Sebenarnya, apa sih perbedaan normalisasi dan naturalisasi? - Rumah123.com Sebenarnya, apa sih perbedaan normalisasi dan naturalisasi? - Rumah123.com

Pasca banjir melanda Jakarta 1 Januari 2020 lalu, istilah normalisasi dan naturalisasi ramai dibicarakan. Awalnya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono lah yang menyebutkan bahwa normalisasi Kali Ciliwung secara menyeluruh menjadi langkah untuk mencegah banjir di ibu kota.

Sedangkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan lebih memilih untuk melakukan naturalisasi dan tak melanjutkan program normalisasi yang dieksekusi era kepemimpinan Joko Widodo ketika menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sebenarnya, apa sih perbedaan keduanya? Mengapa ada perdebatan antara normalisasi dan naturalisasi, jika tujuan keduanya sama-sama untuk mencegah banjir di ibu kota? Di sini, Rumah123.com akan memberikan penjelasan mudahnya!

Baca juga: Sering Kebanjiran? Ini 6 Tips Interior Rumah yang Ramah Banjir

Normalisasi

Dilansir dari situs Jakarta Smart City, normalisasi sungai adalah metode penyediaan alur sungai dengan kapasitas mencukupi untuk menyalurkan air, terutama air yang berlebih saat curah hujan tinggi. Normalisasi dilakukan karena mengecilnya kapasitas sungai akibat pendangkalan dan penyempitan badan sungai, dinding yang rawan longsor, aliran air yang belum terbangun dengan baik, dan penyalahgunaan untuk permukiman. 

Dilansir dari Detik.com, Dinas Tata Air DKI melakukan normalisasi sungai dengan cara pengerukan sungai untuk memperlebar dan memperdalam sungai, pemasangan sheet pile atau batu kali (dinding turap) untuk pengerasan dinding sungai, pembangunan sodetan, hingga pembangunan tanggul. Singkatnya, normalisasi adalah upaya untuk menjadikan sungai mampu menyimpan air dengan kapasitas lebih banyak, dan meningkatkan kemampuan untuk mengalirkan air. Caranya dengan pengerukan, pembetonan, dan pembangunan tanggul.

Dinas Kebersihan DKI mengeksekusi normalisasi lewat cara menjaga kebersihan sungai sehingga sungai dapat difungsikan sebagai air baku. Ada 13 sungai yang melintasi Jakarta yakni Sungai Ciliwung, Angke, Pesanggrahan, Grogol, Krukut, Baru Barat, Mookevart, Baru Timur, Cipinang, Sunter, Buaran, Jati Kramat, dan Cakung.

Naturalisasi

Sedangkan naturalisasi adalah upaya mengembalikan fungsi sungai sebagai daerah resapan air, kawasan hijau, dan mengembalikan ekosistem sebagaimana kondisi alamiahnya lagi. Dengan begitu, air akan terserap kembali ke dalam tanah. Berbeda dengan normalisasi yang sering dieksekusi lewat pembangunan dinding turap atau pembetonan di pinggir sungai, maka naturalisasi tidak dieksekusi dengan cara demikian.

Justru alur dibiarkan tanpa turap maupun sodetan agar tidak mematikan ekosistem alamiah di pinggir sungai. Program naturalisasi Anies ini diwujudkan dalam Pergub Nomor 31 Tahun 2019 tentang Pembangunan dan Revitalisasi Prasarana Sumber Daya Air (SDA) secara Terpadu dengan Konsep Naturalisasi.

Baca juga: 8 Cara Membersihkan Rumah Pasca Banjir Sesuai Urutan

Normalisasi vs naturalisasi, mana yang lebih efektif untuk mencegah banjir?

Itu dia penjelasan tentang perbedaan normalisasi dan naturalisasi. Dari kedua upaya tersebut, mana sebenarnya yang paling efektif? Dilansir dari Kumparan, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nur Hidayati berpendapat tidak ada yang lebih baik antara normalisasi atau pun naturalisasi. Menurut Nur, keduanya akan lebih baik jika dilakukan secara bersamaan. 

Di era cuaca ekstrem serta ancaman climate change seperti saat ini, normalisasi dan naturalisasi yang berjalan bersamaan akan lebih efektif. Naturalisasi berguna di musim kemarau, karena masyarakat punya simpanan air yang terisi di waduk produk naturalisasi. Cadangan air untuk musim kemarau berkepanjangan pun aman. Sementara normalisasi, lebih cocok untuk musim hujan karena membuat volume air meningkat. Ketika air tak bisa tertampung lagi, normalisasi membuat air langsung ke laut. 

Di satu sisi, normalisasi memang membuat air lebih cepat mengalir ke laut. Namun biaya perawatannya sangat tinggi karena harus dilakukan pengerukan secara rutin. Namun jika hanya normalisasi yang dijalankan tanpa naturalisasi, manusia jadi pihak yang dirugikan. Sebab, air hujan yang notabenenya adalah air tawar jadi terbuang sia-sia ke laut.

Bagaimana? Menurutmu, mana yang lebih baik? Normalisasi atau naturalisasi?

Bagikan: 22017 kali