Dalam artikel sebelumnya, kita telah membahas pentingnya membuat surat perjanjian kontrak rumah untuk penyewa dan pemilik rumah. Kali ini, kita akan membahas mengenai kekuatan surat tersebut di mata hukum.

Surat Perjanjian Kontrak Rumah - rumah123.com

Apakah setelah membuat surat tersebut, lantas perjanjian di dalamnya sudah pasti mengikat hak dan kewajiban kedua belah pihak? Yuk, kita simak selengkapnya dalam artikel ini!

Dilansir dari Hukumonline.com, syarat sah dari sebuah perjanjian diatur dalam ketentuan Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUHPer”). Syarat tersebut antara lain:

1. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya;

2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;

3. Suatu pokok persoalan tertentu;

4. Suatu sebab yang tidak terlarang.

Namun, tak semua perjanjian bisa digunakan sebagai bukti. Berdasarkan Pasal 1866 KUHPer dan Pasal 164 Het Herzien Inlandsch Reglement (HIR)/Reglemen Indonesia yang Diperbaharui (RIB) (“HIR”), alat-alat bukti dalam hukum perdata terdiri atas:

1. Bukti tertulis

2. Bukti saksi

3. Persangkaan

4. Pengakuan

5. Sumpah.

Baca juga: Jangan Salah, Surat Perjanjian Jual Beli Ternyata Berbeda dengan Akta Jual Beli!

Bukti tertulis pun terbagi lagi menjadi dua, yaitu:

Surat Perjanjian Kontrak Rumah - rumah123.com

1. Bukti tulisan otentik (akta otentik):

Suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan undang-undang oleh atau di hadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu di tempat akta itu dibuat (Pasal 1868 KUHPer dan Pasal 165 HIR).

2. Bukti tulisan di bawah tangan:

Akta yang ditandatangani di bawah tangan, dan dibuat tidak dengan perantara pejabat umum. Misalnya seperti akta jual beli, sewa-menyewa, utang-piutang, dan lain sebagainya yang dibuat tanpa perantara pejabat umum (Pasal 165 HIR).

Baca juga: Surat Tanah Hilang? Jangan Panik, Gampang Kok Mengurusnya!

Terdapat perbedaan kekuatan dari akta otentik dan bukti tulisan di bawah tangan. Berikut perbedaannya:

Surat Perjanjian Kontrak Rumah - rumah123.com

1. Akta otentik merupakan bukti yang kuat untuk kedua belah pihak dan ahli warisnya, tentang segala hal yang disebutkan dalam akta tersebut. Berdasarkan Penjelasan Pasal 165 HIR, isi dari akta otentik tidak dapat disangkal kebenarannya, kecuali jika dapat dibuktikan, bahwa apa yang dicatat oleh pejabat umum dicatat sebagai benar, tetapi tidaklah demikian halnya. Sedangkan berdasarkan Pasal 1870 KUHPer, akta otentik merupakan suatu bukti yang sempurna tentang apa yang dimual di dalamnya.

2. Berdasarkan Pasal 1875 KUHPer dan Penjelasan Pasal 165 HIR, untuk perjanjian di bawah tangan, berlaku sebagai akta otentik jika diakui oleh orang terhadap siapa tulisan tersebut hendak dipakai. Ketika salah satu pihak atau ahli warisnya memungkiri atau tidak mengakui tulisan dan tanda tangan dalam surat perjanjian tersebut, maka Hakim harus memerintahkan supaya kebenaran dari tulisan dan tanda tangan dalam surat perjanjian tersebut diperiksa di Pengadilan.

3. Ketika salah satu pihak mengatakan bahwa isi akta otentik tidak benar, maka pihak yang mengatakan lah yang harus membuktikan bahwa akta tersebut tidak benar. Namun pihak yang memakai akta itulah yang harus membuktikan bahwa akta itu adalah betul (Penjelasan Pasal 165 HIR).

Surat perjanjian kontrak rumah bisa dianggap kuat jika berbentuk akta otentik. Sedangkan jika surat perjanjian kontrak rumah berbentuk perjanjian di bawah tangan, bisa saja bersifat sama seperti akta otentik, asal kedua pihak mengakui surat tersebut. 

Bagikan: 2060 kali