Pengunjung sebuah pameran properti melihat maket hunian vertikal yang ditawarkan oleh pihak pengembang. Foto: Rumah123/Jhony Hutapea

Lahan yang kian terbatas dan harganya yang terus merangkak naik, membuat hunian di perkotaan mau gak mau berkembang ke atas alias vertikal. Namun, masih saja lho ada yang ngotot pengin rumah tapak (landed house). Hal ini disampaikan oleh Dirjen Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Syarif Burhanuddin.

Menurutnya, Kementerian PUPR telah menyediakan 20.000 unit rumah vertikal untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), namun umumnya mereka menginginkan rumah tapak (landed house). Perlu ada pembudayaan bagi masyarakat di kota-kota untuk tinggal di perumahan vertikal.

Baca juga: Minim Lahan, Hunian Vertikal Memang Jadi Solusinya!

"Salah satu soal yang dihadapi adalah budaya selama ini tinggal di landed ke vertikal. Kalau dilihat sebenarnya rusun itu apartemen juga, tapi kok biasa saja, padahal sama. Ini budaya yang harus dibesarkan," katanya seperti dikutip Antaranews.com, Jumat (29/9/2017).

Kalau mencontoh negara maju semisal Singapura, pada awalnya masyarakat di sana juga “dipaksa” tinggal di rumah vertikal. Kini, hal itu sudah membudaya, masyarakat Negeri Singa itu sudah tak ada masalah dengan hunian vertikal.

Baca juga: Ini Loh Alasan Kenapa Jakarta Hanya Boleh Bangun Hunian Vertikal

Begitu pula agaknya di negara kita, harus terbiasa tinggal di rumah vertikal bagi warga kota. Jika MBR di Indonesia sudah biasa tinggal di rumah vertikal, maka ruang terbuka hijau di kota pun akan semakin luas.

"Kecenderungannya negara maju seperti di Washington, Amerika Serikat, rumah orang kaya justru di pinggir kota. Saya kira suatu saat kota akan semakin berkembang (seperti itu)," kata Syarif lagi.

Baca juga: Sosialisasikan Hunian Vertikal, Pemerintah Bidik Penghuni Pondok Pesantren

Kementerian PUPR mencatat capaian kinerja Program Satu Juta Rumah per 22 September 2017 yakni 623.344 unit rumah siap huni.

Nah, buat kamu generasi milenial, kalau tetap ingin punya hunian tapak di kota, sebaiknya berpikir ulang. Hunian di dalam kota yang masih mungkin terjangkau ya rumah vertikal. Minggir keluar kota merupakan hal yang wajar kalau tetap berkeinginan punya rumah tapak.  Kelak, rumah orang kaya justru di pinggir kota lho.

Bagikan:
1869 kali