Rumah adat Betawi atau yang biasa disebut Rumah Kebaya merupakan rumah asli suku Betawi atau suku asli Jakarta. Bukan hanya bentuknya yang unik, ternyata rumah adat Betawi punya banyak filosofi yang menarik!

Suku Betawi merupakan suku yang sebagian besar penduduknya tinggal di DKI Jakarta. Penduduk asli Betawi sudah menempati Batavia sejak abad ke-17. Dulu, hampir setiap penduduk Jakarta asli Betawi memiliki rumah dengan bentuk yang sama. Banyak orang yang menyebut rumah tersebut Rumah Kebaya karena ketika dilihat dari samping, atap rumah tersebut menyerupai pelana yang dilipat dan apabila dilihat dari samping, lipatan-lipatan tersebut berbentuk seperti lipatan kebaya.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, arus urbanisasi di Jakarta pun semakin tidak terbendung. Sehingga kebudayaan lokal adat Betawi sebagai suku asli pun semakin tergerus. Hal ini bisa terlihat dari rumah-rumah yang dibangun di Jakarta, jarang yang masih menggunakan rumah adat Betawi. Bahkan hampir semua rumah di Jakarta sudah menggunakan konsep rumah modern dan minimalis.

Baca juga: Nuansa Betawi di Masjid KH Hasyim Asyari

Rumah Kebaya punya filosofi yang dalam & berarti

Sayang sekali ya? Padahal setiap bentuk rumah adat Betawi punya  fungsi yang berbeda-beda. Dan uniknya lagi, setiap sisi dari rumah Kebaya punya filosofi yang dalam dan berarti seperti berikut ini.

Teras

rumah adat betawi - rumah123.com

Salah satu ciri khas rumah Kebaya yang paling menonjol adalah bagian teras yang luas. Biasanya terdapat meja dan kursi di bagian teras untuk bersantai bersama keluarga atau sekadar menerima tamu. Ukuran teras yang luas memiliki nilai filosofis tersendiri. Ruang teras tersebut mengandung arti bahwa orang Betawi senantiasa terbuka dan selalu menghargai setiap tamu yang datang tanpa membeda-bedakan.

Bagian teras dan luar rumah dipisahkan dengan susunan pagar kayu yang dibuat berbentuk segitiga simetris. Artinya, walaupun orang Betawi terbuka dengan siapa saja, mereka tetap memiliki batas. Mereka dapat membedakan mana hal yang positif dan mana hal yang negatif.

Pangkeng

Berbeda dengan rumah zaman sekarang di mana ruang keluarga berada di dalam rumah, ruangan keluarga di rumah Kebaya berada di luar rumah. Bagian ini biasa dinamakan Pangkeng.

Ruangan Tidur

Rumah Kebaya tentunya juga punya ruangan tidur seperti rumah pada umumnya. Banyaknya rungan tergantung dari ukuran rumah. Tapi biasanya, jumlah kamar ada sebanyak empat ruangan. Pemilik rumah akan menempati ruangan dengan ukuran paling besar.

Srondoyan

Srondoyan juga bisa disebut dapur. Srondoyan terletak di bagian paling belakang dan jadi satu dengan ruang makan. Seperti pada umumnya ruangan ini digunakan untuk mengolah masakan.

Makam

rumah adat betawi - rumah123.com

Yap, kamu gak salah baca kok. Dalam budaya Betawi, menjadi hal biasa untuk membuat area pemakaman di samping rumah. Ini dilakukan agar pihak keluarga yang masih hidup selalu ingat bahwa akan ada sebuah kematian kelak. Sanak saudara yang tinggal di rumah tersebut pun gak perlu menempuh jarak jauh untuk berziarah. Tapi semenjak lahan semakin terbatas, budaya ini pun semakin ditinggalkan.

Baca juga: Peduli Rumah Adat Bali, Yuk!

Mengunjungi Rumah Kebaya di Setu Babakan

Meskipun rumah Kebaya sudah sangat sulit untuk ditemukan, bukan berarti kita gak bisa lagi melihat ciri khas dari suku Betawi ini.  Tradisi dan adat betawi masih dapat ditemukan hingga saat ini. Pemandangan tersebut dapat ditemukan di kawasan Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Berbagai macam hal yang berkaitan dengan budaya betawi dapat ditemukan di kawasan Setu Babakan. Tempat ini dijadikan cagar budaya, sehingga kita masih dapat menemukan beberapa rumah adat Betawi yang masih terawat dengan baik. Bahkan kantor pengelolanya pun menggunakan desain rumah Kebaya.

Nah, untuk kamu yang rindu dengan rumah khas suku Betawi, bisa segera mengunjungi Setu Babakan. Atau jika kamu sekadar mau melihatnya melalui layar kaca, kamu bisa menonton ulang serial Si Doel Anak Betawi yang sangat memiliki latar Jakarta tempo dulu.

Bagikan: 428 kali