radio-magno-blomming Radio Magno (Rumah123/Blomming)

Radio Magno ini memang keren. Desainnya memang simpel dan fungsional. Apalagi materialnya yang terbuat dari kayu membuat radio ini semakin terlihat kekinian.

Kalau kamu memajangnya di ruang tamu atau ruang keluarga dijamin deh kalau produk satu ini akan membuat interior rumah semakin oke.

Baca juga: Desainer Produk Ini Membuat Radio yang Eco-Friendly

Radio Magno ini sudah meraih sederetan penghargaan lho. Setidaknya ada delapan penghargaan dari dalam negeri dan juga luar negeri mulai dari Amerika Serikat, Jepang, dan Hong Kong.

Tetapi kamu nggak akan menyangka kan kalau radio keren ini sebenarnya bermula dari tugas akhir kuliah?

Baca juga: Sofa atau Ranjang Sih? Apa pun Itu Bisa Bikin Kamu Mager Abis

“Saya bukan tipikal orang yang melakukan sesuatu dengan riset. Saya mengalir saja hidup saya. Saya membuat barang apa yang saya rasakan penting. Radio kayu saya itu saya mulai ketika tugas akhir,” ujar Singgih Susilo Kartono kepada Rumah123 saat dijumpai di Gedung Olveh, Jakarta Barat pada Kamis (24/11).

Singgih terpilih menjadi salah satu dari tiga talenta kretif dalam acara Olveh Flagship. Singgih menjadi talenta kreatif di bidang desain. Pameran ketiga talenta kreatif ini juga diselenggarakan di Gedung Olveh hingga 10 Januari 2017.

Baca juga: Sofa Bao Ini Seharga Rumah, Kenapa Ya?

“Saya gelisah karena Indonesia kaya raya, punya material alam, punya kerajinan tangan, kekayaan budaya. Tetapi sudah mulai ditinggalkan waktu itu. Waktu saya kuliah di ITB, dan arahnya itu kan ke teknologi tinggi  dan industri. Apa yang kita punya kok malah ditinggalkan,” lanjut Singgih.

Berawal dari tugas akhir kuliah ini, Singgih bisa dikenal dunia lewat karya Radio Magno. Dia juga mendapatkan banyak penghargaan dan apresiasi.

Baca juga: Ikon Baru Arsitektur di Distrik Ginza

Tidak hanya itu, Singgih bisa ikut memberdayakan warga di desanya di Temanggung, Jawa Tengah untuk ikut memproduksi radio Magno sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Sekarang, Magno mempekerjakan lebih dari 40 warga desa sebagai pengrajin dan hanya menggunakan sekitar 80 pohon per tahun. Setiap pengrajin hanya memakai dua pohon per tahun. Sejak beroperasi, Magno hanya mengonsumsi material kayu kurang dari 0,5 hektar hutan.

Baca juga: Muhammad Thamrin, Arsitek yang Selektif Memilih Klien

By the way, mau memiliki Radio Magno ini untuk ditempatkan di rumah kamu, cek saja laman resminya magno-design.com.

Bagikan: 1524 kali