investasi properti- rumah123.com Ilustrasi Rumah. Situs Properti Rumah123.com Mengungkapkan Data Bahwa Tren Pencarian Rumah Pada 2019 Naik 27 Persen. Masyarakat Masih Ingin Berinvestasi Properti (Foto: Rumah123/REA Adobe Experience Manager)

Tren pencarian rumah di situs Rumah123.com terus naik. Masyarakat masih tetap ingin berinvestasi properti meski pasar properti masih dianggap lesu.

Pasar properti diklaim mengalami perlambatan pada 2019. Salah satu penyebabnya adalah pesta politik yaitu pemilihan presiden. Banyak yang menyatakan investor memilih wait and see.

Namun, data pencarian yang bersumber dari situs properti Rumah123.com mengungkapkan hal yang berbeda. Rumah123.com merupakan bagian dari REA Group Australia.

Baca juga: Mungkinkah Penyebaran Virus Corona Berdampak Kepada Investasi Properti?

“Total pencarian di Rumah123.com naik 27 persen,” ujar Country General Manager Rumah123.com Maria Herawati Manik saat memberikan paparan dalam Property Outlook 2020.

Rumah123.com menyelenggarakan Property Outlook 2020 dengan tema “Proyeksi Arah Properti 2020, Melihat Pergerakan dan Tantangan Pasca Tahun Politik”.

Acara ini terbagi dalam dua sesi. Sesi pertama merupakan pemaparan. Salah satu yang tampil adalah Maria. Sedangkan sesi kedua merupakan diskusi panel yang menampilkan sejumlah pembicara.

Pencarian Rumah Tapak Naik, Pencarian Apartemen Menurun

Maria memaparkan bahwa pencarian rumah tapak di situs Rumah123.com naik sebesar 34 persen sepanjang 2019. Sementara total pencarian apartemen atau hunian vertikal malah turun 10 persen. Pencarian tanah juga turun sebesar 2 persen.

Semua data ini merupakan data secondary listing di Rumah123.com. Data didapatkan pencarian rumah di pasar sekunder oleh para konsumen.

Untuk pencarian rumah, konsumen melirik rumah tapak dengan harga dengan rentang mulai dari Rp500 juta hingga Rp5 miliar. Untuk hunian vertikal, konsumen mencari apartemen dengan harga mulai dari Rp500 juta hingga 1 miliar.

Baca juga: Mahalnya Harga Tiket Pesawat Berdampak Kepada Investasi Properti

Sementara untuk pencarian tanah, para konsumen membidik lahan dengan harga Rp7 juga per meter persegi. Tiga kota yang menjadi favorit pencarian adalah Jakarta, Bandung, dan Tangerang.

“Demand masyarakat masih menunjukkan hal positif, masyarakat masih ingin berinvestasi properti,” lanjut Maria.

Orang Indonesia Memang Menjadikan Properti Sebagai Instrumen Investasi

Bank Indonesia pernah melansir riset pada Property Outlook 2018. Salah satunya mengungkapkan bahwa 22,5 persen orang Indonesia memilih properti sebagai investasi. Sisanya memilih berinvestasi di saham, emas, dan lainnya.

Tingginya minat orang Indonesia untuk memiliki properti memang masih tinggi. Ada dua alasan yang melatarbelakangi.

Pertama, properti merupakan kebutuhan tempat tinggal. Kedua, properti merupakan investasi. Bank Indonesia mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki persepi bahwa harga propeti tidak akan turun.

Baca juga: Tiga Keunggulan Investasi Properti di Gedung Mixed Use Berkonsep 3.0

Coba kamu tengok saja orang di sekitar kamu, biasanya mereka memiliki investasi properti. Kalau di Indonesia, investasi properti yang dimiliki adalah rumah kos, rumah petak, apartemen, ruko, kios, dan lainnya.

Harga properti memang tidak turun. Investasi properti memang unik. Harga properti second bisa lebih mahal dibandingkan properti baru.

Investasi properti memiliki dua keuntungan yaitu capital gain dan rental yield. Harga properti semakin lama akan semakin naik, ini yang dinamakan capital gain. Sementara pemilik properti bisa mendapatkan pemasukan dari sewa properti. Hal ini yang dinamakan rental yield.

Baca juga: Tips Investasi: Kenaikan Harga Properti dan Sewa Properti di Luar Negeri

Bagikan:
638 kali