Foto: Rumah123/Getty

Rumah gedong bertingkat dengan halaman superluas? Ya, boleh aja sih kalau itu emang impian kamu. Tapi, sekarang ini trennya sih rumah kecil. Mau tau kenapa? Kabarnya rumah yang luas dan besar bukan jaminan keluarga bahagia. Paling ga, itu menurut Brett Graff, ekonom rumah dan penulis buku properti asal Amerika Serikat.

Kepoin yuk, kenapa rumah gede mengganggu kebahagiaan keluarga. Berikut alasan yang diungkapkan Graff seperti dikutip dari Foxnews:

Banyak Ruangan, Sedikit Interaksi

Rumah besar memungkinkan setiap penghuninya memiliki ruang pribadi. Nah, jika hal tersebut terjadi, maka kesempatan berinteraksi satu sama lain akan semakin berkurang. ’’Semakin banyak kesempatan bertatap muka dengan anggota keluarga, maka akan semakin sering mereka berkomunikasi. Umumnya kegiatan akrab keluarga bertemu di lorong atau area dapur,’’ kata Graff.

Rumah yang besar juga bikin kamu kewalahan memantau aktivitas dan perkembangan anak. Kamu tidak pernah tahu apa yang mereka akses melalui ponsel pintar atau laptopnya.

Baca juga: Rumah Minimalis Itu Bukan Rumah Minim Abis!

Mengurangi Romantisme

Ketika tinggal di rumah yang luas, kamu akan semakin jarang bertemu dengan pasangan. Sejauh ini belum ada riset yang membuktikan bahwa semakin banyak kamar tidur dan kamar mandi di sebuah rumah dapat memicu hubungan yang baik. Rumah yang besar juga akan memakan biaya perawatan yang lebih besar. Hal ini dipercaya dapat memicu pertengkaran pasutri.

Lokasinya Jauh dari Tempat Kerja

Rumah berukuran besar dengan harga terjangkau, umumnya terletak di kota satelit yang jaraknya relatif jauh dari lokasi tempat bekerja. Untuk perjalanan sehari-hari, dengan jarak rumah ke kantor lebih dari 10 kilometer, kamu mungkin menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk sampe di kantor.

Kemacetan lalu-lintas kini semakin tinggi di Ibukota dan sulit di atasi menggunakan kendaraan umum atau pribadi. ’’Warga komuter memiliki tingkat stres yang lebih tinggi. Mereka juga punya risiko obesitas yang lebih besar karena kekurangan waktu istirahat, tidur nyenyak, dan berolahraga,” kata Graff.

Baca juga: Rumah Minimalis Bisa Akomodasi Kebutuhan Milenial yang Maksimalis

Gak Akrab Sama Tetangga

Kalau rumah gede dan luas, biasanya susah membangun hubungan kekerabatan antarpenghuni lingkungan. Dengan bangunan yang ditutup oleh pagar tinggi, banyak penghuni rumah besar yang tidak mengenal tetangga yang tinggal di sekitarnya.

Kalau tinggal di perumahan berukuran sedang dengan model klaster tanpa pagar, kamu bisa lebih mudah melihat aktivitas keseharian tetangga dan saling menegur sapa. Menurut penelitian, orang-orang yang mengenal dan mempercayai tetangganya memiliki kesehatan yang lebih baik, dan berisiko lebih rendah terkena serangan stroke.

House But Not Home

Pernah dengar unagkapan itu? House but not home (rumah tapi bukan tempat tinggal). Nah, rumah yang besar bisa kayak gitu. Kamu mungkin bangga punya rumah besar, tapi apakah betul-betul kamu bahagia menghuninya? Apakah kamu rindu pulang saat tak di rumah itu?

Baca juga: Saatnya Milenial Jatuh Cinta Kepada Rumah Sempit

Banyak orang yang berupaya membangun rumah impian, namun tidak merasa nyaman ketika menempatinya. Perasaan ’’homey” tidak mudah ditemukan jika kamu tinggal di hunian yang terlalu luas tanpa memenuhi kebutuhan kamu sesungguhnya.

Bagikan: 913 kali