investasi properti Ilustrasi. Investasi di Pasar Keuangan Seperti Asuransi, Reksadana, dan Lainnya Mengalami Sejumlah Masalah Belakangan Ini, Sementara Investasi Emas Sudah Terlalu Tinggi. Ada Potensi Para Investor Melirik Lagi Investasi Properti (Foto: Rumah123/iStockphoto)

Investasi di sektor keuangan seperti asuransi dan saham sedang limbung saat ini. Para investor mulai kembali melirik investasi properti. 

Sejak akhir 2019, pemberitaan soal Jiwasraya menjadi perbincangan. Perusahaan asuransi milik pemerintah ini mengalami gagal bayar. 

Jiwasraya mengalami gagal bayar untuk produk asuransi berupa investasi yang dipasarkan melalui bank. 

Pada awal 2020, kerugian Jiwasraya mencapai Rp16 triliun. Sebagian besar produk ini jatuh tempo pada Oktober-Desember 2019.

Sebenarnya, bukan hanya Jiwasraya. Tetapi, juga Asabri juga mengalami masalah yang tidak kalah pelik.

Asuransi pelat merah ini memiliki sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia yang mengalami potential loss. 

Saat kasus Jiwasraya dan Asabri, ada juga kasus yang menimpa Manajer Investasi Emco Asset Management. 

Perusahaan swasta ini mengalami penurunan dana kelolaan reksa dana yang drastis hingga sebesar 40,22 persen.

Hal yang terjadi di sektor keuangan ini sebenarnya menjadi peluang bagi investor untuk mengalihkan dananya ke sektor properti. 

Bank Indonesia Menurunkan Suku Bunga Acuan 

Bank Indonesia melakukan penurunan suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) jelang akhir Februari 2020. 

Bank sentral memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps dari 5,00 persen menjadi 4,75 persen. 

Penurunan suku bunga acuan ini merupakan hasil dari Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dilakukan setiap bulan. 

Sebelumnya, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada posisi 5,00 persen selama beberapa bulan.

Suku bunga acuan bertahan pada angka 5,00 persen sejak November 2019 hingga Januari 2020. 

Bank Indonesia sempat menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps dalam kurun waktu Juli hingga Oktober 2019. 

Selain itu, Bank Indonesia juga melakukan relaksasi loan to value (LTV) properti yang mulai berlaku pada awal Desember 2019. 

Untuk sekedar informasi, suku bunga acuan ini dipakai oleh perbankan sebagai patokan dalam menentukan suku bunga kredit. 

Hal ini juga mencakup KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dan juga KPA (Kredit Pemilikan Apartemen). 

Ketika suku bunga acuan turun maka suku bunga KPR/KPA perlahan juga akan turun. Hal ini meringankan konsumen. 

Sejumlah bank sudah mulai menurunkan suku bunga. Bank memerlukan waktu untuk mentransmisikan suku bunga acuan. 

“Dengan semakin menurunnya suku bunga sebanyak 0,25 persen bahkan diprediksikan mencapai 0,75 persen,” ujar Direktur Skandinavia Apartment, Norman Eka Saputra.

“Diitambah lagi dengan nilai tukar rupiah yang semakin menguat, akan semakin membawa energi dan pergerakan peralihan investasi ke emas dan properti,” lanjutnya.

“Kami yakin apresiasi masyarakat, khususnya terhadap sektor properti akan semakin meningkat,” kata Norman lagi. 

Norman melanjutkan investor yang sebelumnya berinvestasi di sektor keuangan, bisa beralih ke sektor properti. 

Menurut dia, investasi emas sudah terlalu mahal. Belakangan, harga emas memang melambung tinggi. 

Investor pastinya ingin dananya terus bertumbuh. Saat investasi di sektor keuangan mengalami masalah, investor akan mencari instrumen lain. 

Investasi emas memang menjanjikan saat ini. Tetap, kenaikan harga emas memang sudah terlalu tinggi. 

Investasi properti menjadi pilihan investor. Apalagi kalau berinvestasi pada hunian vertikal yang sudah selesai dibangun.

Baca juga: Rumah123: Tren Pencarian Rumah Naik, Masyarakat Masih Ingin Berinvestasi Properti

Baca juga: Mungkinkah Penyebaran Virus Corona Berdampak Kepada Investasi Properti?

Bagikan:
784 kali