feasibility study (studi kelayakakn) pembangunan JTTS, karena mereka kan orang yang tahu bagaimana kebiasaan manusianya, bahasa, sosial dan budaya masyarakat sekitar," ucapnya.  

Sayangnya, kata Agus, pembangunan jalan tol di Indonesia sering kali mematikan usaha dan aktivitas masyarakat di jalan nasional. 

Padahal kehadiran jalan tol itu harus menjadi solusi dalam meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitarnya. 

"Nah di situ kan harus dilihat apa yang masyarakat sekitar mau dan bisa, sehingga bisa diciptakan di jalur tol itu. Bukan hanya di rest area tetapi di sekitar exit toll-nya kah supaya masyarakat yang terdampak itu bisa tetap berusaha," tuturnya. 

4. Maraknya Kendaraan Bermuatan Lebih

Persoalan terakhir yang disampaikan Agus ialah tentang maraknya kendaraan bermuatan lebih dan berdimensi lebih atau Over Dimension Over Load (ODOL) yang beroperasi.

"Salah satu tujuan dari JTTS kan untuk memperlancar logistik barang, masalahnya kendaraan ODOL masih menjadi tantangan utama dan sudah 10 tahun ini tetap belum bisa diatasi," ujar Agus. 

Agus berpendapat, kendaraan ODOL akan menjadi ancaman terutama bagi kualitas jalan. 

Salah satu contohnya adalah Jalan Tol Trans-Jawa yang banyak tambalan di sana sini. 

"Kendaraan ODOL jelas akan merusak dan mengancam kualitas JTTS," ujarnya.  

Maraknya kendaraan ODOL di jalan tol disebabkan karena masih banyaknya pungutan liar (pungli) yang terjadi di pelabuhan dan gudang logistik. 

ODOL menjadi salah satu strategi untuk menutupi biaya cost overage (kelebihan biaya) logistik tersebut. 

"Di jalan, pelabuhan, gudang itu punglinya besar. Jadi kendaraan ODOL itu untuk menutupi pungli itu atau menutupi cost overage dari logistik," tuntas Agus.

Jangan lupa kunjungi artikel.rumah123.com untuk dapatkan artikel menarik lainnya seputar properti. 

Kamu juga bisa mencari properti yang sesuai kebutuhanmu seperti Vivaldi Residence hanya di www.rumah123.com.

Bagikan:
270 kali